NINE melaporkan perkembangan terbaru terkait aset pertambangan Poh Group di Mongolia
IDXChannel - PT Techno9 Indonesia Tbk (NINE) melaporkan perkembangan terbaru terkait aset pertambangan Poh Group di Mongolia yang dimiliki melalui Poh Golden Ger Resources Pte Ltd (PGGR).
Aset tersebut merupakan bagian dari portofolio pertambangan Poh Group yang akan diinjeksi ke dalam NINE sebagai langkah penguatan bisnis pertambangan perseroan. Skema kerja sama yang dipertimbangkan mencakup joint operation (JO) maupun kepemilikan langsung atas aset tambang.
"Perkembangan ini tidak hanya berdampak pada rencana pengembangan aset di luar negeri, tetapi juga berpotensi memberikan dampak material terhadap strategi investasi pertambangan Poh Group di Indonesia ke depan," tulis manajemen NINE dalam keterbukaan informasi, Senin (5/1/2025).
Sebagai informasi, PGGR merupakan entitas yang terafiliasi dengan Poh Group melalui pengendali yang sama, yakni Poh Kay Ping, serta tercatat sebagai pemilik penuh dua konsesi pertambangan di Mongolia.
Seluruh aset pertambangan tersebut bakal dialihkan ke dalam NINE seiring dengan ditandatanganinya opsi pembelian aset oleh perseroan.
Untuk mendukung rencana pengembangan tambang, PGGR juga telah menandatangani Framework Agreement for Mining Cooperation dengan kontraktor Engineering, Procurement and Construction plus Finance (EPC+F) berskala besar di Mongolia.
Mitra EPC+F merupakan perusahaan privat asal Inner Mongolia, China, yang telah berdiri sejak 1998, memiliki lebih dari 1.000 karyawan, serta total aset melebihi USD500 juta.
Perusahaan EPC+F memiliki rekam jejak panjang dalam pengelolaan tambang terbuka dan bawah tanah, serta pengalaman eksploitasi dan manajemen operasi di berbagai negara, termasuk Mongolia dan Indonesia. Dengan basis pengalaman tersebut, mitra EPC+F dinilai memiliki fondasi kuat untuk mendukung kerja sama pertambangan lintas negara.
Entitas EPC+F menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan PGGR, Poh Group, maupun NINE, baik dalam eksploitasi tambang yang dimiliki secara langsung maupun melalui skema kerja sama operasi dengan pihak ketiga di Indonesia.
Namun, realisasi kerja sama akan bergantung pada kelayakan ekonomi setiap proyek serta persetujuan manajemen dan pemegang saham dari seluruh pihak terkait.
Lebih lanjut, mitra EPC+F tersebut juga menyatakan minat dan kapasitas untuk berinvestasi lebih dari USD100 juta guna mendukung operasi pertambangan proyek-proyek PG, NINE, dan PGGR.
Kapasitas produksi tahunan dari proyek-proyek tersebut diproyeksikan dapat melampaui 20 juta ton. Realisasi investasi akan bergantung pada hasil uji tuntas (due diligence) serta persetujuan atau pencatatan investasi luar negeri (Overseas Direct Investment/ODI) dari otoritas China yang berwenang.
Sejalan dengan itu, PGGR bersama pihak terafiliasinya, termasuk NINE juga tengah melakukan negosiasi lanjutan dengan sejumlah perusahaan pertambangan di Indonesia yang memiliki izin usaha pertambangan (IUP) yang sah. Negosiasi tersebut mencakup potensi kerja sama pada komoditas emas, batu bara, timah, hingga bauksit, dengan tujuan memperluas basis sumber daya dan peluang monetisasi aset.
Manajemen menilai, perkembangan ini berpotensi memberikan dampak material bagi pemegang saham NINE terutama jika opsi pembelian aset tambang Mongolia direalisasikan.
Selain itu, keterlibatan perseroan dalam proyek pertambangan di Indonesia ke depan diharapkan dapat membuka jalur monetisasi aset yang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
"Perseroan akan terus menjajaki dan mengembangkan berbagai peluang usaha, baik di Indonesia maupun kawasan regional, guna menciptakan nilai tambah jangka panjang bagi para pemegang saham," tutur manajemen.
Hingga Selasa (6/1/2025), saham NINE melonjak 9,71 persen ke Rp226 hingga menyentuh auto reject atas (ARA). NINE berada di papan pemantauan khusus dan diperdagangkan dengan mekanisme full-call auction (FCA).
(DESI ANGRIANI)




