Air bah itu tak membuat kita tenggelam, nak. Dia menghisap kita, ke dalam lubang hitam.
Dari air bah itu, kita tak bisa bersembunyi, nak. Kita pun menyesali, kita merugi.
Dari air bah itu, nak, pada siapa mohon perlindungan. Buku-buku kita, melamunkan sebuah perjalanan.
Hari itu, 26 November 2025 hujan turun deras sekali. Syaiful, dengan kedua tangannya mengangkat sigap buku-buku di perpustakaan SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.
Buku ditumpuk setinggi lutut untuk kemudian diangkat dan ditadah menjulang bersandar pada dada. Perlahan, Syaiful dan buku-buku menyeberang ke gedung kelas, mulai menaiki anak tangga di lantai dua.
"Saya sempat selamatkan buku dari lantai 1 (perpustakaan) ke lantai 2," kenang Kepala Sekolah SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Syaiful, ditemui di hari pertama sekolah pasca banjir bandang dan longsor Sumatra, Senin, 5 Januari 2026.
Air yang mulai menggenang memaksanya lekas memindahkan buku. Namun, hari itu tak ada yang membantunya di sekolah.
Hujan yang begitu derasnya membuat murid-murid urung ke sekolah. Guru lain pun berhalangan.
"Hujan tidak berhenti empat hari empat malam (sejak 23 November). Setelah saya ke mari anak-anak tidak ada yang hadir karena memang hujan lebat sekali," cerita dia.
Alarm makin kencang dan membuat pengang. Denging dalam kepala Syaiful memaksanya harus mencari bantuan seadanya. Pemuda yang biasa duduk di jalanan depan sekolah dipanggilnya untuk membantu mengangkat buku-buku sebisanya.
"Saya panggil ada sekitar sembilan orang. 'Coba bantu bapak angkatkan buku, nanti saya bayar'," ujar Syaiful mengulang permintaannya.
Tapi, pada akhirnya mereka semua tersesat. Dalam upaya menyelamatkan buku, kata-kata tanggal berceceran, berserakan, lepas dari kertas, melekat pada lumpur.
Sore itu, pada pekerjaan yang belum selesai, Syaiful terpaksa meninggalkan sekolah. Air tinggi mengepung perjalanannya menuju rumah.
"Ketinggian air di sini tujuh meter. Lantai dua sepinggang. Bukunya pun tenggelam. Saya sedih, tapi capek," ujar Syaiful dalam getir.
SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Kelopak bawah matanya mulai berembun saat mengenang hari itu. Usahanya berasal dari kata paling sakral yang dirindukan pada masa penanggulangan bencana: tanggung jawab.
"Saya bertanggung jawab dengan pekerjaan, keluarga, tapi insyaallah kita diberikan kekuatan sehingga kita bisa selamat. Air sudah naik," lanjut dia.
SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang dibenam air bah setinggi 7 meter. Lantai dua yang diperkirakan jadi ruang aman ternyata bias saja.
Syaiful pun menunjukkan foto-foto. Hampir tak mengenali bangunan sekolahnya yang hanya menampilkan ujung atap dengan air yang mengelilingi atap itu.
SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang terendam satu minggu. Air seperti enggan pergi dari sekolah itu. Setelah air surut di hari ke-7, masih tersisa lumpur setinggi 30 cm di seluruh penjuru sekolah, masuk dalam kelas-kelas.
Makin koyak hati Syaiful, ketika tahu seorang muridnya meninggal dunia karena bencana itu. Anak itu meninggal dunia tertimbun dalam rumah.
"Air memang tak pernah sebesar ini," nanar dalam mata Syaiful.
Hari kemudian berlalu, minggu, bahkan bulan. Seiring air perlahan surut, asa kembali dikumpulkan. Tanggung jawab ada di dua pundaknya.
