VIVA – Penunjukan John Herdman sebagai pelatih kepala Timnas Indonesia menandai dimulainya babak baru sepak bola nasional. Sosok yang pernah membawa Kanada tampil di Piala Dunia 2022 itu datang dengan reputasi besar dan ekspektasi tinggi. Namun dari negara tetangga, Malaysia, muncul sorotan yang mengingatkan Indonesia agar tidak terjebak euforia berlebihan.
PSSI secara resmi menunjuk Herdman untuk menggantikan Patrick Kluivert dengan kontrak berdurasi dua tahun serta opsi perpanjangan dua tahun. Proses penunjukan kali ini disebut lebih terukur, di mana federasi melakukan wawancara langsung di Eropa sekaligus menyusun rencana jangka menengah hingga panjang bagi tim nasional.
Rekam jejak Herdman memang sulit diabaikan. Keberhasilannya mengantarkan Kanada lolos ke Piala Dunia Qatar 2022 menjadikannya salah satu pelatih paling diperhitungkan yang pernah menangani Timnas Indonesia. Tak heran jika publik langsung mengaitkan kehadirannya dengan mimpi besar Garuda menembus panggung dunia.
Namun pakar sepak bola Malaysia, Raja Isa Raja Akram Syah, menilai situasi Indonesia perlu dipahami secara lebih realistis. Ia mengingatkan bahwa penunjukan Herdman seharusnya dipandang sebagai awal dari proses pembangunan ulang, bukan solusi instan untuk semua persoalan.
Menurut Raja Isa, seperti dikutip media Vietnam thethao247, menyebut kondisi sepak bola Indonesia saat ini menyerupai fase memulai kembali dari awal. Karena itu, kesabaran menjadi faktor kunci, baik bagi federasi maupun suporter. Ia menekankan bahwa pelatih baru membutuhkan waktu untuk mengenali karakter pemain, membangun sistem, dan menanamkan filosofi permainan.
- Thethao247
Raja Isa juga menilai hasil di fase awal tidak bisa dijadikan tolok ukur tunggal. Ia mengingatkan bahwa tidak ada pelatih yang langsung meraih kemenangan beruntun sejak hari pertama. Dalam sepak bola, proses selalu berjalan beriringan dengan hasil naik-turun yang wajar.
Sorotan dari Malaysia tersebut juga menyinggung pola pikir publik Indonesia. Raja Isa melihat masih kuatnya tuntutan agar tim nasional selalu menang di setiap pertandingan, tanpa mempertimbangkan konteks perubahan dan transisi. Menurutnya, mentalitas seperti ini justru berpotensi menjadi tekanan tambahan bagi pelatih dan pemain.





