Analis Beri Catatan Penerbitan SBN Ritel saat RDPT Tawarkan Imbal Hasil Menarik

bisnis.com
2 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA – Kalangan analis memberikan sederet catatan kepada penerbit SBN ritel, Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), guna memaksimalkan penyerapan surat utang di tengah kian menariknya pasar reksa dana pendapatan tetap (RDPT).

Portfolio Manager/Analyst Batavia Prosperindo Aset Manajemen Putri Nur Astiwi, menilai penting bagi DJPPR untuk melakukan diferensiasi atas produk, hingga product mix yang adaptif dengan siklus suku bunga dalam penerbitan SBN ritel di 2026.

Adapun sepanjang 2025, terdapat setidaknya dua seri SBN ritel yang tidak ludes di pasaran, yaitu SBR014 dan SR023. SBR014 yang diterbitkan pada periode 14 Juli–7 Agustus 2025 dan menargetkan dana terhimpun hingga Rp15 triliun, hanya mampu membukukan penjualan senilai Rp14,91 triliun. Artinya, produk ini hanya laris di pasaran sebesar 99,4%.  

Sementara itu, SR023 yang diterbitkan setelahnya pada periode 22 Agustus–15 September 2025, hanya membukukan penjualan Rp18,73 triliun dari target dana terhimpun Rp20 triliun. Artinya, penjualan SR023 hanya mencapai 93,65% dari target awal pemerintah. 

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Penerbitan SBR014 saat itu, hampir bersamaan dengan BI yang memangkas suku bunga ke level 5,25% pada 16 Juli 2025. Begitu juga penerbitan SBR023 yang dilakukan saat suku bunga acuan telah berada di level 5,00%. Kedua instrumen itu sempat menawarkan imbal hasil yang cukup rendah saat itu, sebelum BI kembali melanjutkan kebijakan pelonggaran moneter.

Di tengah tren penurunan suku bunga lanjutan pada tahun ini, bukan tidak mungkin imbal hasil yang ditawarkan SBN ritel akan kian kecil ke depannya. Meskipun begitu, Putri menilai peluang serapannya masih akan terbuka lebar di 2026.

Baca Juga

  • Adu Daya Tarik Reksa Dana Pendapatan Tetap Moncer vs SBN Ritel pada 2026
  • Dampak Krisis Venezuela bagi RI: dari harga Minyak, Yield SBN hingga Ekspor
  • Geopolitik AS-Venezuela Menegang, SBN akan Kurang Diminati Asing?

“DJPPR tidak perlu mengurangi peran SBN ritel, tetapi perlu menajamkan diferensiasi, penjadwalan yang rapi, product mix yang adaptif dengan siklus suku bunga, serta komunikasi nilai yang lebih kuat,” katanya kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).

Terlebih, di tengah laju instrumen investasi RDPT pada 2025, Putri menilai daya tarik SBN ritel di era suku bunga rendah, cenderung positif. SBN ritel menurutnya memiliki keunggulan tersendiri, seperti risk-free credit, kupon yang relatif stabil, dan kemudahan akses terhadap instrumen tersebut.

Bahkan, dibandingkan RDPT, SBN ritel dinilai memiliki daya tarik niche sebagai instrumen bagi investor ritel yang memiliki sikap konservatif dan untuk perencanaan keuangan jangka menengah.

Adapun data OJK menunjukkan pertumbuhan investor yang cukup signifikan pada 2025. Total dana kelolaan atau asset under management (AUM) industri reksa dana pada produk RDPT tercatat bertumbuh secara konsisten sepanjang 2025. Pertumbuhannya bahkan terjadi secara bulanan.

Total AUM RDPT per Desember 2025 tercatat senilai Rp244,44 triliun. Realisasi itu mencerminkan kenaikan hingga 66,93% year-on-year (YoY) dari realisasi AUM Rp146,43 triliun pada Desember 2024.

Berdasarkan data tersebut, dana kelolaan atau AUM RDPT mulai menanjak secara signifikan sejak Juli 2025. Hal itu terjadi lantaran pada periode Juli–Desember 2025, Bank Indonesia secara aktif memangkas suku bunga dari posisi 5,50% pada Juni hingga 4,75% pada akhir tahun.

“RDPT memang menarik bagi investor yang mengejar return lebih tinggi, sementara SBN ritel tetap menjadi pilihan utama bagi investor ritel yang mengutamakan keamanan via proteksi negara dan tenor menengah 2–3 tahun. Jadi ini bukan soal kalah bersaing, melainkan segmentasi kebutuhan investor,” kata Putri.

Senada, Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian, memprediksi penyerapan pasar terhadap SBN ritel cenderung tumbuh pada tahun ini dibandingkan 2025. Hal itu didorong oleh terus bertumbuhnya jumlah investor di pasar modal.

“Yang masih menjadi daya tarik SBN ritel adalah return lebih kompetitif dibandingkan deposito dengan tingkat stabilitas arus kas yang sama, risk free, serta potensi capital gain seiring berlanjutnya tren pelonggaran moneter,” katanya, Senin (5/1/2026).

Meskipun demikian, sejumlah insentif pajak atas kupon yang lebih rendah, hingga kustomisasi jenis SBN ritel seperti tenor menjadi masukan terhadap DJPPR sebagai penyelenggara SBN ritel.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KAI Layani 5.334 Unit Angkutan Motis dan 4,17 Juta Pelanggan pada Nataru 2025/2026
• 23 jam laluidxchannel.com
thumb
Awal Tahun Kelabu, Harga 3 Kripto Turun Drastis
• 10 jam lalugenpi.co
thumb
Manohara Tak Ingin Lagi Disebut Mantan Istri Pangeran Kelantan
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
BNPT Ingatkan Bahaya Konten Kekerasan Digital bagi Anak
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Pesawat CN-235 Buatan Indonesia Dipakai AS di Operasi Maduro, DPR: Perkuat Alutsista Nasional
• 8 jam lalumerahputih.com
Berhasil disimpan.