Baca Juga :
Perdana Masuk Sekolah Pasca Banjir, Perasaan Siswa di Aceh Tamiang Campur AdukPiala-piala terendam banjir. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Dengan segala upaya, sekolah mulai dibersihkan. Warga saling bantu. Hingga akhirnya, tepat di hari ke-42 setelah banjir datang, sekolah kembali dibuka.
Anak-anak datang ke sekolah. Ada yang berseragam, ada yang dengan kaos seadanya. Ada yang bersepatu, ada pula yang memakai sandal ala kadarnya.
Semua kembali melihat sekolah yang berbeda. Wajah baru SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang yang berwarna lumpur.
Bunga-bunga berwarna-warni yang dulu penuh di halaman sekolah sudah usang, kering bersama lumpur. 21 ruang kelas kosong tanpa meja dan kursi.
Meja dan kursi belajar siswa yang tersisa jungkir balik ditumpuk dan berjamur di depan kelas. Sudah tak bisa dipakai, reyot dan lapuk karena air.
Laboratorium hanya menyimpan tumpukan kertas lembab. Piala-piala yang dulu dibanggakan dan tersimpan dalam lemari kaca cemerlang kini tergeletak, patah berserakan di lantai ruang guru.
"Aset habis," terang Syaiful.
Meja dan kursi terendam banjir. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Luka adalah niscaya. Dengan celaka yang nyata itu, semua harus terbiasa. Bagaimanapun semua, harus bertahan dan melanjutkan. Kembali berdaya.
Semua itu telah dibuktikan Syaiful sebagai Kepala Sekolah bersama 54 guru dan 15 tenaga pendidik di SMAN 4 Kejuruan Muda. Anak-anak yang kembali hadir ke sekolah menautkan kembali nyawa semangat. Memberi asa dan kesempatan yang lebih panjang.
Cobaan sudah khatam. Semua di sini, di sekolah, pasca paceklik. Semua melalui banjir yang membawa rentetan persoalan.
Dalam suasana hari pertama sekolah ini, para siswa kembali meniti jalan. Pagi itu, begitu teduh. Satu persatu siswa datang melintas gerbang. Berkumpul di tanah lapang tengah sekolah.
Perasaan bahagia bercampur haru menyelimuti siswa-siswi. Namun yang jelas simpul senyum mereka kembali dirajut.
"Senang ketemu teman-teman lagi, kami lihat guru-guru kami lagi," sebut salah seorang siswi SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Maya Liani.
Maya dan sejumlah temannya hadir tak berseragam. Ada yang juga beralas kaki sandal. Tapi tak mengapa, karena semua dalam suasana penuh yakin jika sekolah masih ada, teman dan guru masih setia.
"Kita harapkan kondisi makin membaik, yang penting anak-anak bersama-sama, kita lewati ini bersama," kata Guru Bahasa Indonesia SMAN 4 Aceh Tamiang, Misriati.
Sebulan lagi, tiga bulan lagi, atau bahkan setahun lagi. Semua belum serba pasti untuk mencapai kata pulih sedia kala. Tapi titik-titik harapan itu mulai tampak.
Janji-janji sudah mereka dengar dalam keletihan yang jelas tak tergambarkan. Baik pemerintah pusat maupun daerah sudah mengutip data kebutuhan sekolah, guru dan siswa.
Berharap tak satu pun luput. Agar mampu yang diimpikan tak surut seperti banjir yang sudah menyusut.
Siswi SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Maya Liani. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Baca Juga :
Meja dan Kursi Sekolah Tersapu Banjir, Siswa SMAN 4 Aceh Tamiang Belajar di LantaiMenteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan hari pertama sekolah memiliki makna penting sebagai momentum kebangkitan dan penguatan semangat belajar murid. Ia mengajak seluruh warga satuan pendidikan untuk tetap bersyukur dan menjaga optimisme, meskipun proses pemulihan belum sepenuhnya selesai.
“Musibah menempa kita menjadi pribadi yang lebih kuat, tabah, dan kreatif,” ujar Mu’ti saat menjadi Pembina Upacara di SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Senin, 5 Januari 2026.
