Densus 88 Temukan Grup Chat Paham Kekerasan, 70 Anak Terpapar Radikalisme

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Densus 88 Antiteror Polri dan BNPT menemukan sebuah grup chat internasional bermuatan konten kekerasan dan paham radikalisme yang diisi oleh anak-anak hingga remaja. Akibatnya, ada 70 anak Indonesia terpapar paham radikalisme, white supremacy, hingga neo nazi.

“Pertama kami menyampaikan, membenarkan apa yang disampaikan oleh Bapak Kepala BNPT bahwa Densus 88 telah menemukan adanya sebuah komunitas yang di sini dibingkai dalam sebuah grup media sosial. Satu di antara puluhan grup yang kami temukan,” ucap Juru Bicara Densus 88, Kombes Pol Mayndra Eka Wardana dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan pada Rabu (7/1).

“Di mana kami bisa mengatakan latar belakang daripada ditemukannya grup ini di tahun 2025 kemarin, yang mana sampai dengan sehari yang lalu kami masih melakukan intervensi bersama dengan jajaran kementerian/lembaga di masing-masing daerah,” tambahnya.

Mayndra mengatakan, grup itu memuat berbagai propaganda radikalisme di media sosial menggunakan video pendek, animasi, meme, hingga musik. Propaganda itu dibuat menarik untuk menggaet kalangan muda bergabung.

“Kondisi ini rentan bila bertemu dengan kondisi psikologis anak yang masih berada pada fase pencarian identitas, belum memiliki kemampuan berpikir kritis, serta memiliki kecenderungan mencari pengakuan,” ucap Mayndra.

“Akibat paparan radikalisme maupun paham kekerasan di media sosial ini sangatlah cepat dalam mempengaruhi perilaku, emosi, juga pola pikir anak-anak,” tambahnya.

Mayndra mengatakan grup ini tidak didirikan oleh kelompok tertentu. Grup ini tumbuh dengan sendirinya menggunakan propaganda yang dibuat tersebut.

“Komunitas ini tidak didirikan oleh tokoh pendiri organisasi maupun institusi, tetapi dia tumbuh secara sporadis seiring dengan perkembangan media digital yang merupakan pertemuan antara minat seseorang terhadap kekerasan, sensasionalisme media, dan ruang digital yang transnasional,” ucap Mayndra.

Densus 88 pun mengaitkan sejumlah kasus kekerasan internasional dengan pelaku anak dengan grup ini. Terindikasi kasus-kasus itu disebabkan oleh paham yang disebarkan melalui grup tersebut.

“Yang pertama adalah pelaku Henderson Solomon berumur 17 tahun, melakukan penembakan di Antioch High School di Amerika, di awal tahun, 22 Januari 2025. Karena yang bersangkutan membenci dirinya berkulit hitam dengan paparan paham White Supremacist melalui media sosial,” ucap Mayndra.

“Kemudian ada Robin M. Westman, 23 tahun, pada bulan Agustus 2025 melakukan penembakan saat ibadah para murid di gereja Katolik di Amerika karena terobsesi untuk membunuh anak-anak,” tambahnya.

“Dan kemudian Trinity Shockley, 18 tahun, merencanakan penembakan juga di sekolah di Indiana Amerika pada bulan Februari 2025,” lanjut Mayndra.

Bahkan, salah satu kasus terjadi baru-baru ini di Rusia.

“Kemudian yang terbaru di Rusia, yaitu atas nama Mario Nouval, 15 tahun. Pelaku penusukan di Odintsovo, Moscow, Rusia pada tanggal 16 Desember 2025,” ucap Mayndra.

“Remaja ini bersenjatakan pisau melakukan penyerangan di sebuah sekolah di wilayah Moscow dan menewaskan seorang anak serta melukai seorang petugas keamanan. Komite Investigasi Rusia menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi di wilayah Moscow,” tambahnya.

Mayndra mengatakan kejadian di Rusia itu masih ada sangkut pautnya dengan Indonesia. Menurutnya, pelaku di Rusia itu terinspirasi pengeboman yang terjadi di SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu.

“Nah, di dalam gagang senjata, pelaku penusukan di Moscow Rusia ini, kita bisa lihat bahwa dia menuliskan ada "Jakarta Bombing" ya di situ. Dituliskan bahwa Jakarta Bombing 2025. Nah, di sini diambil oleh rekannya kemudian di-upload,” ucap Mayndra.

