JAKARTA, KOMPAS.com - Derap langkah kuda berpadu dengan riuh lalu lintas di jantung Ibu Kota.
Di antara deru sepeda motor, mobil pribadi, dan bajaj yang melintas tanpa jeda, beberapa delman berhiaskan ornamen warna-warni tampak bergerak perlahan di sekitar kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Kereta kayu sederhana yang ditarik kuda itu dihiasi rangkaian bunga plastik berwarna merah, biru, kuning, dan hijau.
Ornamen tersebut membentuk kipas besar di bagian atap delman, mencolok di tengah dominasi warna abu-abu aspal dan beton kota.
Di dalam kereta, penumpang duduk berhadap-hadapan, sebagian berbincang santai, sebagian lain sibuk merekam momen dengan ponsel mereka.
Kusir delman mengendalikan kudanya dengan tenang. Mengenakan pakaian kasual, mereka tampak hafal benar irama lalu lintas di sekitarnya.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=delman, indepth, delman di monas, delman jakarta&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNS8xMDQyMTQ1MS9kZXJhcC1rdWRhLWRlbG1hbi15YW5nLW1hc2loLWJlcnRhaGFuLWRpLWthd2FzYW4tbW9uYXM=&q=Derap Kuda Delman yang Masih Bertahan di Kawasan Monas§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Sesekali, seorang pejalan kaki atau juru parkir informal membantu mengarahkan delman agar tidak bersinggungan dengan kendaraan lain.
Situasi lalu lintas yang padat itu mencerminkan kontras yang nyata antara tradisi dan modernitas yang saling berbagi ruang.
Di satu sisi, Monas dan gedung-gedung tinggi di sekitarnya merepresentasikan wajah Jakarta sebagai kota metropolitan.
Di sisi lain, delman menjadi simbol transportasi tradisional yang masih bertahan, sekaligus sumber penghidupan bagi para kusir yang menggantungkan hidup dari derap langkah kuda mereka.
Di depan pintu gerbang kawasan Monas jalan Merdeka Selatan, Gambir derap langkah kuda sesekali memecah kebisingan kendaraan bermotor.
Di sela-sela itu, Ahmad (52), kusir delman asal Tangerang, duduk santai di atas kereta kayunya yang penuh hiasan warna-warni.
Sejak pagi, ia menunggu penumpang yang ingin berkeliling kawasan Monas dengan delman.
“Kalau ramai, biasanya mulai siang sampai sore. Apalagi akhir pekan atau hari libur,” ujar Ahmad saat ditemui Kompas.com, sambil sesekali mengelus leher kudanya, Jumat (2/1/2026)
Ahmad telah menjadi kusir delman selama lebih dari 25 tahun. Pekerjaan itu ia warisi dari orangtuanya.
Baginya, menjadi kusir bukan sekadar profesi, melainkan bagian dari perjalanan hidup yang sudah menyatu dengan kesehariannya.
“Sekarang memang sudah jarang. Tapi di Monas ini masih ada yang cari, terutama wisatawan lokal. Anak-anak senang naik delman,” kata dia.
Baca juga: Masa Sulit Delman di Kota Bogor dan Upaya Kusir Menjaga Tradisi
Andalkan wisatawan MonasDalam sehari, ia tidak selalu mendapatkan penumpang karena hanya mengandalkan wisatawan yang berkunjung ke Monas.
“Kalau sepi, paling cuma dapat satu atau dua kali jalan. Kadang malah enggak dapat sama sekali,” ujar dia.
Menurut Ahmad, hal tersebut sudah menjadi aturan bagi para kusir delman, izin yang diberikan kepada mereka hanya untuk memutari kawasan luar Monas.
“Memang hanya diperbolehkan di area luar Monas, tidak boleh ke jalan raya lain karena sudah aturannya,” ucap dia.
Untuk sekali berkeliling kawasan Monas, Ahmad mematok tarif antara Rp 50.000 hingga Rp 100.000, tergantung jarak dan kesepakatan dengan penumpang.





