Netanyahu Kumat Lagi, Israel Kembali Serang Wilayah Negara Arab Ini

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita
Foto: Asap mengepul setelah serangan Israel menyusul perintah evakuasi militer Israel, di Chehour, Lebanon selatan, 19 November 2025. REUTERS/Ali Hankir

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali eskalasi setelah militer Israel (IDF) meluncurkan serangkaian serangan udara ke wilayah Lebanon Timur dan Selatan pada Senin (5/1/2026). Serangan ini dilakukan di tengah upaya pemantauan gencatan senjata yang kian rapuh dan tekanan diplomatik besar dari Washington terhadap Beirut.

Militer Israel mengonfirmasi telah menargetkan infrastruktur militer milik Hizbullah dan Hamas di empat desa utama: Hammara dan Ain el-Tineh di Lembah Bekaa, serta Kfar Hatta dan Annan di wilayah selatan.

Saksi mata dan fotografer AFP melaporkan kepanikan di desa Kfar Hatta saat puluhan keluarga bergegas melarikan diri sesaat setelah perintah evakuasi dikeluarkan oleh militer Israel. Drone militer terpantau aktif di udara sementara ambulans dan pemadam kebakaran dalam posisi siaga tinggi.


Baca: 5 Negara dan Wilayah yang Jadi Target Trump Setelah Venezuela

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan drone terhadap sebuah mobil di desa Braikeh yang melukai dua orang. Israel mengklaim serangan tersebut menargetkan anggota aktif Hezbollah. Insiden ini menyusul serangan mematikan pada hari Minggu di Ayn al-Mizrab yang menewaskan dua orang.

Meskipun AS telah menengahi gencatan senjata pada akhir tahun 2024, kenyataan di lapangan menunjukkan hal berbeda. Israel terus melakukan pemboman rutin dan masih menduduki lima wilayah di Lebanon.

Laporan PBB pada November lalu mengungkapkan fakta mengerikan: sedikitnya 127 warga sipil, termasuk anak-anak, telah tewas di Lebanon sejak gencatan senjata diberlakukan. Pejabat PBB bahkan memperingatkan bahwa serangan berkelanjutan ini dapat dikategorikan sebagai "kejahatan perang."

Analis keamanan yang berbasis di Beirut, Ali Rizk, menilai eskalasi ini merupakan dampak langsung dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pekan lalu.

"Ada laporan bahwa Israel mendapat 'lampu hijau' untuk meningkatkan eskalasi terhadap Hezbollah," ujar Rizk kepada Al Jazeera.

Baca: Negara Komunis Ini Mendadak di Ujung Tanduk Usai AS Invasi Venezuela

Ia juga menyoroti strategi baru Israel yang mulai memasukkan nama Hamas sebagai target di Lebanon. Hal ini dinilai sebagai taktik untuk menekan pemerintah Lebanon agar tidak hanya melucuti senjata Hizbullah, tetapi juga kelompok anti-Israel lainnya yang berada di wilayah tersebut.

Situasi ini menempatkan pemerintah Lebanon dalam posisi sulit. AS dan Israel menuntut pelucutan senjata Hizbullah di selatan Sungai Litani diselesaikan segera.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, menyatakan pada hari Minggu bahwa upaya pelucutan senjata yang dilakukan Lebanon saat ini "masih jauh dari cukup."


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Thailand Tuduh Kamboja Kirim 250 Drone ke Perbatasan

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Raja Salman Ngamuk! Jet Tempur Saudi Bom Yaman, 4 Tewas
• 2 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ancaman Islamofobia di Australia Meningkat Usai Serangan Teror di Bondi
• 10 jam laludetik.com
thumb
Prabowo: Seluruh Desa di Indonesia akan Terima MBG Pada 2026
• 7 jam laluliputan6.com
thumb
Fasilitas Kesehatan di Wilayah Terdampak Banjir Bandang Sumatera Berangsur Pulih
• 7 jam laluidxchannel.com
thumb
Prabowo: Saya Dituduh Mau Jadi Diktator
• 9 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.