Anak Buah Purbaya Beberkan Bukti Ekonomi RI Resilien di Akhir 2025

cnbcindonesia.com
1 hari lalu
Cover Berita
Foto: Direktur Jendral Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu menyampaikan pemaparan dalam acara CNBC Indonesia Economic Update 2025 di Jakarta, Rabu (18/6/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan perekonomian Indonesia pada akhir tahun 2025 menunjukkan ketahanan dalam menghadapi berbagai tekanan, menjadi dasar yang kuat bagi kinerja ekonomi ke depan.

"Perekonomian Indonesia di penutup tahun 2025 tetap resilien, didukung aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus. Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di tahun 2026," ujar Febrio Kacaribu, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, Kementerian Keuangan.


Aktivitas manufaktur Indonesia menunjukkan kinerja positif di akhir tahun 2025. PMI Manufaktur Desember 2025 tercatat sebesar 51,2; ekspansif selama lima bulan berturut-turut.

Baca: Rupiah Dibuka Menguat, Dolar AS Turun ke Rp16.730

"Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku. Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan," sambung Febrio.

Dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif seperti Amerika Serikat (51,8), China (50,1), dan India (55,7). Di kawasan ASEAN, PMI manufaktur Thailand (57,4) dan Malaysia (50,1) juga menguat, memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia.

Kemudian, pada November 2025, neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus US$ 2,66 miliar, melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak Mei 2020. Secara kumulatif Januari - November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar US$ 38,54 miliar, naik USD9,30 miliar (ctc). Ekspor Januari - November 2025 tercatat sebesar US$ 256,56 miliar, meningkat 5,61 % (ctc).

Baca: Top! Ekonomi Tetangga RI Tumbuh 8%, Tarif Trump Gak Ngaruh

Peningkatan ekspor terutama disumbang oleh sektor industri pengolahan dengan kontribusi 10,41 %, mencerminkan meningkatnya nilai tambah ekspor nasional.

Sementara itu, impor pada periode yang sama tercatat sebesar US$ 218,02 miliar, naik 2,03 % (ctc). Penyumbang utama peningkatan impor adalah dari sisi impor Barang Modal dengan kontribusi 3,28%, sejalan dengan aktivitas produksi yang ekspansif.

Ke depan, kata Febrio, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global.

Lebih lanjut, Kemenkeu melihat stabilitas harga di tahun 2025 tetap terjaga tercermin dari tingkat inflasi yang terkendali sebesar 2,92% (yoy). Tingkat inflasi Desember 2025 dipengaruhi oleh naiknya harga beberapa komoditas pangan di tengah tetap menguatnya inflasi inti dan rendahnya inflasi administered price (AP).

"Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi volatile food hingga mencapai 6,21% (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar. Inflasi AP tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93% (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi di periode Nataru," katanya.

Baca: Inflasi RI Capai 2,92% di 2025, BI: Tetap Terjaga!

Sementara itu, inflasi inti tercatat stabil pada level 2,38% (yoy) karena naiknya harga emas perhiasan. Sepanjang tahun 2025, inflasi tetap berada dalam rentang sasaran nasional yang didukung oleh kebijakan intervensi harga dan pasokan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan.

Berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif di akhir tahun 2025. Hingga November, Indeks Keyakinan Konsumen menguat ke level 124, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94% (yoy) didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.

Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari meningkatnya penjualan listrik sektor bisnis sebesar 6,2% (yoy), dengan penjualan listrik rumah tangga dan industri yang tumbuh stabil.

"Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," tutup Febrio.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Purbaya: Injeksi Uang ke Bank Tak Optimal, Ekonomi di Bawah 6%

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pesawat CN-235 Buatan Indonesia Dipakai AS di Operasi Maduro, DPR: Perkuat Alutsista Nasional
• 13 jam lalumerahputih.com
thumb
Hasil Drawing India Open 2026: Lanny/Tiwi Langsung Hadapi Unggulan China
• 15 jam lalutvonenews.com
thumb
BI Beberkan Alasan Pergantian JIBOR ke INDONIA di Pasar Keuangan
• 15 jam lalukumparan.com
thumb
Film The Housemaid Bakal Dapat Sekuel, Proses Produksi Dimulai Tahun Ini
• 8 jam laluinsertlive.com
thumb
Ke PMJ, Dokter Detektif Kawal Pemeriksaan Richard Lee sebagai Tersangka
• 9 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.