Idrus Marham: Pemilihan Tidak Langsung Itu Jalan Ideologis Demokrasi Pancasila

viva.co.id
1 hari lalu
Cover Berita

Jakarta, VIVA – Wakil Ketua Umum Bidang Politik Partai Golkar, Idrus Marham, menegaskan bahwa wacana sistem pemilihan kepala daerah (pilkada) harus dibaca dalam kerangka besar ideologi dan falsafah bangsa.

Hal tersebut sebagaimana ditekankan Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidato kemenangannya, serta Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia dalam pidato awal kepemimpinannya.

Baca Juga :
Wacana Pilkada Lewat DPRD, Relawan GBK: Pemilihan Langsung Bikin Rakyat Pragmatis
KPK soal Pilkada Dipilih DPRD: Pencegahan Korupsi Harus Jadi Prinsip Utama

“Sejak awal, Presiden Prabowo Subianto telah menggugah kesadaran kita dalam hidup berbangsa dan telah menegaskan bahwa bangsa ini adalah rumah kita bersama—rumah besar yang harus dirawat, dibangun dan dikelola bersama dengan penuh rasa tanggung jawab, kekitaan, kekeluargaan dan kegotong royongan. Demokrasi dalam konteks ini bukan sekadar prosedur elektoral, melainkan instrumen ideologis untuk menjaga persatuan dan keberlanjutan bangsa,” kata Idrus dalam keterangannya, Selasa, 6 Januari 2026.

Ia melanjutkan, semangat yang sama juga ditegaskan oleh Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, yang menekankan pentingnya konsolidasi ideologi dan penguatan wawasan kebangsaan sebagai fondasi dalam setiap kebijakan politik nasional.

“Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa ke depan bangsa ini harus berbicara tentang konsolidasi ideologis dan wawasan kebangsaan. Artinya, setiap kebijakan politik—termasuk sistem pemilihan kepala daerah—harus diuji terlebih dahulu kesesuaiannya dengan ideologi dan falsfah bangsa kita, bukan sekadar dilihat dari aspek teknis atau pragmatis,” tegas Idrus.

Dalam kerangka tersebut, Idrus menilai bahwa penyebutan Pilkada berbiaya tinggi oleh Presiden Prabowo maupun oleh Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia dan pimpinan partai politik bukanlah tujuan akhir. 

Melainkan pintu masuk untuk membahas persoalan yang lebih mendasar tentang arah demokrasi Indonesia, Demokrasi Pancasila, yang tentu berbeda dengan demokrasi negara2 lain.

“Pernyataan soal biaya Pilkada yang tinggi itu jangan dipahami secara sempit. Itu hanyalah pintu masuk untuk mengajak kita semua bertanya lebih jauh: sistem pemilihan kepala daerah seperti apa yang paling sesuai dengan karakter, ideologi, falsafah dan kepribadian bangsa Indonesia?” kata Idrus.

Menurutnya, perdebatan publik selama ini kurang pas dan tidak mendasar, karena terlalu cepat terjebak pada dikotomi langsung dan tidak langsung, tanpa terlebih dahulu meletakkan fondasi ideologisnya. Padahal, demokrasi Indonesia sejak awal tidak dirancang sebagai demokrasi liberal elektoral, melainkan demokrasi Pancasila yang bertumpu pada permusyawaratan, perwakilan, dan kebijaksanaan.

Baca Juga :
Polemik Usulan Kepala Daerah Dipilih Lewat DPRD, DPR Singgung Mahalnya Ongkos Politik
Pilkada Jalan Tengah
Golkar Dorong Program Padat Karya Warga Terdampak Bencana Sumatera

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cerita Warga Gunungkidul Jumatan di Musala Usai Masjid Ditinggal Donatur
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Ramai Penolakan KUHAP Baru, Dasco Sebut Legislasi Sudah Sesuai Aturan
• 9 jam laludisway.id
thumb
Menperin Optimis Perpanjangan Insentif Rumah Jaga Pertumbuhan Industri Manufaktur RI
• 7 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Donald Trump Bahas Rencana Akuisisi Greenland, Buka Opsi Gunakan Militer
• 13 jam lalukatadata.co.id
thumb
Mayat Pakai Kaos Loreng Ditemukan Membusuk
• 14 jam lalurealita.co
Berhasil disimpan.