Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sepanjang 2025 secara tahunan atau year on year (yoy) sebesar 2,92 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada di level 109,92. Capaian inflasi ini lebih tinggi dibandingkan Desember 2024 yang tercatat 1,57 persen, serta melampaui inflasi Desember 2023 sebesar 2,61 persen.
BPS memaparkan komoditas penyumbang utama dalam inflasi 2025 adalah emas perhiasan sebesar 0,79 persen. Lalu cabai merah 0,18 persen, ikan segar 0,15 persen, cabai rawit 0,15 persen, dan beras 0,15 persen.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan inflasi itu juga terjadi karena kenaikan harga di sebagian besar kelompok pengeluaran.
“Inflasi yoy terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran,” kata Pudji dalam konferensi pers di kantor BPS, Senin (5/1).
Kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan indeks antara lain makanan, minuman, dan tembakau sebesar 4,58 persen. Selain itu, kelompok pakaian dan alas kaki naik 0,66 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,62 persen, serta kelompok kesehatan yang meningkat 1,83 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok transportasi sebesar 1,23 persen, pendidikan 1,22 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 1,46 persen. Kenaikan tertinggi tercatat pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang melonjak 13,33 persen.
Di sisi lain, terdapat satu kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yakni kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,28 persen. Sehingga memberikan andil deflasi terhadap inflasi tahunan.
Secara wilayah, inflasi yoy tertinggi di tingkat provinsi terjadi di Aceh sebesar 6,71 persen dengan IHK 114,40. Sementara inflasi terendah tercatat di Sulawesi Utara sebesar 1,23 persen dengan IHK 108,60.
Di tingkat kabupaten/kota, inflasi tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 10,84 persen dengan IHK 119,24. Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Maumere dan Kabupaten Minahasa Utara yang masing-masing sebesar 0,38 persen.





