Argentina baru-baru ini menghentikan rencana kerja sama dengan Tiongkok untuk membangun teleskop radio satu-piring terbesar di Amerika Latin (CART). Langkah ini dipandang sebagai contoh terbaru dari persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok di Belahan Bumi Barat.
EtIndonesia. Presiden Argentina Javier Milei baru-baru ini menghentikan proyek kerja sama dengan Tiongkok untuk membangun teleskop radio satu-piring terbesar di Amerika Latin (CART).
Proyek ini merupakan kerja sama besar antara Argentina dan Tiongkok, di mana Argentina menyediakan lokasi, sementara Tiongkok menyediakan pendanaan dan teknologi, dengan total investasi sekitar 24 juta dolar AS. Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sebelumnya mempertanyakan potensi penggunaan militer dari proyek tersebut, serta menyatakan kekhawatiran bahwa teknologi terkait dapat dialihkan untuk kegiatan pengawasan.
Langkah ini dianggap sebagai perkembangan terbaru dalam persaingan AS–Tiongkok di Belahan Bumi Barat. Amerika Serikat berencana memberikan fasilitas pertukaran mata uang (currency swap) senilai 20 miliar dolar AS kepada Argentina, sementara pemerintah Argentina secara diplomatik menyesuaikan diri dengan AS untuk menyingkirkan pengaruh Partai Komunis Tiongkok (PKT).
Hal ini juga mencerminkan strategi keamanan nasional baru Amerika Serikat yang dirilis pada 4 Desember 2025, yang melalui apa yang disebut sebagai “Korelasi Trump” yang mana berupaya menghidupkan kembali Doktrin Monroe, memperkuat keunggulan AS di Belahan Bumi Barat. Tujuan utamanya adalah menangani masalah imigrasi dan narkoba, serta membendung pengaruh PKT dan kekuatan lain di Amerika Latin.
“Strategi Amerika Serikat menekankan prinsip bahwa Belahan Bumi Barat tidak boleh diintervensi oleh kekuatan asing. Dalam prinsip ini, yang dimaksud jelas adalah Tiongkok dan Rusia,” kata Wakil Profesor Huang Fu-juan dari Departemen Ekonomi Politik Global Universitas Tamkang .
“Cara Tiongkok masuk ke Amerika Latin adalah dengan membentuk sebuah forum komunitas Tiongkok–Amerika Latin yang melibatkan 33 negara Amerika Latin secara langsung, untuk menyingkirkan Amerika Serikat. Mereka tidak ingin melakukannya secara terang-terangan, sehingga menyebutnya sekadar forum, tetapi pada kenyataannya forum itu mengurusi hampir semua hal,” tambahnya.
Para akademisi menunjukkan bahwa setidaknya dalam 15 tahun terakhir, PKT sangat mementingkan pengelolaan strategis di Amerika Latin. Tujuannya adalah mempererat hubungan dengan negara-negara Amerika Latin untuk menekan hubungan diplomatik Taiwan di kawasan tersebut, sekaligus mencari pasar bagi produk industri Tiongkok dan mengimpor produk pertanian dari Amerika Latin. Namun, tujuan-tujuan ini mulai berubah sejak masa jabatan pertama Trump.
“Amerika Serikat menyadari bahwa Amerika Latin, yang sebelumnya merupakan mitra yang dapat diandalkan, ternyata tidak lagi sepenuhnya dapat diandalkan. Karena kemudahan transportasi darat, kawasan ini menjadi jalur masuk berbagai narkoba baru, terutama fentanil,” kata Wakil Dekan Fakultas Bisnis Universitas Loyola Maryland, Ding Hongbin.
“Ditambah lagi, selama 20 tahun terakhir, masalah imigrasi dari Amerika Latin semakin menjadi beban bagi AS, sehingga diperlukan langkah-langkah yang lebih tegas. Dalam masa jabatan kedua Trump, pemerintah AS dengan jelas kembali menempatkan Amerika Latin sebagai inti kebijakan luar negerinya,” tambahnya.
Ding Hongbin menambahkan bahwa langkah-langkah ini pada dasarnya merupakan tindakan balasan Amerika Serikat terhadap upaya PKT selama lebih dari dua dekade terakhir.
Mengikuti langkah Amerika Serikat, PKT pada 10 Desember 2025 merilis dokumen kebijakan ketiganya berjudul “Kebijakan terhadap Amerika Latin dan Karibia”, yang menekankan pembangunan pola baru hubungan Tiongkok–Amerika Latin yang bersifat “lima-dalam-satu”, serta secara eksplisit menyatakan akan membagikan apa yang disebut sebagai model modernisasi PKT. Tujuan untuk menghadapi Amerika Serikat terlihat sangat jelas.
“Kita melihat dokumen putih ketiga ini seperti respons Tiongkok karena Amerika Serikat mulai bereaksi keras. Tiongkok juga ingin menyampaikan kepada para mitranya di Amerika Latin bahwa kerja sama harus terus berlanjut, bahkan diperkuat lebih jauh,” kata Hongbin.
Huang Fu-juan menilai: “Kecemasan PKT mungkin terletak pada ketidakmampuannya mengendalikan negara-negara Amerika Latin. Mereka tahu bahwa kawasan ini sejak lama merupakan ‘halaman belakang’ Amerika Serikat. Ketika AS mengabaikan kawasan tersebut, negara-negara Amerika Latin merasa memiliki ruang gerak yang besar, dan kekuatan kiri pun bangkit. Namun, karena pemerintahan kiri sering gagal dalam tata kelola dan distribusi, setelah gelombang kiri meredup, kubu kanan kembali berkuasa. Kebangkitan kanan ini kebetulan sejalan dengan ideologi Amerika Serikat.”
Tahun lalu, karena kekurangan dana, Argentina juga menghentikan dua proyek pembangkit listrik tenaga air yang telah dikerjakan perusahaan Tiongkok selama sepuluh tahun di Provinsi Santa Cruz.
Panama tahun ini keluar dari prakarsa “Belt and Road”. Meskipun transaksi pelabuhan Terusan Panama belum memiliki kesimpulan akhir, campur tangan dan ambisi PKT telah terungkap. Sementara itu, sekutu lama PKT, pemerintah Nicolás Maduro di Venezuela, kini menghadapi tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari pemerintahan Trump.
“Sejauh ini, saya belum melihat pemerintah Tiongkok benar-benar mampu membuat Amerika Latin berpihak kepadanya ketika negara-negara di kawasan ini harus memilih. Sampai saat ini, saya tidak melihat banyak negara Amerika Latin yang bersedia berdiri di pihak Tiongkok, kecuali segelintir kasus yang sangat terbatas, seperti Venezuela. Namun ini tidak berarti Tiongkok tidak akan terus berupaya di masa depan untuk melemahkan pengaruh Amerika Serikat di kawasan ini,” ujar Ding Hongbin.
Ding Hongbin menambahkan bahwa ke depan, Amerika Serikat akan berupaya semaksimal mungkin untuk mencegah PKT memperluas pengaruhnya di Amerika Latin, serta mewaspadai aktivitas spionase dan infiltrasi yang tersembunyi di balik berbagai kegiatan tersebut. (Hui)
Shang Yan/Yi Ru, Fei Zhen/Gao Yu



