Penulis: Ridho Dwi Putranto
TVRINews, Jakarta
Nilai tukar rupiah dibuka menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin, 5 Januari 2026, di tengah sentimen pasar global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp16.700 per dolar AS atau menguat 0,09 persen. Penguatan ini terjadi setelah pada penutupan perdagangan sebelumnya, Jumat, 2 Januari 2026, rupiah melemah 0,27 persen ke posisi Rp16.715 per dolar AS.
Dolar AS Lanjutkan Reli
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) justru masih melanjutkan tren penguatan. Pada pukul 09.00 WIB, DXY tercatat naik 0,14 persen ke level 98,567, menandai reli dolar selama lima hari perdagangan berturut-turut.
Penguatan dolar tersebut berpotensi menjadi tekanan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset safe haven.
Sentimen Geopolitik Tekan Pasar
Dari faktor eksternal, eskalasi geopolitik menjadi salah satu sentimen utama yang memengaruhi pergerakan pasar. Ketegangan meningkat setelah Amerika Serikat melancarkan aksi militer ke Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Kondisi tersebut mendorong investor global kembali memburu aset aman, khususnya dolar AS, sehingga menopang penguatan mata uang Negeri Paman Sam.
Dalam laporan riset Franklin Templeton, langkah militer AS dinilai dapat menambah ketidakpastian global dan memicu kekhawatiran terhadap memburuknya norma hubungan internasional. Persepsi bahwa AS bersedia bertindak unilateral dinilai berpotensi mendorong negara lain mengambil langkah serupa.
Data Inflasi Jadi Fokus Domestik
Sementara dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada rilis data inflasi Desember 2025 yang akan diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini.
Berdasarkan konsensus pasar yang dihimpun CNBC Indonesia dari 12 institusi, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) diperkirakan mencapai 0,62 persen secara bulanan (month to month/mtm) dan 2,94 persen secara tahunan (year on year/yoy). Adapun inflasi inti diproyeksikan berada di level 2,44 persen (yoy).
Rilis data tersebut diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah selanjutnya di tengah tekanan global yang masih kuat.
Editor: Redaksi TVRINews



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5315786/original/085108100_1755171257-20250808AA_BRI_Super_League_Persebaya_Surabaya_Vs_PSIM_Yogyakarta__32_of_75_.jpg)
