Oleh: Andi Zulfajrin Syam
(Aktivis Disabilitas)
Membaca tidak harus dengan mata. Membaca tidak selalu harus berasal dari tulisan pena yang bertinta.
Sebuah titik kecil dengan pola-pola tertentu pun dapat menjadi tulisan bermakna, dan membacanya tidak harus mengandalkan penglihatan. Itulah tulisan Braille, yang sejak 2018 ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Braille Sedunia dan mulai diperingati sejak 2019.
Tulisan ini menjadi lambang, identitas, dan salah satu cara difabel netra mengakses informasi. Kita tidak perlu membahas panjang soal sejarah 4 Januari ini—meski itu penting—karena bagi penulis yang lebih penting untuk dibahas adalah eksistensi huruf timbul tersebut.
Apakah huruf ini masih relevan bagi difabel netra, ataukah huruf itu telah usang dimakan waktu dan harus ditinggalkan?
Untuk menjawabnya, penulis mewawancarai salah satu guru yang juga difabel netra, Sujono Said, S.H., Gr., atau lebih akrab dipanggil Jono, pada 4 Januari 2026. Ia adalah salah satu guru di SLB Kusuma Bangsa Kendari.
Bagi Jono, Braille tetap sangat penting di era sekarang karena ada beberapa hal yang masih memerlukan Braille—misalnya ketika kita mengaji.
Selain itu, Braille juga menjadi identitas kita sebagai difabel netra. Namun yang miris adalah banyak generasi Z yang pengetahuan dan kemampuan Braillenya sangat minim.
Di akhir wawancara, Jono memberikan imbauan: “Teman-teman Gen Z, jangan melupakan identitas sebagai tunanetra, yakni Braille. Teman-teman sesama netra yang menguasai teknologi di Indonesia atau bahkan di dunia, mereka pastinya juga berawal sebagai pengguna huruf Braille.”
Jadi, selama kita adalah difabel netra, Braille akan tetap penting. Braille bukan hanya soal huruf timbul semata, melainkan lambang kemandirian.
Pernahkah kita berpikir, andai di masa lalu tidak ada orang yang menemukan sistem huruf timbul bagi difabel netra ini—entahlah apa yang akan terjadi.
Sayangnya, dari pengamatan penulis, ada beberapa SLB yang tugasnya tidak lagi menggunakan huruf Braille, melainkan mengandalkan file digital seperti dokumen.doc dan sejenisnya.
Memang miris, tetapi itulah kenyataan. Mengherankan apabila setingkat SLB bagi difabel netra pun minim penggunaan Braille; namun itulah faktanya.
Saran penulis: jangan biarkan kecanggihan teknologi membuat kita lupa akan jati diri sebagai difabel netra. Sampai kapanpun huruf Braille akan tetap relevan dan menjadi penanda bahwa difabel netra mempunyai cara membaca dan menulis yang berbeda, namun menghasilkan kesetaraan.
(*)