“Nah, saya ulangi, diambil oleh yang bersangkutan kemudian di-upload di dalam komunitas ini gitu ya. Nah, diduga ini terinspirasi adanya insiden bom SMAN 72 di Jakarta,” tambahnya.

Mayndra mengatakan, akibat grup ini, beberapa rencana teror sudah disiapkan oleh sejumlah anak di Indonesia. Bahkan, salah satunya terjadi, yakni pengeboman di SMAN 72 tersebut.

“Di mana di Jepara itu ada seorang anak yang juga ingin menjadi pelopor kekerasan di sekolah, kemudian ingin meng-upload juga di komunitas mereka gitu ya. Dan ini bisa ditangani oleh Densus 88 bersama dengan Polda Jateng,” ucap Mayndra.

“Dan kemudian selanjutnya pada 7 November 2025, kita bersama dikejutkan oleh insiden SMAN 72 ya. Dan itu kenapa bisa terjadi? Karena karakter daripada ABH yang melakukan aksi tersebut betul-betul sangat introvert, bisa dikatakan seperti itu,” tambahnya.

Rencana aksi teror juga disiapkan oleh anak-anak di Kalimantan Barat hingga di Jatim.

“Selanjutnya setelah kejadian di Jakarta, di Kalbar pada 8 Desember 2025 juga demikian. Cepat terdeteksi, kemudian dicegah,” ucap Mayndra.

“Di Jatim, 17 Desember 2025 dicegah untuk tidak melakukan aksi,” tambahnya.

Mayndra mengatakan, sejumlah 70 anak di Indonesia menjadi terpapar paham radikal akibat grup tersebut. Anak-anak merencanakan serangan yang menargetkan sekolah, guru, hingga teman-temannya.

“Mengapa penanganan anak-anak ini prioritas? Dari interview yang dilakukan oleh penyelidik, kami menemukan bahwa anak-anak ini di dalam wilayah yang berbeda berencana untuk melakukan bunuh diri setelah meledakkan beberapa kelas,” ucap Mayndra.

“Ya di sini disebutkan kelas 7, kelas 8, kelas 9. Lalu membantai guru, mensabotase CCTV. Sasaran aksinya adalah teman sekolah dan guru,” tambahnya.

Katanya, rencana tersebut bukan baru dipikirkan. Beberapa dari anak-anak itu bahkan sudah menyiapkan alat-alat untuk melancarkan aksinya.

“Ditemukan bubuk yang diidentifikasi sebagai bahan kimia dalam membuat bahan peledak serta perangkat elektronik. Juga atribut-atribut yang ber-genre kekerasan seperti Neo-Nazi, White Supremacy, dan lain-lain,” ucap Mayndra.

“Kemudian juga beberapa juga sudah melakukan pembelian replika senjata. Ada juga yang ingin melakukan penusukan di sekolah. Dan sasaran penusukannya adalah pem-bully di sekolah,” tambahnya.

Mayndra mengatakan, sejumlah anak yang sudah membeli senjata replika menggunakan senjata itu untuk berlatih melancarkan aksinya.

“Jadi itu adalah adegan dari salah satu anak yang ada di Jawa Tengah, yang bersangkutan sebelum memulai aksi melakukan simulasi dulu untuk gambaran ya ketika melakukan aksi, yang bersangkutan bisa merencanakan,” jelas Mayndra.

Anak itu, kata Mayndra, sudah diintervensi oleh Densus 88. Namun, ia masih saja mau melancarkan aksinya.

“Pernah membawa pisau ke sekolah dan memiliki koneksi internasional, terdeteksi dengan REDA yaitu pendiri kelompok BNTG di Prancis, yaitu Barber Nationalist Third Positionist Group. Ini adalah gerakan nasionalisme etnis Barber berbasis daring dengan ideologi Third Positionist, berorientasi pada penyatuan identitas dan pembebasan politik etnis,” ucap Mayndra.

Mayndra juga mengatakan bahwa para anak di grup itu saling menginspirasi. Salah satunya, pelaku pengeboman di SMAN 72 Jakarta terindikasi menginspirasi seorang pelaku penusukan di Rusia.

