FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pro kontra tentang keaslian ijazah dan skripsi Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) tak kunjung mereda. Salah satu teman seangkatan Joko Widodo saat kuliah di Fakultas Kehutanan UGM, Frono Jiwo mengaku prihatin dengan informasi yang beredar di media sosial.
Frono bersaksi dirinya merupakan teman satu angkatan dengan Jokowi. Keduanya sama-sama masuk kuliah tahun 1980 dan wisuda bersamaan di tahun 1985.
“Kami seangkatan dengan Pak Jokowi, masuk tahun 1980,” ungkap Frono dalam keterangannya dikutip pada Senin (5/1/2026).
Selama menjadi mahasiswa, kata Frono, tipikal mantan wali kota Solo itu termasuk orang yang pendiam. Namun saat kumpul dengan temannya, Jokowi memiliki selera humor yang tinggi karena sering nyeletuk candaan yang mengundang tawa teman dekatnya.
“Pak Jokowi orangnya pendiam, tapi kalau ngobrol selalu kocak, apa yang jadi pembicaraan selalu mengundang tawa,” tuturnya.
Tidak hanya kuliah dan lulus bareng, Frono dan Joko Widodo juga melamar pekerjaan di perusahaan yang sama di Aceh, PT. Kertas Kraft Aceh (Persero).
Namun menurut ingatan Frono, Jokowi hanya bekerja selama dua tahun saja karena sang istri, Iriana, tidak betah tinggal di tengah area hutan pinus yang berada di wilayah sekitaran Aceh Tengah.
“Kami bertiga, Pak Jokowi, saya dan almarhum Hari Mulyono (adik ipar Jokowi) bareng-bareng masuk kerja. Setelah Pak Jokowi menikah, Ibu Iriana kayaknya tidak betah karena basecamp berada di tengah hutan pinus di Aceh Tengah, Pak Jokowi resign dulu, tinggal saya dan almarhum Hari Mulyono yang masih bertahan,” kenangnya.
Frono juga menyebut Jokowi ketika mahasiswa memiliki hobi naik Gunung. Bahkan beberapa gunung di Jawa dan Sumatera pernah ia daki. Hanya saja, Frono mengaku hanya sesekali saja naik gunung.
“Pak Jokowi sering naik gunung, tapi saya jarang dan seingat saya, saya tidak pernah bareng naik gunung sama Pak Jokowi,” ucapnya.
Soal ijazah, Frono mengaku tampilan ijazahnya sama dengan Joko Widodo. Menggunakan font yang sama, ditandatangani oleh Rektor Prof. T Jacob dan Dekan Prof Soenardi Prawirohatmodjo. Hanya saja yang berbeda dari nomor kelulusan.
“Ijazah saya bisa dibandingkan dengan ijazahnya Pak Jokowi. Semua sama kecuali nomor kelulusan ijazah dari Universitas dan Fakultas,” ujarnya.
Sedangkan soal skripsi, Frono bercerita seluruh mahasiswa satu angkatannya menulis skripsi menggunakan mesin ketik. Sedangkan sampul, lembar pengesahan dan penjilidan hampir semuanya dilakukan di percetakan.
“Pembuatan skripsi semua pakai mesin ketik, walaupun sudah ada komputer tapi jarang sekali yang bisa. Kalau sampul, lembar pengesahan, penjilidan skripsi semua di percetakan,” katanya. (Pram/fajar)



