Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto meyakini eskalasi geopolitik yang dipicu penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro oleh Amerika Serikat (AS) tidak akan berdampak signifikan ke perekonomian dunia maupun domestik.
Airlangga menjelaskan bahwa dampak langsung yang akan terasa yaitu kenaikan harga minyak dunia. Kendati demikian, dia meyakini efeknya tidak terlalu mengkhawatirkan.
"Nanti dampak pasti ke harga minyak. Tapi sekarang kan dampaknya masih terbatas," kata Airlangga di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (5/1/20225).
Ketika ditanya mengenai potensi dampak rambatan ke perekonomian nasional, terutama kenaikan imbal hasil (yield) surat berharga negara (SBN) akibat ekspektasi peningkatan ketidakpastian global, politisi Partai Golkar itu juga mengaku tidak panik. "Sementara belum [ada efeknya ke yield SBN]," ucap Airlangga.
Sementara itu, Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David Sumual menilai konflik AS-Venezuela berpotensi memantik sentimen negatif, terutama pada pergerakan harga minyak mentah dunia. Pasalnya, Venezuela merupakan salah satu negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia dan masuk dalam jajaran 15 besar produsen global.
"Yang paling dikhawatirkan pengaruhnya ke harga minyak. Jika ada sentimen negatif dan harga melonjak, ekspektasi inflasi ke depan juga akan meningkat," ujarnya kepada Bisnis, Minggu (4/1/2026).
Baca Juga
- Purbaya Blak-blakan soal Dampak Serangan AS ke Venezuela, Ekonomi RI Aman?
- Airlangga: Pemerintah Monitor Harga Minyak Dunia Usai AS Serang Venezuela
- Daftar 10 Orang Terkaya di Venezuela Tahun 2026, Juan Carlos Escotet hingga Nicolas Maduro
David menjelaskan, kenaikan ekspektasi inflasi global memiliki efek domino terhadap kebijakan moneter. Perkembangan tersebut, sambungnya, dapat mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury sebagai cerminan risiko yang meningkat.
Masalahnya, jika yield obligasi AS merangkak naik maka dampaknya akan merambat ke pasar keuangan domestik. "Kalau yield obligasi AS meningkat, bisa berpengaruh ke emerging market, termasuk ke yield SBN [Surat Berharga Negara] kita juga," tambahnya.
Selain sisi pasar obligasi, David juga menyoroti risiko terhadap nilai tukar rupiah dan inflasi domestik. Mengingat posisi Indonesia sebagai net importir minyak dan bahan bakar minyak (BBM), lonjakan harga minyak global akan memberatkan neraca pembayaran.
"Jadi kalau harga petroleum meningkat, itu akan terpengaruh ke kurs [Rupiah]. Kekhawatirannya ke kurs dan inflasi kita juga tentunya," jelas David.
Kendati demikian, David melihat dampak guncangan ini kemungkinan tidak akan berlangsung lama atau bersifat temporer (knee-jerk reaction). Alasannya, fundamental pasar minyak saat ini cenderung mengalami kelebihan pasokan (oversupply) di tengah permintaan global yang melambat.
Dia membandingkan situasi ini dengan konflik Iran-Israel pada Mei 2025 yang memicu lonjakan harga, namun hanya bersifat sementara.
"Untungnya permintaan dunia memang agak melambat. Kalau saya lihat harusnya dampaknya tidak terlampau besar karena dari sisi demand tidak terlampau kuat," ungkapnya.
Meski begitu, pelaku pasar disarankan untuk tetap waspada menanti pembukaan pasar pada Senin (5/1/2026). Reaksi pasar terhadap insiden penangkapan tersebut akan menjadi indikator utama arah pergerakan ekonomi dalam jangka pendek.




