Pantau - Emas perhiasan menjadi penyumbang utama inflasi tahunan di Indonesia sepanjang tahun 2025, menurut data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengungkapkan bahwa komoditas emas perhiasan memberikan andil inflasi sebesar 0,79 persen sepanjang 2025.
"Emas dan emas perhiasan memberikan sumbangan andil inflasi tahunan terbesar pada tahun 2025. Komoditas ini menjadi komoditas utama penyumbang inflasi bulanan sebanyak 11 kali di tahun 2025," ungkapnya.
Kenaikan harga emas perhiasan ini disebabkan oleh tren harga emas global yang terus meningkat hingga akhir tahun.
Komoditas Penyumbang Inflasi LainnyaSelain emas perhiasan, komoditas lain yang turut menyumbang inflasi tahunan terbesar pada 2025 antara lain cabai merah (0,18 persen), ikan segar (0,15 persen), cabai rawit (0,15 persen), beras (0,15 persen), daging ayam ras (0,14 persen), tarif air minum PAM (0,14 persen), bawang merah (0,10 persen), dan sigaret kretek mesin atau SKM (0,06 persen).
Hingga Desember 2025, inflasi kalender (year-to-date/ytd) dan inflasi tahunan (year-on-year/yoy) tercatat sebesar 2,92 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi tahun 2024.
Menurut kelompok pengeluaran, inflasi tahunan terutama dipicu oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami inflasi sebesar 4,58 persen dan menyumbang andil terbesar terhadap inflasi sebesar 1,33 persen.
"Komoditas dengan andil inflasi terbesar pada kelompok ini adalah cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, dan daging ayam ras," tambah Pudji.
Kelompok pengeluaran lain yang menyumbang inflasi tahunan dominan adalah perawatan pribadi dan jasa lainnya, yang mencatat inflasi sebesar 13,33 persen dan memberikan andil 0,87 persen.
Kenaikan harga emas perhiasan menjadi faktor utama pendorong inflasi dalam kelompok ini.
Sementara itu, kelompok pengeluaran informasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru mengalami deflasi tahunan sebesar 0,28 persen dengan andil deflasi sebesar 0,02 persen.
Inflasi Berdasarkan KomponenSecara komponen, seluruh komponen mencatatkan inflasi pada tahun 2025.
Komponen harga bergejolak (volatile food) mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 6,21 persen dengan andil 1,01 persen, yang dipicu oleh kenaikan harga cabai merah, ikan segar, cabai rawit, beras, daging ayam ras, bawang merah, dan telur ayam ras.
Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,38 persen dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi secara keseluruhan, yakni 1,53 persen.
Komoditas penyumbang utama inflasi dalam komponen inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, biaya sewa rumah, biaya akademi atau perguruan tinggi, dan kopi bubuk.
Komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencatat inflasi tahunan sebesar 1,93 persen dengan andil 0,38 persen.
"Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah tarif air minum PAM yang terjadi di 13 wilayah, kemudian sigaret kretek mesin atau SKM, bensin, dan sigaret kretek tangan atau SKT," jelas Pudji.




