CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Masyarakat perlu waspada terkait peningkatan kasus influenza penyebab infeksi saluran pernafasan akut yang viral dengan istilah "superflu".
Kasus influenza A subclade K yang dikenal dengan superflu lebih agresif sehingga lebih cepat menular dan menyebabkan gejala yang lebih berat. Terutama pada lansia, anak, dan orang dengan penyakit komorbid.
Dikutip dari berbagai sumber, ada beberapa gejala super flu yang patut diwaspadai yakni, demam tinggi antara 39 sampai 41 derajat Celcius.
Demam tinggi tersebut disertai nyeri otot hebat, lemas, sakit kepala berat, sakit tenggorokan, hingga batuk kering.
Gejala superflu lebih berat dibanding flu dari yang biasa dialami seperti hidung meler, sakit tenggorokan ringan.
Diberitakan sebelumnya, Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Nastiti Kaswandani Sp.A(K) menjelaskan kasus ini bisa berbahaya karena penularannya melalui droplet atau ludah dari batuk atau bersin serta kontak langsung dengan cairan nafas orang yang terinfeksi.
“Nah masalahnya mungkin salah satu jadi penyebab istilah ‘superflu’ ini karena penularannya cepat, jadi satu orang itu bisa menulari 2-3 orang sekitarnya, diperkirakan varian ini mungkin bisa menulari lebih tapi belum ada penelitiannya,” kata Nastiti, belum lama ini, dikutip dari ANTARA.
Superflu merupakan bagian virus influenza H3N2 dengan varian subclade K yang dicurigai menjadi penyebab naiknya kasus influenza di musim dingin antara Oktober hingga Januari atau Februari.
Influenza bisa dideteksi dengan rapid test, dengan pemeriksaan swab, namun untuk mendeteksi H3N2 atau superflu dengan variannya subclade K harus dilakukan genome sequencing di laboratorium yang canggih seperti saat Covid.
Gejala influenza H3N2 yang mirip dengan influenza A bisa berisiko tinggi pada kelompok balita dan lansia karena menimbulkan keparahan, kelompok risiko lainnya yakni pasien dengan komorbiditas atau penyakit kronik, penyakit jantung bawaan pada anak dan kardiovaskular pada dewasa, penderita kanker, dan pasien dengan obat yang menekan imunitas.
Karenanya, langkah pencegahan menjadi prioritas utama untuk meminimalkan risiko penyebaran yang lebih luas di masyarakat.
Dr. Nastiti juga menekankan bahwa imunisasi tahunan tetap menjadi langkah paling efektif untuk menekan risiko penularan.
Selain itu, masyarakat perlu mengutamakan kebiasaan hidup bersih dan sehat, seperti rutin cuci tangan pakai sabun, pakai masker saat sedang flu atau batuk, dan pola makan yang teratur.




