Bisnis.com, JAKARTA — PT BRI Finance Indonesia atau BRI Finance memandang pembiayaan modal kerja pada 2026 memiliki prospek yang positif, bahkan berpotensi menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan industri multifinance.
Direktur Utama BRI Finance, Wahyudi Darmawan mengatakan hal tersebut sejalan dengan pandangan OJK yang memperkirakan kebutuhan modal kerja akan meningkat, terutama dari segmen UMKM dan sektor produktif yang membutuhkan dukungan likuiditas untuk menjaga keberlanjutan dan ekspansi usaha.
“Didukung oleh kebijakan pemerintah yang pro-pertumbuhan, kemudahan akses pembiayaan, serta stabilitas ekonomi domestik, pembiayaan modal kerja dinilai memiliki peran strategis dalam menopang aktivitas ekonomi dengan pengelolaan risiko yang prudent dan inovasi produk yang berkelanjutan,” ungkapnya kepada Bisnis, Senin (5/1/2026).
Wahyudi membeberkan, khusus di BRI Finance, penyaluran pembiayaan modal kerja per November 2025 mencapai 11,40% year-on-year (YoY) dengan kontribusi 3,38% terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan.
Dia meneruskan, segmen yang bertumbuh baik ada pada sektor perdagangan yang menunjukkan pertumbuhan disburse sebesar 76,67% terhadap total keseluruhan pembiayaan modal kerja.
Kendati demikian, Wahyudi tidak menampik bahwa masih ada tantangan yang perlu dihadapi perusahaan pembiayaan dalam penyaluran pembiayaan modal kerja.
Baca Juga
- Sederet Tantangan Penyaluran Pembiayaan Modal Kerja dari Multifinance
- Produktif dan Minim Risiko, Pembiayaan Modal Kerja Topang Pertumbuhan Multifinance
- OJK: Pembiayaan Modal Kerja Masih Topang Pertumbuhan Multifinance
“Tantangan yang umum dihadapi antara lain fluktuasi kondisi ekonomi, kualitas dan transparansi laporan keuangan debitur, serta risiko arus kas dan ketepatan pembayaran,” ucapnya.
Selain itu, lanjutnya, karakteristik usaha yang beragam dan siklus bisnis yang berbeda juga menuntut pendekatan pembiayaan yang lebih selektif dan fleksibel.
“Untuk menghadapi tantangan tersebut, perusahaan menerapkan prinsip kehati-hatian melalui penguatan proses analisis dan underwriting, pemanfaatan data dan teknologi untuk menilai profil risiko debitur, serta pemantauan portofolio secara berkelanjutan,” pungkasnya.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa pembiayaan modal kerja masih menjadi tulang punggung pertumbuhan industri multifinance.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, PMV, LKM, dan LJK Lainnya OJK Agusman menyebut hal itu tercermin dari pembiayaan modal kerja yang tumbuh 9,28% year-on-year (YoY) per Oktober 2025.
“Yang mencapai Rp53,19 triliun atau sebesar 10,53% dari total piutang pembiayaan industri multifinance,” ungkapnya dalam lembar jawaban RDK November 2025, dikutip pada Kamis (1/1/2026).





