Menulis di Tahun 2026: Melawan Logika ‘Klik’ dan ‘Trending’

fajar.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Catatan tentang Realitas Kepenulisan dan Ketahanan Gagasan

Oleh: Muliadi Saleh, Esais Reflektif dan Arsitek Kesadaran Sosial

Tahun 2026 menandai sebuah zaman ketika kata-kata lahir lebih cepat daripada sempat direnungi. Dalam satu menit, ribuan artikel, unggahan, opini, dan narasi personal diproduksi dan dilempar ke ruang digital. Data global menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen konten tertulis kini tidak lagi dibaca tuntas. Ia hanya dipindai, dilompati, lalu dilupakan. Algoritma bekerja lebih rajin daripada nurani. Ia memilih yang cepat viral, bukan yang paling bermakna.

Di Indonesia, realitas kepenulisan bergerak dalam pusaran yang sama. Jumlah penulis meningkat tajam, platform publikasi kian terbuka, namun paradoks pun lahir.  Semakin banyak tulisan, semakin sedikit yang benar-benar tinggal di benak pembaca. Tulisan-tulisan faktual kalah oleh sensasi, refleksi panjang terpinggirkan oleh potongan kalimat provokatif, dan esai serius harus berjuang keras melawan logika “klik” dan “trending”.

Namun sejarah literasi selalu mengajarkan satu hal mendasar bahwa tidak semua tulisan ditakdirkan untuk bertahan, dan tidak semua yang bertahan harus ramai. Tulisan yang hidup lintas waktu bukanlah yang paling sering dibagikan, melainkan yang paling jujur menggali denyut zaman. Ia tidak sekadar menjawab apa yang sedang dibicarakan, tetapi merumuskan apa yang sedang dipikirkan—bahkan yang belum berani diucapkan.

Tulisan yang bertahan di tahun 2026 adalah tulisan yang memiliki kedalaman makna, keteguhan nilai, dan kepekaan sosial. Ia berpijak pada data, namun bernapas dengan empati. Ia rasional, tetapi tidak kehilangan getar kemanusiaan. Dalam banjir kecerdasan buatan yang mampu meniru struktur bahasa manusia, justru keaslian pengalaman, kejujuran refleksi, dan keberanian berpihak pada nurani menjadi pembeda utama.

Kita memasuki era ketika mesin bisa menulis cepat, tetapi tidak bisa merasakan duka dan  luka sosial. Mesin mampu merangkum laporan, tetapi tidak bisa merasakan kegelisahan petani, kecemasan ibu kota, atau keheningan desa yang ditinggal generasi mudanya. Di sinilah peran penulis manusia menemukan kembali relevansinya. Penulis yang bukan sebagai produsen kata, melainkan sebagai penghasil makna dan kesadaran.

Menyikapi realitas ini, penulis di tahun 2026 dituntut untuk melakukan pergeseran sikap. Menulis tidak lagi cukup hanya cerdas, tetapi harus bertanggung jawab. Tidak cukup hanya benar, tetapi harus bermakna. Penulis perlu melambat di tengah arus percepatan. Ia harus memberi jarak antara peristiwa dan penilaian, antara emosi dan kesimpulan.

Penulis juga harus berani keluar dari menara gading personal. Tulisan yang bertahan adalah yang mampu menjembatani ilmu dengan kehidupan sehari-hari, menghubungkan data dengan rasa, dan menjadikan esai bukan sekadar opini, tetapi ruang dialog publik. Di sinilah esai ilmiah-populer menemukan rumahnya sebagai medium yang mengedukasi tanpa menggurui, mencerahkan tanpa merendahkan.

Pada akhirnya, menulis di tahun 2026 adalah soal pilihan etik. Apakah kita menulis untuk disukai algoritma, atau untuk menyapa akal sehat pembaca? Apakah kita mengejar kecepatan, atau merawat ketepatan? Apakah kita sekadar menambah kebisingan, atau menghadirkan kejernihan?

Sejarah akan memilih dengan caranya sendiri. Dan seperti biasa, yang bertahan bukanlah tulisan yang paling keras suaranya, melainkan yang paling jujur niatnya. Dalam dunia yang semakin riuh, tulisan yang tenang, bernas, dan berpihak pada kemanusiaan justru akan menemukan jalannya—pelan, tapi pasti.

Karena menulis, pada akhirnya, bukan tentang hari ini. Ia adalah ikhtiar kecil untuk menyalakan kesadaran, agar masa depan tidak kehilangan arah. (*)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
ATH Lagi! IHSG Hari Ini (6/1) Ditutup Menguat ke Level 8.933
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Link dan Cara Daftar Perayaan Natal Jakarta 2025
• 13 jam lalukompas.com
thumb
Retret Kabinet Digelar di Hambalang, Mensesneg Ungkap Alasannya
• 9 jam lalutvrinews.com
thumb
Australia Dikepung Risiko Kebakaran Lahan Seperti di Los Angeles
• 14 jam lalubisnis.com
thumb
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 6 Januari 2026: Galeri24 dan UBS Kompak Naik, Cek Daftarnya
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.