Bisnis.com, JAKARTA —Emiten farmasi, PT Kimia Farma Tbk. (KAEF) bakal menerima pinjaman senilai Rp846 miliar dari induk usahanya, PT Bio Farma (Persero).
Manajemen Kimia Farma menjabarkan perseroan tengah menghadapi tantangan pengelolaan modal kerja untuk menjaga keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas.
Untuk menghadapi tantangan ini, KAEF melakukan Rencana Restrukturisasi Perusahaan (RRP) untuk mengupayakan stabilitas keuangan dan mendukung pertumbuhan bisnisnya. Salah satu strategi yang ditempuh, yaitu melalui mekanisme pinjaman pemegang saham atau shareholder loan (SHL).
“Alternatif sumber pendanaan diperoleh melalui pinjaman pemegang saham atau SHL sebesar Rp846 miliar dari PT Bio Farma (Persero),” paparnya dalam keterbukaan informasi, Selasa (6/1/2026).
Dengan pinjaman pemegang saham itu, diharapkan KAEF akan memperoleh dana kas untuk pemenuhan modal kerja, pelunasan kewajiban operasional, dan kebutuhan lainnya untuk keberlangsungan perseroan jangka pendek.
Kebutuhan yang dimaksud, yaitu memenuhi operasional inti yang berdampak langsung pada produksi dan penjualan, memenuhi kebutuhan pembayaran terkait regulasi, dan penyelesaian hutang dagang dan pembayaran utang operasional.
KAEF telah menandatangani perjanjian pinjaman pemegang saham atau SHL dengan Bio Farma pada 31 Desember 2025. Dalam perjanjian tersebut, KAEF memberikan jaminan maksimal sebesar Rp775,2 miliar berupa aset tanah, bangunan, piutang dan persediaan atau setara dengan 120% dari Rp646 miliar.
Di samping itu, untuk menjaga kelangsungan bisnisnya, KAEF telah menyiapkan serangkaian strategi guna menunjang transformasi secara berkelanjutan di seluruh lini bisnis. Transformasi tersebut dijalankan melalui enam pilar strategi, yaitu ketahanan modal kerja, penguatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), digitalisasi proses bisnis, efisiensi operasional, penguatan tata kelola perusahaan (GCG), dan sinergi antar entitas dalam grup.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5440462/original/067681600_1765434591-Banjir.jpeg)


