Ketika Slank Terlambat Mengkritik

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Tidak ada kritik yang benar-benar netral; setiap suara membawa sejarahnya sendiri. Slank, yang dahulu dikenal menyanyikan perlawanan dari jarak aman tribun rakyat, pernah melangkah jauh hingga ke panggung kekuasaan itu sendiri. Maka ketika lagu Republik Fufufafa dirilis, publik tidak hanya mendengar kritik terhadap politik dinasti, tetapi juga gema dari masa lalu yang belum sepenuhnya dipertanggungjawabkan: mengapa keberanian itu baru menemukan suaranya sekarang, dan bukan ketika kekuasaan berada di puncak kekuatannya?

Pada titik inilah kritik Slank perlu dibaca dalam dua bingkai sekaligus. Antonio Gramsci mengingatkan bagaimana seniman dapat beralih peran menjadi intelektual organik yang menopang hegemoni kekuasaan melalui legitimasi kultural, sementara Jürgen Habermas menegaskan bahwa kritik publik kehilangan daya ketika jaraknya dengan kekuasaan semakin menipis dan ruang otonomnya menghilang.

Selama dua periode pemerintahan Joko Widodo, Slank tidak berada di luar orbit kekuasaan. Mereka tampil sebagai juru kampanye, menjadi simbol kultural pendukung rezim, bahkan sebagian personelnya masuk ke dalam struktur kekuasaan formal. Dalam kerangka Gramsci, posisi ini menempatkan Slank sebagai bagian dari proses pembentukan consent-persetujuan publik-yang menjadi fondasi utama hegemoni modern. Kekuasaan bekerja bukan semata melalui paksaan, melainkan melalui penerimaan sosial yang dibangun secara kultural.

Masalah muncul ketika aktor budaya telah sedekat itu dengan kekuasaan. Jarak kritis menjadi persoalan serius. Kritik yang datang dari posisi semacam ini hampir selalu dibaca dengan kecurigaan-bukan karena substansinya keliru, melainkan karena relasi kekuasaannya ambigu. Di sinilah relevansi Habermas menjadi penting: kritik publik hanya efektif ketika lahir dari ruang yang relatif otonom dari negara dan kepentingan kekuasaan. Tanpa jarak tersebut, kritik kehilangan fungsi korektifnya dan berisiko menjadi sekadar variasi wacana internal.

Persoalan utama lagu Republik Fufufafa bukan terletak pada apa yang dikritik, melainkan kapan kritik itu disuarakan. Kritik muncul bukan ketika kekuasaan berada pada fase konsolidasi paling kuat-saat pelemahan institusi demokrasi, pembungkaman kritik, dan konsentrasi kekuasaan berlangsung-melainkan ketika isu regenerasi dan pewarisan kekuasaan mulai memicu kegelisahan publik. Dalam konteks ini, kritik menjadi relatif aman secara politik.

Dari sudut pandang rational choice theory, aktor-termasuk aktor budaya-dipahami sebagai subjek yang mempertimbangkan biaya dan manfaat dari setiap tindakan. Kritik yang muncul ketika risiko politik rendah cenderung dibaca sebagai kritik yang telah melalui kalkulasi rasional. Keberanian semacam ini kerap dipersepsikan sebagai keberanian yang terlambat, bukan keberanian yang lahir dari taruhan moral.

Fenomena tersebut juga berkaitan dengan konsep co-optation dalam ilmu politik: proses ketika kekuasaan menyerap aktor-aktor kritis ke dalam sistem, meredam daya oposisi mereka, lalu menjadikan kritik sebagai ornamen demokrasi. Ketika aktor yang telah lama terkooptasi kembali bersuara kritis tanpa refleksi terbuka atas keterlibatan masa lalunya, kritik itu kehilangan daya subversifnya.

Dari sisi etika politik, persoalan ini menyentuh wilayah virtue ethics. Legitimasi moral tidak ditentukan oleh satu tindakan simbolik, melainkan oleh konsistensi karakter dalam lintasan waktu. Keberanian yang tidak hadir ketika risiko paling tinggi akan selalu tampak timpang, betapapun relevan substansi kritik yang disampaikan.

Dalam arena simbolik, sebagaimana dijelaskan Pierre Bourdieu, seniman juga mengelola modal simbolik berupa reputasi dan citra moral. Reputasi sebagai “suara perlawanan” adalah aset kultural yang bernilai tinggi. Namun aset ini hanya bertahan jika dijaga melalui koherensi antara karya, sikap politik, dan praktik hidup. Ketika koherensi itu melemah, publik akan membaca kritik bukan sebagai sikap etis, melainkan sebagai upaya mempertahankan citra lama.

Penting ditegaskan, kritik terhadap Slank bukanlah penolakan terhadap kritik atas politik dinasti. Justru sebaliknya, ini merupakan bagian dari akuntabilitas demokratis. Dalam demokrasi yang sehat, tidak hanya kekuasaan yang harus diuji, tetapi juga para pengkritiknya-terutama ketika mereka pernah menjadi bagian dari kekuasaan itu sendiri.

Dalam demokrasi, bukan hanya kekuasaan yang harus diuji, tetapi juga sejarah keberanian para pengkritiknya. Kritik yang lahir tanpa refleksi atas keheningan masa lalu berisiko menjadi sekadar koreksi simbolik-bukan koreksi moral. Dan ketika kritik kehilangan dimensi moralnya, ia tak lagi berfungsi sebagai penyangga demokrasi, melainkan hanya sebagai gema yang terdengar setelah risiko menghilang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Buruh akan Demo Besar-besaran di Istana Negara Besok 8 Januari 2026
• 15 jam lalukompas.tv
thumb
Presiden Prabowo Wujudkan Kampung Haji Dekat Masjidil Haram
• 11 jam lalutvrinews.com
thumb
Tren Positif Angkutan Penumpang 2025: Penumpang Daop 7 Madiun Tumbuh 9 Persen, Kereta Api Makin Jadi Pilihan Utama
• 2 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Timnas Indonesia Dipastikan Tanpa Thom Haye dan Shayne Pattynama di FIFA Series 2026, John Herdman Diprediksi akan Turunkan Formasi Ini
• 9 jam lalutvonenews.com
thumb
Menteri Agama Tebar Semangat Kebersamaan di Puncak HAB ke-80 di Bone
• 9 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.