“Nah ini bahkan teridentifikasi ABH ya di SMAN 72, berpose setelah kejadian itu seperti salah seorang pelaku yang di Rusia,” ucap Mayndra.

“Kemudian juga di Singkawang, Kalimantan Barat, sesuai timeline tadi kami sebutkan, juga ditemukan benda-benda yang identik dengan kekerasan. Dan di sini kita bisa menyimpulkan bahwa walaupun tidak bertemu antarmuka, anak-anak ini memiliki kemiripan dalam berperilaku,” tambahnya.

Seperti disebutkan sebelumnya, ada 70 anak di Indonesia yang terpapar radikalisme karena grup tersebut, dengan sebaran DKI Jakarta 15 anak, Jawa Barat 12, Jawa Timur 11, Lampung 1, Jawa Tengah 9, DIY 1, Bali 2, NTT 1, Aceh 1, Sumut 1, Kepri 1, Riau 1, Sumsel 2, Banten 2, Kalbar 2, Kalteng 2, Kalsel 3, Sulteng 1, dan Sultra 2.

Kini, sejumlah 67 anak sudah ditangani oleh Densus 88. “Terhadap 70 anak ini, kurang lebih 67 orang sudah dilakukan asesmen, mapping, konseling, dan sebagainya dengan berbagai stakeholders yang ada di masing-masing wilayah,” jelas Mayndra.

“Adapun sebaran usia daripada 70 anak ini, rentang dari 11 sampai dengan 18 tahun dan didominasi oleh umur 15 tahun. Jadi transisi antara SMP ke SMA,” tambahnya.

Mayndra mengatakan, salah satu faktor terbesar mengapa anak-anak bergabung dengan grup itu adalah perundungan.

“Dari mapping dan asesmen yang dilakukan bersama, bisa diidentifikasi bahwa ada penyebab yang memicu anak-anak bergabung dengan komunitas ini, salah satunya adalah terjadinya perundungan,” ucap Mayndra.

“Rata-rata yang bersangkutan merupakan korban bullying di sekolah atau di lingkungan masyarakat—jadi di luar sekolah. Kemudian broken home, rata-rata orang tuanya bercerai, meninggal dunia, kurang perhatian, keluarga tidak harmonis, trauma di dalam keluarga atau kerap menyaksikan kekerasan di rumahnya,” tambahnya.

Saling Ajarkan Merakit Bom, Ada Grup Jejaring

Mayndra mengungkap bahwa di dalam grup ini, masing-masing anak saling mengajarkan satu sama lain merakit senjata untuk teror.

“Ini salah satu anak yang kami temukan, yang bersangkutan membuat tutorial bagaimana membuat bom dalam bahasa Inggris yang di-upload ya, yang akan di-upload untuk komunitas internasionalnya,” ucap Mayndra.

Tampak di dalam video itu, sang anak tengah merakit bom menggunakan bahan kimia. “be careful because this is the most dangerous one... it can explode... be careful with that,” ucap anak itu di dalam video.

Mayndra menjelaskan bahwa grup ini tidak hanya terpaku pada satu grup saja. Ada 27 grup yang diduga adalah jejaring dari grup tersebut.

“Adapun beberapa nama grup yang terafiliasi dengan True Crime Community ini, rekan-rekan bisa lihat ada puluhan grup,” ucap Mayndra.

“Dan ini masih aktif sebagai sarana kontrol bagi orang tua apabila menemukan grup-grup ini di gawai anaknya, segera untuk diberikan bimbingan ya, bahwa grup-grup ini teridentifikasi berbahaya karena mengajak anak kepada kekerasan,” tambahnya.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Polda Jabar Ambil Alih Pengamanan Duel Persib Vs Persija di BRI Super League: Melibatkan TNI hingga Menggelar Nobar
• 5 jam lalubola.com
thumb
Prabowo Sindir Praktik Curang di SEA Games 2025: Ada Negara yang Bersedia Berbuat Apa Saja untuk Menang
• 6 jam lalutvonenews.com
thumb
Baru Sebulan Bebas, Residivis Jambret Ditangkap Lagi Usai Gasak iPhone Jemaat Gereja di Kelapa Gading
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Louis Vuitton Memperkenalkan Shin Min Ah sebagai House of Ambassador
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
Waketum PASI Sebut Maybank Marathon sebagai Aset Nasional
• 5 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.