Mu’ti menuturkan kehilangan akibat bencana tidak boleh menghilangkan cita-cita dan harapan murid sebagai generasi penerus bangsa. Menurutnya, pendidikan harus tetap berjalan dalam kondisi apa pun karena semangat belajar mampu melampaui keterbatasan sarana dan prasarana.
“Anak-anak adalah harapan Indonesia masa depan. Jangan pernah berhenti bercita-cita dan jangan kehilangan semangat. Keterbatasan tidak boleh mematahkan tekad untuk terus belajar dan memperbaiki diri,” pesan dia. Bantuan sekolah Kemendikdasmen sudah mengalokasikan anggaran revitalisasi secara berkelanjutan bagi satuan pendidikan yang masih dalam proses pemulihan. Termasuk melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan pada tahun anggaran 2026.
Selain itu, dibagikan 2.000 paket school kit berupa tas, alat tulis, seragam kepada murid dan sekolah terdampak. Serta diberikan dukungan berupa voucher uang tunai untuk membantu pembersihan sisa material banjir di lingkungan sekolah wilayah Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Langsa.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti dan Kepala Sekolah SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang, Syaiful. Medcom.id/Ilham Prata Putra Belajar mengajar di wilayah bencana Sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran di wilayah terdampak bencana, Kemendikdasmen menetapkan Petunjuk Teknis Penyelenggaraan Pembelajaran pada Satuan Pendidikan Terdampak Bencana. Petunjuk teknis ini bertujuan memastikan layanan pendidikan tetap berjalan dengan mengutamakan keselamatan, kesejahteraan, dan pemulihan murid pascabencana.
Dalam petunjuk teknis tersebut ditegaskan satuan pendidikan tetap mengacu pada kurikulum nasional. Namun diberikan ruang penyesuaian kurikulum secara fleksibel sesuai kondisi dan tingkat dampak bencana.
Penyesuaian difokuskan pada pembelajaran materi esensial. Khususnya yang mendukung pemulihan psikososial, kesehatan dan keselamatan diri, mitigasi bencana, serta penguatan literasi dan numerasi.
Pelaksanaan pembelajaran dilakukan secara adaptif dan kontekstual. Semua disesuaikan dengan mempertimbangkan kesiapan sarana prasarana, kondisi lingkungan sekolah, serta keadaan fisik dan psikologis murid.
Satuan pendidikan diharapkan dapat memanfaatkan ruang belajar alternatif, kelas darurat, maupun pengaturan waktu belajar yang disesuaikan. Agar proses pembelajaran tetap berlangsung secara aman dan bermakna di tengah keterbatasan yang masih melanda.
Petunjuk teknis ini juga mengatur penilaian hasil belajar dilaksanakan fleksibel, tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik, melainkan pada kehadiran, partisipasi, proses belajar, serta kenyamanan murid. Guru diberikan kewenangan untuk menyesuaikan metode asesmen sesuai kondisi nyata di lapangan.
Kegiatan belajar mengajar di SMAN 4 Aceh Tamiang mulai perdana pascabanjir pada Senin, 5 Januari 2026. Medcom.id/Ilham Pratama Putra Debu-debu berterbangan Lumpur-lumpur sisa banjir mulai bersih. Meski keraknya masih terselip di antara celah keramik kelas, di antara kisi jendela, bahkan juga di dahan-dahan kering sekolah.
Angin sesekali meniupkan debu-debunya. Bertebangan. Tapi di antara debu-debu berterbangan itu, asa sudah menyala.
Pendidikan mesti direnggut kembali. Guru mesti berjuang lagi. Mengantarkan para siswa menuju sukses meski harus membelah banjir.
Berharap banjir tidak datang lagi. Demi masa, yang sungguh membuat semua serupa tersesat-entah untuk berapa lama.
"Anak-anak harus punya motivasi dan semangat belajar. Menghilangkan trauma ini, mudah-mudahan kami kuat," kata Syaiful, sang kepala sekolah SMAN 4 Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)





