Liputan6.com, Jakarta - Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatera Barat (Sumbar) dan Sumatera Utara (Sumut) rusak akibat adanya indikasi pembukaan lahan di kawasan hulu sungai.
Hal ini diperkuat dengan adanya temuan oleh Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri terkait perusahaan kelapa sawit yang diduga membuka lahan dan menyebabkan banjir bandang di Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.
Advertisement
Berdasarkan citra satelit, terdapat 110 titik pembukaan lahan di DAS Garoga yang menyebabkan meluapnya air dan mengakibatkan 47 orang meninggal dunia, serta 22 orang hilang.
Pakar Konservasi Tanah dan Air Universitas Gadjah Mada (UGM) Ambar Kusumandari menyampaikan, banjir gelondongan kayu merupakan dampak dari kerusakan daerah hulu sungai.
"Arus sungai yang mampu membawa banyak balok-balok kayu besar menunjukkan kerusakan daerah hulu sebagai kawasan konservasi dan lindung yang berfungsi menjaga ekosistem di bawahnya," ujar Ambar, dilansir Liputan6.com dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM) www.ugm.ac.id, Rabu (7/1/2026).
Ia juga mengatakan, dampak pembukaan lahan di daerah hulu sungai dapat menjangkau daerah tengah hingga hilir. Risiko bencana hidrometeorologi juga rawan terjadi, seperti banjir bandang yang menimpa sebagian wilayah Sumatera.
"Fenomena yang terjadi di daerah hilir merupakan hasil dari pengelolaan daerah hulu. Kondisi ini menunjukkan keprihatinan terhadap kondisi hutan dan sungai di Indonesia, khususnya di wilayah Sumatera," terang Ambar.
Alih fungsi lahan kelapa sawit di kawasan yang seharusnya menjadi wilayah resapan air menyebabkan ekosistem sungai dan hutan menjadi korban.
"Ditambah lagi, apabila kegiatan ini dilakukan tanpa perhitungan yang matang. Maka, kerusakan akan semakin luas," ucap Ambar.
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5467401/original/090325400_1767878074-20260108_105854.jpg)

