Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi pada Desember 2025 tembus mencapai 0,64% secara bulanan atau month to month (mtm). Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan terjadi kenaikan indeks harga konsumen atau IHK dari 109,22 pada November 2025 menjadi 109,92 pada Desember 2025.
BPS juga mencatat inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) dan tahun kalender atau year to date tercatat sebesar 2,92%. Inflasi secara tahunan dan inflasi tahun kalender akan sama karena yang dibandingkan adalah dua titik yang sama yakni IHK Desember 2025 dan IHK Desember 2024.
“Secara tahunan, inflasi 2025 lebih tinggi dari tahun 2024,” kata Pudji dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/1).
Inflasi pada Desember 2025 ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yakni 0,17% mtm. Inflasi pada akhir 2025 ini juga lebih tinggi dibandingkan
Pudji menjelaskan, kelompok penyumbang inflasi bulanan terbesar yaitu adalah kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Kelompok ini menyumbang inflasi sebesar 1,66% dan memberikan andil inflasi sebesar 0,48%.
Komoditas yang dominan mendorong inflasi pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau adalah cabai rawit dengan andil inflasi sebesar 0,17%. Kemudian daging ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,09% berikutnya adalah bawang merah dengan andil inflasi sebesar 0,07% dan ikan segar dengan andil inflasi sebesar 0,04% serta telur ayam ras dengan andil inflasi sebesar 0,03%.
“Komoditas lain yang juga memberikan andil inflasi adalah emas perhiasan dengan andil inflasi sebesar 0,07% kemudian bensin dengan andil inflasi sebesar 0,03% dan tarif angkutan udara dengan andil inflasi sebesar 0,02%,” ujar Pudji.
Selain itu, terdapat juga komoditas yang masih memberikan andil deflasi pada Desember 2025 yaitu cabai merah dengan andil deflasi sebesar 0,03%.
Faktor Musiman Dorong Inflasi Desember 2025
Sejumlah ekonom sebelumnya memproyeksikan inflasi pada akhir 2025 akan terkerek naik signifikan. Kenaikan indeks harga konsumen (IHK) ini dipengaruhi oleh faktor musiman yang selalu terjadi setiap akhir tahun.
“Ini sejalan dengan pola musiman permintaan yang lebih kuat pada akhir tahun,” kata Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede kepada Katadata.co.id, Jumat (2/1). Ia memproyeksikan, inflasi umum akan naik dari 0,17% menjadi 0,48% secara bulanan pada Desember 2025.
Inflasi inti juga diperkirakan akan naik dari 0,17% menjadi 0,28% secara bulanan pada Desember 2025. Lalu secara tahunan diperkirakan inflasi inti pada Desember 2025 mencapai 2,67%. Inflasi komponen bergejolak diperkirakan akan meningkat.
“Ini mencerminkan tekanan permintaan musiman serta gangguan pasokan akibat bencana alam di Aceh dan Sumatera serta kondisi cuaca ekstrem di beberapa pusat produksi,” ujarnya.
Kepala Ekonom Bank Central Asia David E Sumual memproyeksikan inflasi umum pada Desember 2025 mencapai 2,97% secara tahunan dan 0,69% secara bulanan. Sedangkan inflasi inti mencapai 2,39% secara tahunan dan 0,21% secara bulanan.
Inflasi pada akhir 2025 didorong oleh efek musiman harga bahan pangan. “Ini terutama daging, telur ayam, dan bawang,” ujar David.
Untuk inflasi inti, David mengatakan angkanya masih naik didorong harga emas yang melonjak signifikan. Di sisi lain, harga bahan bakar minyak alias BBM Pertamax yang naik juga mendorong administered price.


