Mayoritas Kasus ”Super Flu” di Indonesia Ditemukan pada Usia Anak

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS — Sebagian besar kasus super flu atau influenza tipe A subklad K di Indonesia ditemukan pada usia anak. Meski belum dipastikan menyebabkan keparahan, kewaspadaan tetap diperlukan. Upaya pencegahan seperti penggunaan masker, memperkuat imunitas tubuh, serta pemberian imunisasi perlu dijalankan.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan sebanyak 62 kasus super flu telah ditemukan di Indonesia. Dari jumlah itu, mayoritas ditemukan pada usia anak dengan 35 persen di antaranya ditemukan pada usia 1-10 tahun dan 19,4 persen pada usia 11-20 tahun.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Indonesia (PP IDAI) Piprim Basarah Yanuarso, di Jakarta, pada Senin (5/1/2025), mengutarakan, kewaspadaan pada penularan influenza bisa dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih sehat. Contohnya, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menerapkan etika batuk atau bersin.

Selain itu, lanjut Piprim, pastikan untuk mencukupi kebutuhan asupan makanan yang kaya nutrisi, terutama protein hewani.

Baca JugaMengenal Superflu yang Mudah Menular

“ Imunisasi influenza juga bisa diberikan terutama pada yang memiliki komorbid (penyakit penyerta). Istirahat yang cukup, jangan kurang tidur dan pastikan tetap aktif berolahraga,” tuturnya.

KOMPAS.ID

Influenza A merupakan jenis influenza yang patut diwaspadai, khususnya pada anak dengan penyakit penyerta atau komorbid. Penularan influenza pada anak dengan komorbid bisa berakibat fatal misalnya pada anak dengan asma, penyakit paru-paru kronis, penyakit jantung bawaan, serta obesitas, diabetes, dan hipertensi.

Kewaspadaan pada penularan influenza pada dasarnya dapat dilakukan dengan menerapkan perilaku hidup bersih sehat seperti mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menerapkan etika batuk atau bersin yang baik.

Anak-anak dengan penyakit penyerta tersebut amat disarankan untuk mendapatkan vaksin influenza. Vaksin tersebut dinilai efektif untuk mencegah penularan ataupun tingkat keparahan. “Anak-anak dengan komorbid apabila tertular influenza A bisa berakibat lebih serius dibandingkan anak-anak tanpa komorbid,” ujarnya.

Dokter spesialis anak subspesialis Ilmu Kesehatan Anak Respirologi Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Cipto Mangunkusumo Nastiti Kaswandani menuturkan, pada anak-anak yang sudah tertular influenza, penanganan bisa dilakukan sesuai dengan gejala.

Jika gejalanya ringan, perawatan cukup dilakukan di rumah dengan banyak minum air putih, istirahat cukup, dan konsumsi makanan bergizi. “Tapi kalau ada tanda bahaya seperti sesak napas, tak mau minum, tidak bisa minum, muntah-muntah, dehidrasi, maka harus segera dibawa ke rumah sakit,” ujarnya.

Pemantauan

Saat dihubungi secara terpisah, Direktur Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Prima Yosephine menyatakan, penyakit influenza biasanya akan meningkat saat musim dingin atau musim penghujan. Penularannya akan semakin cepat seiring dengan bertambahnya mobilisasi masyarakat.

Saat ini hasil surveilans yang dilakukan di Indonesia menunjukkan bahwa influenza A paling banyak ditemukan. Setidaknya 62 kasus influenza A subklad K sudah ditemukan. Kasus-kasus yang ditemukan tersebut sudah dilaporkan di delapan provinsi.

Baca Juga62 Kasus Superflu Ditemukan di Indonesia, Kemenkes: Kondisi Masih Terkendali

Kasus subklad K terbanyak dilaporkan di Jawa Timur (23 kasus), Kalimantan Selatan (18 kasus), Jawa Barat (10 kasus), Sumatera Selatan (5 kasus), dan Sumatera Utara (3 kasus). Kasus lainnya dilaporkan pula di Jawa Tengah, Sulawesi Utara, dan DI Yogyakarta dengan masing-masing daerah sebanyak satu kasus.

Prima menyampaikan, berbagai upaya telah dilakukan untuk merespons adanya influenza A subklad K yang dikenal dengan super flu. Kementerian Kesehatan memperkuat pemantauan surveilans genomik serta ketepatan dalam pelayanan dan tatalaksana kasus.

Masyarakat juga diimbau untuk diimunisasi influenza secara mandiri, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti warga lanjut usia, anak-anak, dan orang dengan komorbid.

“ Sebagai bentuk kewaspadaan dini, pesan-pesan kunci seperti menjaga pola makan yang bergizi, dan tetap perilaku hidup bersih dan sehat adalah jalan utama dalam menjaga imunitas individu,” kata Prima.

Khusus untuk anak-anak, penanggung jawab sekolah atau kepala sekolah diimbau agar lebih waspada terhadap gejala penyakit pada anak-anak. Pencegahan penularan penyakit di sekolah perlu diperkuat. Jika ada peningkatan kasus penularan pada anak-anak di sekolah, segera menginformasikannya ke puskesmas terdekat.

Adapun gejala-gejala penyakit yang patut diwaspadai, antara lain demam, batuk, nyeri tenggorokan, pilek dan hidung berair, malaise atau lesu, sakit kepala, serta myalgia atau nyeri otot. Penanganan lebih lanjut ke rumah sakit diperlukan jika gejala yang dialami semakin berat.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Geger Video Mesum Pasangan Misterius di Pos Polisi Tulungagung, Pelaku Diburu
• 16 jam lalusuara.com
thumb
John Herdman Resmi Jadi Pelatih, Ini Sembilan Pemain Keturunan yang Bakal Bergabung Perkuat Timnas Indonesia
• 23 jam lalufajar.co.id
thumb
Banjir Insentif Sektor Padat Karya, Efektif Dongkrak Ekonomi?
• 7 jam lalubisnis.com
thumb
Prediksi Skor Manchester City vs Brighton: Head to Head, Susunan Pemain
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
Devano Mantap Gunakan Nama Panggung Lebih Simpel, Iis Dahlia Akui Sempat Alami Hal yang Sama
• 19 jam lalugrid.id
Berhasil disimpan.