Bagi traveler yang pernah naik pesawat jarak jauh mungkin sadar, bahwa ada beberapa rute penerbangan yang tak bisa dilewati. Seperti halnya penerbangan komersial yang hampir tidak pernah melintasi Antarktika, meski menghubungkan kota-kota di belahan bumi selatan.
Fenomena ini bukan tanpa alasan. Meski sama-sama wilayah ekstrem dan terpencil, hanya kawasan Arktik yang bisa dilintasi pesawat komersial.
Dilansir Simple Flying, ada sejumlah faktor yang menyebabkan kenapa pesawat bisa melintasi Arktik, tetapi tak bisa melintasi Antartika. Apa saja? Yuk, simak ulasannya.
Faktor Geografis dan Bentuk BumiPesawat tidak terbang mengikuti garis lurus pada peta datar, melainkan mengikuti jalur great circle rute terpendek di permukaan bumi yang berbentuk bulat. Pada peta konvensional, jalur ini tampak melengkung dan sering mendekati wilayah kutub.
Di belahan bumi utara, banyak pasangan kota penting dunia, seperti New York-Hong Kong, London-Tokyo, atau Chicago-Beijing yang secara geografis memang paling efisien jika ditempuh melalui lintasan lintang tinggi di kawasan Arktik.
Rute ini dapat memangkas jarak ratusan kilometer, sehingga mengurangi waktu terbang, konsumsi bahan bakar, dan biaya operasional.
Maskapai besar seperti Cathay Pacific, All Nippon Airways, dan Korean Air secara rutin mengoperasikan penerbangan lintas Arktik untuk mendukung efisiensi tersebut.
Sebaliknya, di belahan bumi selatan, kota-kota besar seperti Sydney, Johannesburg, Santiago, dan Auckland tidak membentuk jalur great circle yang efektif melintasi Antarktika. Dalam banyak kasus, rute terpendek justru tetap berada di atas samudera terbuka, bukan melintasi benua es tersebut.
Permintaan Perjalanan GlobalDominasi penerbangan lintas Arktik juga diperkuat oleh tingginya permintaan perjalanan udara di belahan bumi utara. Amerika Utara, Eropa, dan Asia menyumbang mayoritas lalu lintas penumpang dan kargo global, menjadikan wilayah udara penghubungnya sangat sibuk dan teroptimalkan.
Maskapai seperti United Airlines, Air Canada, dan Lufthansa memanfaatkan rute kutub utara untuk menghubungkan pusat-pusat ekonomi dunia, seperti rute Newark-Hong Kong atau Toronto-Shanghai, demi menjaga daya saing waktu dan biaya.
Antarktika, sebaliknya, tidak memiliki populasi permanen maupun pasar penumpang. Tidak ada permintaan asal atau tujuan yang cukup untuk membenarkan penerbangan reguler, sehingga maskapai tidak memiliki insentif ekonomi untuk melintasinya.
Kendala Keselamatan dan Aturan ETOPSPenerbangan jarak jauh modern diatur oleh regulasi keselamatan ketat, salah satunya aturan ETOPS (Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards). Aturan ini membatasi jarak maksimum pesawat bermesin ganda dari bandara alternatif jika terjadi keadaan darurat.
Di kawasan Arktik, bandara alternatif tersebar di Alaska, Kanada, Greenland, Islandia, dan Eropa Utara. Bandara seperti Anchorage, Fairbanks, Keflavík, hingga Svalbard terawat, tersertifikasi, dan rutin digunakan sebagai bandara pengalihan.
Antarktika tidak memiliki jaringan serupa. Landasan pacu yang ada sebagian besar bersifat musiman, dibangun di atas es, dan digunakan untuk kepentingan militer atau riset, sehingga tidak memenuhi standar penerbangan komersial. Dari sudut pandang ETOPS, kawasan ini hampir tidak memiliki opsi pengalihan penerbangan yang layak.
Lingkungan Ekstrem AntarktikaMeski sama-sama dingin, Antarktika dikenal sebagai benua terdingin dan paling berangin di dunia. Suhu bisa turun hingga di bawah minus 60 derajat Celsius, disertai angin kencang yang memicu turbulensi parah dan kondisi whiteout.
Minimnya stasiun cuaca dan infrastruktur pendukung membuat prakiraan cuaca di Antarktika jauh lebih sulit dibanding Arktik. Selain itu, periode kegelapan total selama musim dingin di belahan bumi selatan memperbesar risiko jika terjadi pendaratan darurat atau operasi penyelamatan.
Penerbangan komersial lintas kutub baru berkembang beberapa dekade terakhir, seiring hadirnya pesawat jarak jauh yang lebih andal, serta kemajuan navigasi dan komunikasi satelit. Perang Dingin turut mendorong investasi besar di kawasan Arktik, karena jalur terpendek antara Amerika Utara dan Uni Soviet melintasi wilayah tersebut.
Kemajuan ini kemudian dimanfaatkan penerbangan sipil. Pada 1990-an, Northwest Airlines menjadi pelopor penerbangan transpolar dari Amerika Serikat ke Asia menggunakan pesawat berbadan lebar jarak jauh, yang kemudian menjadikan rute kutub sebagai hal lumrah dalam aviasi global.
Antarktika tidak mengalami dorongan strategis maupun komersial serupa, sehingga tetap berada di luar jalur utama penerbangan dunia.
Terbang Mendekat, tapi Tidak MelintasMeski tidak melintasi Antarktika, beberapa penerbangan jarak jauh di belahan bumi selatan terkadang melintas cukup dekat untuk memungkinkan penumpang melihat benua es tersebut dari kejauhan. Rute Sydney-Santiago oleh Qantas atau penerbangan LATAM antara Chile dan Auckland kadang mendekati wilayah selatan, tergantung kondisi angin dan pengaturan lalu lintas udara.
Namun, penerbangan khusus ke Antarktika tetap terbatas pada misi ilmiah, logistik, militer, dan wisata terkontrol. Risiko penerbangan di kawasan ini pernah disorot dunia melalui kecelakaan Air New Zealand Penerbangan 901 pada 1979, yang menewaskan 257 orang dan mengakhiri penerbangan wisata Antarktika maskapai tersebut.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa meski teknologi penerbangan terus maju, Antarktika tetap menjadi wilayah dengan risiko tinggi yang belum layak untuk penerbangan komersial rutin.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/3807516/original/090085000_1640672366-148355508_430150894707997_2084073915891854769_n.jpg)



