Kisah Masjid di Gunungkidul Telanjur Dibongkar namun Donatur Tak Ada Kabar

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Kisah sedih menimpa warga di Pedukuhan Gari, Kapanewon Wonosari, Kabupaten Gunungkidul. Masjid sudah telanjur dibongkar dan rata dengan tanah, namun donatur tak ada kabar.

Mereka tertipu donatur yang berjanji akan merenovasi Masjid Al-Huda, satu-satunya masjid yang ada di pedukuhan tersebut.

Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al-Huda, Budi Antoro, mengatakan pada November 2025 silam dua orang masing-masing warga Gari dan satu orang warga Kapanewon Ngawen datang menemui sesepuh Gari dan berniat jadi donatur pembangunan masjid.

"Dengan syarat masjid dibongkar, kemudian dengan syarat-syarat yang lain termasuk RAB (rancangan anggaran biaya) kami penuhi. Namun di perjalanan ternyata lama tidak berproses," kata Budi melalui sambungan telepon, Senin (5/1).

Saat awal pembongkaran, komunikasi dengan warga Ngawen berinisial H itu masih lancar. Namun, lama kelamaan warga merasa ada kejanggalan.

Mereka kemudian mengecek ke yayasan dan tokoh yang disodorkan oleh H.

"Benar ada yayasan (yang disebutkan H), tetapi belum benar-benar meng-acc donasi kepada kita. Ceritanya seperti itu," kisahnya.

Sosok H sendiri tak bisa dihubungi. Sementara warga Gari yang bersama H menurut Budi juga menjadi korban.

"Yang warga kami itu hanya tangan kanan yang orang pertama (inisial H). Warga kami tidak tahu pasti hanya diberi informasi seperti ini, disuruh menghubungi kita," jelasnya.

Biaya Pembangunan Lebih dari Rp 1,8 Miliar

"Memang kami biayanya cukup tinggi. Sebenarnya kami akan memulai pembangunan setelah Lebaran. Kami akan membangun ukuran besar, dengan menelan anggaran biaya kurang-lebih Rp 1,8 miliar," kata Budi.

Lantaran sudah telanjur dibongkar, saat ini warga bergerak mencari donasi. Menurut Budi sudah ada beberapa donasi yang masuk. Warga akan berusaha semaksimal mungkin agar masjid bisa berdiri lagi.

"Bangunan sudah rata dengan tanah. Hari ini kami memulai pondasi talud untuk memulai pekerjaan sedikit demi sedikit. Dana yang sudah ada kita gunakan untuk bergerak," tuturnya.

Sementara Salat di Musala

Di Gari sendiri tercatat ada lebih dari 300 kepala keluarga. Kini mereka salat berjemaah di musala-musala kecil sekitar.

"Di musala-musala kecil yang ada di RT dan Pasar Argowijil juga ada musala kecil kita pakai," katanya.

Meski sudah merasa ditipu, warga mengaku tak akan melaporkan kasus ini ke kepolisian.

"Kami tidak akan menuntut secara hukum biarkan Allah sendiri yang menghukum beliau," pungkasnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Prabowo Beri Bintang Jasa Utama ke Mentan Atas Capaian Swasembada Pangan
• 1 jam lalukumparan.com
thumb
Kembali Jadi Dina Setelah 8 Tahun, Nadya Arina Hadapi Tantangan Baru di Film Kafir: Gerbang Sukma
• 18 jam lalugrid.id
thumb
Polisi Buru Penembak Mata Bocah 4 Tahun Saat Tawuran di Medan
• 11 jam laludetik.com
thumb
[FULL] Hari Kedua Pascabanjir Bandang di Sitaro, TNI-Polri Fokus Cari Korban | SAPA SIANG
• 22 jam lalukompas.tv
thumb
Prabowo Bangga Cadangan Beras Indonesia Lampaui Sejarah Era Soeharto
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.