Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada (UGM) mengambil peran aktif dalam penanganan bencana hidrometeorologi yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra, mulai dari fase tanggap darurat hingga pemulihan awal. Upaya ini dilakukan melalui konsolidasi sumber daya akademik, medis, sosial, dan teknis lintas fakultas serta kolaborasi dengan mitra kemanusiaan.
Sebagai langkah strategis, UGM membentuk Tim Penanggulangan Bencana Hidrometeorologi Sumatra yang bekerja melalui tujuh kelompok kerja lintas disiplin. Kelompok kerja tersebut mencakup bidang pemetaan spasial, kesehatan, dukungan psikososial, pendidikan, hunian, pemenuhan kebutuhan dasar, serta penguatan koordinasi kelembagaan.
Rektor UGM Ova Emilia mengatakan pembentukan tujuh kelompok kerja bertujuan memastikan respons bencana berjalan terkoordinasi, berbasis data, dan sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Pendekatan ini kami rancang agar setiap intervensi saling melengkapi dan berbasis bukti ilmiah,” ujar Ova Emilia dalam keterangannya, Senin, 5 Januari 2025.
Salah satu capaian utama UGM berasal dari kerja cepat tim pemetaan dan analisis spasial kebencanaan. Tim ini telah bekerja sejak satu pekan pascabencana dan menuntaskan seluruh target rapid mapping.
Produk yang dihasilkan meliputi peta area terdampak banjir, peta perubahan sebelum dan sesudah bencana, peta aksesibilitas jaringan jalan, peta fasilitas kesehatan dan shelter, peta permukiman terdampak, hingga peta kebutuhan masyarakat. Seluruh peta tersebut menjadi rujukan utama dalam perencanaan respons dan pemulihan.
Basis data spasial hasil kerja UGM dikonsolidasikan melalui geoportal dan dikelola oleh Biro Manajemen Strategis (BMS) UGM dengan pengendalian hak cipta dan akses data. Data tersebut juga disampaikan kepada Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk keperluan publikasi dan pemanfaatan lanjutan, serta terhubung langsung dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) guna mendukung penyaluran bantuan berbasis data.
Di sektor kesehatan, UGM secara berkala mengirim tim medis ke Aceh dan wilayah terdampak lainnya di Sumatra melalui jejaring Academic Health System (AHS) UGM. Tim melibatkan tenaga kesehatan lintas disiplin dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan, Rumah Sakit Akademik, serta jejaring layanan kesehatan akademik UGM.
Baca Juga :
Korban Meninggal Bencana di Sumatra Bertambah Jadi 1.177 OrangLayanan yang diberikan mencakup pemeriksaan kesehatan, pengobatan rawat jalan dan darurat, layanan spesialis, hingga mobile clinic dan home visit. Berdasarkan data AHS UGM hingga Kamis, 2 Januari 2026, tim telah diturunkan dalam tujuh batch pelayanan di Aceh Utara dan Bener Meriah dengan rata-rata 17 tenaga kesehatan per batch.
Selama masa tugas tujuh hari per batch, layanan kesehatan menjangkau sedikitnya 4.127 warga terdampak, dengan cakupan 50 hingga 100 pasien per hari. Pelayanan dilakukan di sejumlah lokasi, di antaranya pos pengungsian, RSUD Muchtar Hasbi, sembilan puskesmas terdampak di Aceh Utara, serta tiga puskesmas terdampak di Bener Meriah.
Selain layanan klinis, tim AHS UGM juga mendukung penguatan sistem kesehatan melalui perbaikan sarana penunjang seperti listrik dan genset, sanitasi, serta koordinasi logistik medis dan Emergency Medical Team (EMT).
Dukungan psikososial turut menjadi bagian penting dari respons UGM. Melalui tim psikologi dan relawan terlatih, UGM memberikan pendampingan dan layanan trauma healing bagi warga terdampak, terutama anak-anak dan kelompok rentan. Mahasiswa dilibatkan melalui pelatihan khusus untuk mendukung pemulihan mental masyarakat secara bertanggung jawab.
Pada pemenuhan kebutuhan air bersih, UGM bekerja sama dengan Universitas Teuku Umar dan Politeknik Negeri Lhokseumawe memasang sistem penjernih air bertenaga surya di wilayah terdampak banjir. Sistem ini memiliki kapasitas 500 hingga 1.000 galon per hari atau setara 1.900 sampai 3.800 liter, dan diprioritaskan untuk posko pengungsian serta fasilitas kesehatan.
Pemasangan awal dilakukan di RSUD Bener Meriah dan akan dilanjutkan ke Posko Pengungsian Pantan Kemuning, Puskesmas Mesidah, serta Polindes di wilayah Simpur berdasarkan hasil asesmen lapangan.
Di sektor hunian, UGM menyiapkan desain hunian sementara (huntara) dan hunian tetap Rumah Geunira yang adaptif terhadap risiko kebencanaan. Implementasi dilakukan melalui pembangunan 100 unit huntara berukuran 6 x 6 meter di Desa Geudumbak, Aceh Utara, bekerja sama dengan Rumah Zakat.
Pendirian unit huntara pertama dilakukan pada Sabtu, 3 Januari 2025, sebagai penanda dimulainya kegiatan pembangunan di lapangan. Program ini dirancang berkelanjutan dan berpotensi dikembangkan sesuai kebutuhan warga.
Ketua Tim UGM Ashar Saputra mengatakan desain hunian dikembangkan agar mudah dipahami dan dapat dibangun secara mandiri oleh warga dengan material lokal.
“Rumah papan berukuran 6 x 6 meter memungkinkan proses pembangunan berjalan cepat, efisien, dan aman bagi penyintas,” kata Ashar.
UGM menegaskan akan terus membuka ruang kolaborasi lintas sektor bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, BRIN, BNPB, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Kehutanan, Badan Informasi Geospasial, Kafegama, Kagama, serta Rumah Zakat.
Kolaborasi ini diharapkan memperkuat integrasi data, kebijakan, dan aksi kemanusiaan dalam membangun sistem penanggulangan bencana nasional yang tangguh dan berkelanjutan.




