Jakarta: Harga emas dunia (XAU/ÚSD) kembali mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan hari ini, didorong oleh meningkatnya ketegangan geopolitik global dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif dari Amerika Serikat (AS). Pergerakan emas saat ini berada dalam fase penguatan tren bullish, seiring meningkatnya permintaan aset safe-haven di tengah ketidakpastian global.
Pada perdagangan Senin, 5 Januari 2026, harga emas melonjak tajam lebih dari 2,60 persen dan diperdagangkan di kisaran USD4.442, setelah sempat menyentuh titik terendah harian di sekitar USD4.345. Lonjakan ini terjadi setelah investor mencermati dampak geopolitik dari serangan AS di Venezuela serta implikasinya terhadap stabilitas kawasan dan hubungan internasional. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar kembali mencari perlindungan pada aset yang dianggap aman, termasuk emas.
Berdasarkan analisis Dupoin Futures Andy Nugraha, kombinasi pola candlestick dan pergerakan indikator Moving Average yang terbentuk saat ini menunjukkan tren bullish emas yang semakin menguat. Struktur harga mencerminkan dominasi pembeli yang kembali solid, sehingga peluang lanjutan kenaikan masih terbuka dalam jangka pendek.
"Apabila tekanan bullish mampu dipertahankan, maka emas berpotensi melanjutkan penguatan menuju area USD4.520. Namun demikian, pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi. Jika harga gagal melanjutkan kenaikan dan terjadi tekanan jual, maka potensi penurunan terdekat diperkirakan berada di sekitar area USD4.397," ungkap Andy dalam analisa hariannya, Selasa, 6 Januari 2026.
Penguatan harga emas berlanjut pada sesi awal Asia Selasa, 6 Januari 2026, emas bergerak naik hingga mendekati USD4.440 dan mencatat level tertinggi dalam satu minggu terakhir. Reli ini didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah ketegangan antara AS dan Venezuela meningkat tajam. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya oleh pasukan militer AS pada akhir pekan lalu memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik dan dampak lanjutan terhadap stabilitas regional.
Menurut laporan media internasional, Maduro menghadapi tuduhan serius terkait perdagangan narkoba dan dugaan kerja sama dengan kartel internasional yang telah ditetapkan sebagai organisasi teroris asing oleh pemerintah AS. Presiden AS Donald Trump menyatakan AS akan sementara mengelola Venezuela, sebuah pernyataan yang semakin memperkeruh situasi geopolitik dan memperbesar ketidakpastian global.
"Kondisi ini secara historis cenderung meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven seperti emas," tutur dia.
Baca juga: Harga Emas Global Meroket 2,6%, Kini Dijual USD4.442/Ons
(Ilustrasi pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
Ekspektasi kebijakan moneter Fed
Selain faktor geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve turut memberikan dukungan tambahan bagi harga emas. Risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) terbaru menunjukkan mayoritas pejabat The Fed masih melihat ruang untuk penurunan suku bunga lanjutan, selama tekanan inflasi terus mereda.
Meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai waktu dan besaran pemangkasan suku bunga, arah kebijakan yang lebih dovish ini dinilai menguntungkan emas karena menurunkan biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Menurut Andy, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat, khususnya laporan Nonfarm Payrolls (NFP) periode Desember yang dijadwalkan rilis pada Jumat (9/1).
Ia menuturkan, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan berpotensi mendukung penguatan dolar AS dan memberikan tekanan jangka pendek pada harga emas.
"Namun secara keseluruhan, kombinasi penguatan sentimen safe-haven, dukungan teknikal yang solid, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar dinilai masih menjaga prospek positif emas dalam waktu dekat," terang Andy.




