Menteri Agama Nasaruddin Umar mengatakan, Kementerian Agama telah menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai Rp138 miliar bagi masyarakat terdampak banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Nasaruddin Umar menyebut, bantuan tersebut tidak hanya bersifat material, tetapi juga mencakup pendampingan sosial dan penguatan spiritual bagi masyarakat yang terdampak.
Bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk tanggung jawab negara dalam menjamin perlindungan sosial dan pemulihan kehidupan warga pascabencana.
“Bantuan ini merupakan wujud kehadiran negara dan bentuk tanggung jawab kemanusiaan Kementerian Agama terhadap saudara-saudara kita yang sedang diuji oleh bencana,” kata Nasaruddin dalam acara Tasyakuran Hari Amal Bakti Nasional ke-80 Kementerian Agama RI yang digelar di Auditorium HM Rasjidi, Kantor Kementerian Agama RI, Jakarta, Senin (5/1).
Nasaruddin menjelaskan, bantuan senilai Rp 138 miliar tersebut disalurkan melalui berbagai skema layanan Kementerian Agama, mulai dari bantuan kebutuhan dasar, dukungan bagi rumah ibadah dan lembaga keagamaan yang terdampak, hingga pemulihan sarana pendidikan keagamaan.
Selain itu, Kemenag memberikan pendampingan psikososial dan layanan keagamaan bagi korban bencana, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Imam Besar Masjid Istiqlal ini mengatakan, bencana tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi sosial dan spiritual masyarakat.
"Pengadaan-pengadaan seperti alat-alat tulis-menulis yang sedang kita garap karena tidak bisa kita habiskan untuk sesuatu dalam waktu dekat ini. Selain proses keuangan, juga ada proses di masyarakat karena tanahnya masih basah, masih banjir, kemudian juga jembatannya belum tersambung sebagian," jelas dia.
"Tapi Alhamdulillah, sekarang ini rata-rata jembatan sudah tersambung dan demikian sudah ada waktu dan kesempatan untuk melanjutkan renovasi-renovasi rumah-rumah ibadah, madrasah, dan pondok pesantren yang merupakan tanggung jawab kita," tambah dia.
Oleh karena itu, peran Kementerian Agama sangat penting dalam memastikan masyarakat tetap memiliki kekuatan mental dan keimanan di tengah situasi sulit.
"Kami menyadari bahwa bencana bukan hanya soal kerusakan bangunan. Yang lebih berat adalah bagaimana memulihkan harapan, ketenangan batin, dan semangat hidup masyarakat. Di sinilah peran pelayanan keagamaan harus hadir,” ujarnya.
Menag juga mengapresiasi partisipasi seluruh jajaran Kementerian Agama di daerah yang bergerak cepat merespons kondisi darurat di wilayah terdampak. Ia menilai, sinergi antara pusat dan daerah menjadi faktor penting dalam memastikan bantuan dapat tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Kementerian Agama tidak mungkin bekerja sendiri. Kami bergerak bersama pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat setempat agar bantuan ini benar-benar dirasakan manfaatnya,” ujarnya.
Selain bantuan langsung kepada korban bencana, Menag menyinggung kontribusi Dharma Wanita Persatuan Kementerian Agama yang menggelar aksi donor darah dalam rangkaian peringatan HAB ke-80.
Dari kegiatan tersebut, hampir 300 kantong darah dikumpulkan dan disiapkan untuk membantu rumah sakit, termasuk di wilayah terdampak bencana di Sumatera.
"Ini adalah contoh nyata bahwa kepedulian sosial harus diwujudkan dalam aksi, bukan sekadar wacana. Setetes darah yang disumbangkan hari ini bisa menjadi harapan hidup bagi sesama,” kata Umar.
Nasaruddin menegaskan, penyaluran bantuan kemanusiaan tersebut sejalan dengan tema Hari Amal Bakti ke-80 Kementerian Agama, “Umat Rukun, Indonesia Damai dan Maju.”
Menurutnya, kerukunan dan solidaritas sosial menjadi fondasi utama dalam menghadapi situasi krisis dan bencana.
"Kerukunan bukan hanya soal hidup berdampingan, tetapi juga tentang saling menolong ketika ada saudara kita yang tertimpa musibah. Dari situlah Indonesia yang damai dan maju dapat kita bangun,” tuturnya.
Nasaruddin memastikan, Kemenag akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap penyaluran bantuan di wilayah Sumatera, serta membuka ruang koordinasi dengan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan pascabencana.




