Adu Daya Tarik Reksa Dana Pendapatan Tetap Moncer vs SBN Ritel pada 2026

bisnis.com
2 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Reksa dana pendapatan tetap (RDPT) menunjukkan performa yang kinclong pada 2025 dengan kenaikan dana kelolaan dan kenaikan imbal hasil. Instumen berbasis fixed income itu beradu daya tarik dengan Surat Berharga Negara (SBN) ritel pada 2026.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana pada produk RDPT tercatat bertumbuh secara konsisten sepanjang 2025. Pertumbuhannya bahkan terjadi secara bulanan.

Total AUM RDPT per Desember 2025 tercatat senilai Rp244,44 triliun. Realisasi itu mencerminkan kenaikan hingga 66,93% year-on-year (YoY) dari realisasi AUM Rp146,43 triliun pada Desember 2024.

Berdasarkan data tersebut, dana kelolaan atau AUM RDPT mulai menanjak secara signifikan sejak Juli 2025. Hal itu terjadi lantaran pada periode Juli–Desember 2025, Bank Indonesia secara aktif memangkas suku bunga dari posisi 5,50% pada Juni hingga 4,75% pada akhir tahun.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Data Bareksa menunjukkan, lima reksa dana dengan imbal hasil tertinggi bahkan mampu menawarkan return lebih dari 10% secara tahunan. Sucorinvest Bond Fund, misalnya, telah mengalami kenaikan 12,92% selama 1 tahun terakhir. Begitu juga dengan Reksa Dana Allianz Fixed Income Fund 2 yang telah mengalami kenaikan 11,19% pada rentang waktu yang sama.

Baca Juga : Kuda-Kuda Manajer Investasi di 2026 Usai AUM Reksa Dana Cetak Rekor

Jika disimulasikan, investor yang mengalokasikan dananya ke Sucorinvest Bond Fund sebesar Rp10 juta sebagai investasi awal dan Rp1 juta setiap bulannya, berpotensi mendapatkan imbal hasil hingga Rp1,98 juta per tahun. Adapun produk ini memberikan eksposur sebesar 87,37% terhadap obligasi/sukuk negara dan hanya 3,21% surat utang korporasi.

Alhasil, dua produk ritel ini akan secara tidak langsung bersaing untuk mendapatkan minat investor pada 2026. Di tengah tren pelonggaran moneter, kalangan analis menilai bahwa imbal hasil yang ditawarkan SBN Ritel akan cenderung lebih kecil, tetapi ketidakpastian geopolitik menguntungkan posisi surat utang negara ini.

Hal itu tampak dari imbal hasil yang ditawarkan SBN Ritel pada 2025. Teranyar, DJPPR menerbitkan Sukuk Tabungan ST015 dengan imbal hasil mengambang 5,20% dan 5,45% per tahun. Imbal hasil itu sekaligus menjadi yang terendah di setiap tenor sepanjang 2025.

Artinya, tanpa memperhitungkan pajak, investor yang mengalokasikan Rp10 juta pada ST015T2, akan mendapatkan imbal hasil senilai Rp512.000 setiap tahunnya, dengan asumsi suku bunga tidak berubah.

“Ya bisa saja ada switching. Jadi ada perubahan dari [reksa dana] pendapatan tetap atau sebaliknya. Tapi dari konteks saat ini, harga reksa dana pendapatan tetap dorongannya lebih kuat juga, kan [diracik] pada saat yield lebih tinggi dibandingkan sekarang,” kata Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).

Baca Juga : IHSG Cetak ATH Baru Awal 2026 ke 8.859, Saham BYAN hingga DCII Melesat

Meskipun begitu, daya tarik SBN Ritel pada 2026, dinilai tidak kalah menggiurkan. Fikri menilai, likuiditas pasar SBN Ritel menjadi salah satu daya tarik instrumen investasi ini, di luar kepastian keamanan dalam berinvestasi.

Untuk itu, Fikri cukup pede bahwa serapan pasar terhadap SBN Ritel pada tahun ini tidak akan berkurang dibandingkan dengan realisasi 2025.

“Kalau saya pikir, tergantung volatilitas juga. Kondisi sekarang volatilitas juga masih cukup besar. Untuk SBN Ritel masih ada permintaan cukup besar sih di awal tahun,” kata Fikri.

Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, menilai kian agresifnya investor untuk mengalokasikan dana ke RDPT disebabkan oleh pemangkasan suku bunga yang kian kencang dilakukan oleh BI belakangan.

Hal itu kemudian membuat imbal hasil yang ditawarkan oleh terutama obligasi negara, kalah pamor dibandingkan return yang ditawarkan oleh RDPT. Alhasil realokasi dana tidak dapat dihindari.

“Dengan suku bunga yang terus turun, yield juga turun. Mungkin saat suku bunga tinggi, masyarakat tidak terlalu banyak berpikir masuk ke instrumen [obligasi]. Saat ini, akhirnya masyarakat mulai melirik instrumen yang bisa memberi return lebih,” katanya kepada Bisnis, dikutip Senin (5/1/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual instrumen investasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tak Ingin Dilabeli Mantan Istri Pangeran Kelantan, Manohara Angkat Suara
• 6 jam lalueranasional.com
thumb
Kejari Luwu Turut Andil Cegah Kekerasan dalam Sekolah Melalui Sosialisasi
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Kolong Flyover Cibinong Disulap Jadi Ruang Publik Warga
• 18 jam laludetik.com
thumb
Berita Populer: Pre-Book Veloz Hybrid Diperpanjang; Shammie di Rally Dakar 2026
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
KPK Segera Umumkan Status Pencekalan Terbaru Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas
• 11 jam lalumatamata.com
Berhasil disimpan.