Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengatakan sejak awal bencana sebanyak 3.719 relawan dikerahkan guna mendukung pelayanan kesehatan di wilayah terdampak di Provinsi Aceh melalui berbagai fasilitas pelayanan, termasuk 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pengungsian.
“Kami mengerahkan seluruh potensi tenaga kesehatan (nakes) yang ada dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan dapat menjangkau setiap daerah sesuai kebutuhannya,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan seluruh relawan dimobilisasi dan dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) sesuai dengan prosedur penanganan bencana Kemenkes.
Adapun HEOC, kata dia, dibentuk sejak hari pertama hingga hari ketiga bencana di seluruh wilayah terdampak. Pusat kendali ini berperan menganalisis kebutuhan nakes sekaligus mengatur lalu lintas, alokasi, dan pergerakan relawan, agar pelayanan kesehatan berjalan efektif dan merata.
Baca juga: Kemenkes kirim 366 nakes relawan, pulihkan layanan kesehatan di Aceh
Mengutip laporan kumulatif Sub Klaster Pelayanan Kesehatan, relawan tersebar di 18 kabupaten/kota serta tingkat provinsi. Konsentrasi relawan terbesar berada di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 1.065 orang dan Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 923 orang.
"Sejak hari kedua bencana, relawan kesehatan mulai ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan. Saat ini layanan kesehatan diberikan melalui sekitar 309 puskesmas, 23 RS pemerintah (RSUD dan RS TNI/Polri), dan 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pos pengungsian," ujarnya.
Agus menyoroti tantangan utama dalam langkah ini yakni memastikan rotasi relawan berjalan lancar tanpa mengganggu kontinuitas layanan di fasilitas kesehatan.
“Dengan rata-rata masa tugas relawan 10–12 hari, penugasan diatur agar setiap fasilitas tetap memiliki tenaga kesehatan setiap saat,” katanya.
Baca juga: Kemenkes bakal kirim relawan ke 6 desa terisolasi di Bintang Aceh
Dari sisi komposisi profesi, lanjutnya, relawan didominasi tenaga medis lapangan. Perawat menjadi profesi terbanyak dengan 923 orang, disusul nakes lainnya sebanyak 766 orang, dokter umum 736 orang, dan dokter spesialis 264 orang.
Selain itu, terdapat 179 apoteker, 124 bidan, serta 350 tenaga non kesehatan yang mendukung operasional layanan. Sejumlah profesi pendukung juga diterjunkan, antara lain tenaga sanitasi lingkungan, logistik, gizi, psikologi klinis, hingga entomolog kesehatan.
Berdasarkan asal instansi, mayoritas relawan berasal dari unsur pemerintah dengan jumlah 2.399 orang. Dukungan juga diberikan oleh kalangan akademisi sebanyak 780 orang, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebanyak 307 orang, serta organisasi profesi sebanyak 233 orang.
Baca juga: Kemenkes upayakan perluas imunisasi anak di wilayah terdampak bencana
“Kami mengerahkan seluruh potensi tenaga kesehatan (nakes) yang ada dan terus memantau distribusi relawan agar bantuan dapat menjangkau setiap daerah sesuai kebutuhannya,” kata Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes Agus Jamaludin di Jakarta, Selasa.
Dia menjelaskan seluruh relawan dimobilisasi dan dikoordinasikan melalui Health Emergency Operation Center (HEOC) sesuai dengan prosedur penanganan bencana Kemenkes.
Adapun HEOC, kata dia, dibentuk sejak hari pertama hingga hari ketiga bencana di seluruh wilayah terdampak. Pusat kendali ini berperan menganalisis kebutuhan nakes sekaligus mengatur lalu lintas, alokasi, dan pergerakan relawan, agar pelayanan kesehatan berjalan efektif dan merata.
Baca juga: Kemenkes kirim 366 nakes relawan, pulihkan layanan kesehatan di Aceh
Mengutip laporan kumulatif Sub Klaster Pelayanan Kesehatan, relawan tersebar di 18 kabupaten/kota serta tingkat provinsi. Konsentrasi relawan terbesar berada di Kabupaten Pidie Jaya sebanyak 1.065 orang dan Kabupaten Aceh Tamiang sebanyak 923 orang.
"Sejak hari kedua bencana, relawan kesehatan mulai ditempatkan di berbagai fasilitas pelayanan. Saat ini layanan kesehatan diberikan melalui sekitar 309 puskesmas, 23 RS pemerintah (RSUD dan RS TNI/Polri), dan 377 pos kesehatan yang menjangkau 1.008 pos pengungsian," ujarnya.
Agus menyoroti tantangan utama dalam langkah ini yakni memastikan rotasi relawan berjalan lancar tanpa mengganggu kontinuitas layanan di fasilitas kesehatan.
“Dengan rata-rata masa tugas relawan 10–12 hari, penugasan diatur agar setiap fasilitas tetap memiliki tenaga kesehatan setiap saat,” katanya.
Baca juga: Kemenkes bakal kirim relawan ke 6 desa terisolasi di Bintang Aceh
Dari sisi komposisi profesi, lanjutnya, relawan didominasi tenaga medis lapangan. Perawat menjadi profesi terbanyak dengan 923 orang, disusul nakes lainnya sebanyak 766 orang, dokter umum 736 orang, dan dokter spesialis 264 orang.
Selain itu, terdapat 179 apoteker, 124 bidan, serta 350 tenaga non kesehatan yang mendukung operasional layanan. Sejumlah profesi pendukung juga diterjunkan, antara lain tenaga sanitasi lingkungan, logistik, gizi, psikologi klinis, hingga entomolog kesehatan.
Berdasarkan asal instansi, mayoritas relawan berasal dari unsur pemerintah dengan jumlah 2.399 orang. Dukungan juga diberikan oleh kalangan akademisi sebanyak 780 orang, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) sebanyak 307 orang, serta organisasi profesi sebanyak 233 orang.
Baca juga: Kemenkes upayakan perluas imunisasi anak di wilayah terdampak bencana




