Pantau - Proses belajar mengajar di SMA Negeri 2 Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh, terpaksa dilakukan di tenda darurat akibat gedung sekolah masih tertimbun lumpur pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut.
Kepala SMA Negeri 2 Meureudu, M Diah, mengungkapkan bahwa lumpur setinggi dua meter masih menutupi area sekolah sehingga belum memungkinkan untuk digunakan.
"Mulai hari ini anak-anak bersekolah. Proses belajar mengajar berlangsung di tenda, termasuk aktivitas administrasi sekolah, juga di tenda dengan kondisi seadanya," ungkapnya.
Proses Belajar Berjalan di Tengah KeterbatasanSebagian besar siswa datang ke sekolah tanpa mengenakan seragam putih abu-abu dan tidak membawa perlengkapan belajar.
Menurut pihak sekolah, banyak siswa kehilangan seragam serta alat belajar akibat banjir yang menerjang rumah mereka.
"Hampir sebagian besar anak-anak kami tidak ada lagi seragam serta peralatan dan perlengkapan belajar. Semua hilang dan tidak dapat digunakan karena banjir," jelas M Diah.
Sebelum kegiatan belajar dimulai, seluruh siswa mengikuti upacara bendera yang dipimpin oleh Wakapolres Pidie Jaya, Kompol Iswahyudi.
Upacara tersebut juga diikuti oleh para guru dan tenaga pendidik lainnya sebagai bentuk semangat untuk memulai kembali aktivitas sekolah.
SMA Negeri 2 Meureudu tercatat memiliki 271 siswa dan 55 tenaga pendidik, dan hampir seluruhnya terdampak langsung oleh banjir bandang.
Siswa Tetap Semangat Meski dalam Kondisi SulitPihak sekolah tidak memaksakan siswa untuk hadir di hari pertama belajar mengajar karena memahami kondisi mereka yang juga menjadi korban bencana.
"Kami juga sudah menyampaikan kepada pelajar bahwa proses belajar mengajar mulai 5 Januari 2026. Mungkin, tidak semua anak-anak mengetahuinya karena alat komunikasi mereka juga rusak akibat banjir," kata M Diah.
Nasyila Fonna, siswi kelas 10A, hadir di sekolah setelah mendapatkan informasi dari gurunya.
Ia datang mengenakan pakaian biasa dan tanpa membawa perlengkapan belajar.
"Seragam maupun alat belajar semuanya tidak bisa digunakan lagi akibat banjir. Saya berharap aktivitas di sekolah bisa segera kembali berjalan normal seperti biasa karena tidak ingin tertinggal dalam mengikuti pembelajaran," ungkapnya.
Kegiatan belajar di tenda darurat ini menjadi simbol keteguhan semangat pelajar dan tenaga pendidik di tengah keterbatasan akibat bencana alam.



