Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tetap menguat meski muncul ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Reydi Octa Pengamat Pasar Modal Indonesia menilai penguatan tersebut lebih ditopang faktor domestik dan regional ketimbang sentimen konflik internasional.
“Penguatan IHSG hari ini lebih didorong sentimen domestik dan regional, bukan konflik AS dan Venezuela,” ujar Reydi dilansir dari Antara pada Senin (5/1/2026).
Ia menjelaskan, bahwa pelaku pasar melihat konflik kedua negara tersebut belum berdampak sistemik terhadap pasar keuangan global, sehingga tidak memicu aksi jual yang signifikan.
Dari dalam negeri, Ia mengatakan IHSG ditopang oleh stabilitas makro, optimisme awal tahun, serta rotasi ke saham-saham sektor komoditas energi dan emas yang diuntungkan oleh ketidakpastian global.
“Kombinasi ini membuat IHSG tetap menguat meski ada sentimen geopolitik eksternal,” ujar Reydi.
Pada awal tahun ini, Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar cenderung fokus terhadap faktor fundamental, bukan isu geopolitik sesaat.
Adapun, faktor-faktor fundamental yang dimaksud seperti arah kebijakan suku bunga global, khususnya ekspektasi penurunan suku bunga oleh bank sentral AS The Fed.
Selain itu, juga stabilitas kebijakan ekonomi domestik pasca-transisi pemerintahan, kinerja laba emiten terutama saham big caps, serta pergerakan harga komoditas seperti minyak dan emas.
Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin pukul 14.55 WIB, IHSG tercatat menguat 74,58 poin atau 0,85 persen ke posisi 8.822,71.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.434.978 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 57,42 miliar lembar saham senilai Rp24,68 triliun. Sebanyak 411 saham naik 270 saham menurun, dan 125 tidak bergerak nilainya.
Sebagaimana diketahui, AS telah menyerang dan menangkap Nicolas Maduro Presiden Venezuela dan istrinya pada Sabtu (3/1/2026), yang mana Maduro setelahnya dibawa ke New York, AS. (ant/saf/ipg)


