EtIndonesia. Dalam kurun waktu sekitar satu minggu terakhir, Iran diguncang oleh gelombang aksi protes nasional berskala besar. Puluhan ribu warga di berbagai kota turun ke jalan menentang krisis ekonomi yang semakin parah, korupsi sistemik, serta pemerintahan teokratis yang dipimpin oleh Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Demonstrasi yang awalnya berlangsung sporadis dengan cepat berkembang menjadi perlawanan terbuka, dengan pusat utama berada di ibu kota Teheran, sebelum menyebar luas ke berbagai provinsi.
Namun, sejak awal Januari 2026, respons negara berubah drastis. Aparat keamanan tidak lagi membatasi diri pada pembubaran massa, melainkan secara terbuka menggunakan kekerasan bersenjata terhadap warga sipil, menandai eskalasi paling serius dalam beberapa tahun terakhir.
Serbuan Garda Revolusi di Teheran
Pada malam 4 Januari 2026, sejumlah rekaman dari berbagai sudut Teheran memperlihatkan ratusan personel Garda Revolusi Islam (Garda Revolusi Islam) mengendarai sepeda motor dan menyerbu langsung ke arah massa demonstran.
Pasukan bergerak cepat dan agresif, memaksa warga sipil berlarian menyelamatkan diri ke gang-gang sempit dan permukiman penduduk. Dalam situasi kacau tersebut, terjadi satu momen yang terekam jelas dan menyebar luas di media sosial: seorang warga berlari sendirian ke arah barisan polisi, tanpa perlindungan apa pun.
Aksi nekat itu justru memicu keberanian massa lainnya, yang kemudian ikut maju dan melawan aparat. Adegan tersebut dinilai banyak pihak sebagai titik balik psikologis, ketika rasa takut mulai berubah menjadi perlawanan kolektif.
Slogan Revolusi Menggema di Jalanan
Sejak awal, Teheran menjadi episentrum utama protes nasional. Dalam rekaman malam 4 Januari, terdengar massa besar meneriakkan slogan-slogan keras: “Tahun ini adalah tahun berdarah! Khamenei pasti akan digulingkan!”
Dalam video lain, sekelompok anak muda berteriak serempak: “Ini adalah pertempuran terakhir! Pahlavi pasti akan kembali!”
Seruan tersebut secara terbuka menantang fondasi Republik Islam Iran dan menyiratkan kerinduan terhadap sistem pra-revolusi 1979, sebuah tabu politik yang selama puluhan tahun ditekan oleh negara.
Tembakan di Jalan, Simbol Perlawanan Berkibar
Dari dalam rumah-rumah penduduk, sejumlah warga merekam aparat keamanan bersenjata lengkap yang berjaga di jalan dengan senapan siap tembak. Suara tembakan terdengar berulang kali, menandai eskalasi nyata sejak malam 4 Januari 2026.
Pada hari yang sama, sebuah aksi simbolik mengejutkan terjadi di pusat Teheran. Seorang warga menaikkan bendera Singa dan Matahari, simbol Iran pra-revolusi Islam, di atas jembatan penyeberangan.
Aksi ini langsung dibandingkan oleh warganet dengan insiden Jembatan Sitong tahun 2022 di Beijing, ketika Peng Lifa membentangkan spanduk perlawanan terhadap Partai Komunis Tiongkok—dan hingga kini nasibnya tidak pernah diumumkan secara resmi.
Di pinggiran Teheran, rekaman lain memperlihatkan konvoi besar pasukan keamanan melaju melalui jalan tol menuju ibu kota, memperkuat operasi penindasan di pusat kota.
Protes Menyebar ke Seluruh Negeri
Gelombang perlawanan tidak berhenti di Teheran. Dalam 4–5 Januari 2026, demonstrasi meluas ke berbagai kota besar dan menengah:
• Arak (Iran Tengah)
Massa meneriakkan slogan langsung: “Matilah Khamenei!”
• Marvdasht
Pada 5 Januari 2026, berlangsung pemakaman seorang warga yang tewas dalam aksi protes. Ribuan orang mengiringi jenazah dengan musik duka. Di barisan depan, sejumlah anak muda menembakkan peluru ke udara sebagai penghormatan, sebuah pemandangan yang dinilai sangat mengkhawatirkan bagi rezim.
Pada siang hari yang sama, puluhan ribu pendukung monarki kembali berkumpul di Marvdasht, menyerukan penggulingan rezim Islam, menciptakan suasana yang sangat masif dan emosional.
• Sari, Provinsi Mazandaran
Jalanan hampir berubah menjadi medan perang. Aparat bermotor membubarkan massa secara brutal, sementara demonstran membalas dengan lemparan benda keras. Rekaman lain menunjukkan penangkapan dan pemukulan terbuka terhadap demonstran.
• Fuladshahr
Terdengar rentetan tembakan yang jelas dan beruntun. Massa berhamburan, dan terlihat sejumlah warga tergeletak di jalan.
• Birjand
Mahasiswa universitas turun ke jalan pada malam hari, meneriakkan: “Puluhan tahun kejahatan dan korupsi! Kita harus menggulingkan rezim ini!”
• Ilam
Pasukan khusus menyerbu sebuah rumah sakit yang sebelumnya dikuasai demonstran. Rekaman memperlihatkan penembakan dan pengejaran brutal di dalam area medis, memicu kepanikan besar di kalangan pasien dan tenaga kesehatan.
Internet Diputus, Dunia Tetap Menyaksikan
Pada 4–5 Januari 2026, pemerintah Iran memutus sebagian besar akses internet nasional untuk membendung arus informasi. Namun pada pagi 5 Januari, koneksi kabel kembali aktif di sejumlah wilayah, memungkinkan video-video anti-pemerintah kembali menyebar secara global.
Data lapangan menunjukkan bahwa dalam dua hari terakhir, Kementerian Dalam Negeri Iran mengerahkan sekitar 50.000–70.000 personel keamanan ke seluruh negeri. Pola yang terlihat konsisten: aparat berjaga ketat di siang hari, sementara demonstrasi besar meletus setelah malam tiba.
Situasi Kritis dan Arah Tak Pasti
Hingga kini, belum terlihat strategi efektif dari massa untuk menghadapi penindasan bersenjata langsung. Sementara itu, laporan mengenai korban sipil terus bertambah, meski angka resmi belum diumumkan pemerintah.
Iran kini berada di persimpangan sejarah: antara konsolidasi kekuasaan melalui kekerasan, atau terbukanya babak baru perubahan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya sejak Revolusi Islam 1979.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5466038/original/017678100_1767792871-Mendagrii.jpeg)


