Setelah 5 Tahun Mangkrak, Ini Wajah Baru Pasar Kombongan 

kompas.id
1 hari lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS - Pasar Kombongan di Kemayoran, Jakarta Pusat, akhirnya diresmikan setelah lima tahun mangkrak. Tampilan lebih segar diharapkan mendongkrak roda perekonomian sekaligus ikhtiar memoles kembali wajah muram pasar-pasar se-Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meresmikan pasar itu pada Selasa (6/1/2026). Bangunan pasar berdiri di atas lahan 2.664 meter persegi. Warnanya kuning gading dengan akses oranye dan ornamen gigi balang, khas Betawi.

Pasar ini terdiri dari dua lantai seluas 1.888 meter persegi. Lantai dasar diisi 71 kios dan 50 los pedagang, serta lantai 1 ada 50 kios.

Perumda Pasar Jaya melengkapi Pasar Kombongan dengan mushala, ruang laktasi, loading area, panel surya, kamera pemantau (CCTV), proteksi kebakaran, tempat pembuangan sampah sementara, dan lainnya.

Pedagang tak hanya melayani transaksi tunai. Setiap kios dan los menyediakan QRIS untuk pembayaran digital.

Baca Juga60 Pasar Tradisional di Jakarta Tidak Layak

Saat seremoni peresmian, Pramono bertanya kepada dua pedagang. Dia menanyakan apa yang harus dilakukan supaya makin pembeli datang ke pasar tersebut.

Imam, perwakilan pedagang, bersyukur dengan bangunan pasar yang begitu mewah. Namun, ada satu kendala yang dihadapi pedagang dan pembeli, yaitu akses antara pasar dan permukiman yang tertutup.

Pasar Kombongan terletak di belakang Stasiun Kemayoran. Pelintasan sebidang jadi penghubung antara pasar dan permukiman.

Saat ini pelintasan sebidang sudah ditutup. Pedagang dan pembeli harus memutar untuk pergi dan pulang.

"Banyak keluhan dari pembeli yang sudah berumur. Jadi jauh karena mutar dari pemukiman," tambah Imam.

Baca JugaMemoles Wajah Pasar di Jakarta dengan Konsep ”Mixed Use Development”

Sarwono, pedagang lainnya, mengamini hal tersebut. Kepada Pramono, ia menyebut dahulu Pasar Kombongan ramai karena lalu lalang kendaraan.

"Kami minta dibuka sedikit aksesnya. Paling tidak sepeda motor. Supaya pasar bisa kembali seperti sedia kala," ucap Sarwono.

Mendengar itu, Pramono meminta jajarannya untuk menindaklanjuti keluhan tersebut. Ia akan mengupayakan solusi yang tepat karena jalur kereta api tidak bisa diganggu gugat.

"Yang bisa kami upayakan bagaimana cara membuka akses supaya pembeli lebih mudah datang dan berbelanja di pasar," ucap Pramono.

Selain itu, politisi PDI-Perjuangan ini meminta pedagang untuk menjaga kebersihan pasar. Kemudian, memanfaatkan QRIS. Menurut Pramono, QRIS mempermudah transaksi serta mengurangi potensi pencopet dan pemalak karena minim pemakaian uang tunai.

Memoles pasar

Sampai awal 2026, Perumda Pasar Jaya telah merevitalisasi 16 pasar, mengecat ulang 86 pasar, membangun sarana olahraga di atas 27 pasar, dan merevitalisasi toilet di 9 titik lokasi pasar.

Langkah ini untuk menciptakan lingkungan pasar yang lebih bersih, sehat, aman, dan nyaman, sekaligus menambah daya tarik pasar tradisional sebagai penggerak ekonomi kerakyatan.

Direktur Utama Perumda Pasar Jaya Agus Himawan menuturkan, hampir 84 persen pasar diperbaiki per Desember 2025. Pasar disebut bebas dari kesan kumuh, termasuk menertibkan juru parkir liar melalui kerja sama dengan pihak ketiga, dan membereskan masalah hukum agar pengelolaan pasar lebih optimal.

"Pasar kami hidupkan kembali. Pasar Blok A Fatmawati, misalnya, sudah beres masalah hukumnya dan sedang berproses untuk perbaikan," ujar Agus.

Baca JugaMengapa 60 Persen Pasar Tradisional di Jakarta Tidak Layak?

Pada tahun 2025, dilaporkan lebih dari sepertiga pasar di Jakarta sudah tidak layak. Dari 153 pasar yang dikelola Perumda Pasar Jaya, 80 pasar dalam kondisi baik, 30 cukup baik, 34 rusak, dan 9 dalam pembangunan per September 2025.

Lain lagi data versi Pusat Koperasi Pedagang Pasar (Puskoppas) Jakarta. Ada 60 pasar dalam kondisi tidak layak, kumuh, becek, bocor, rawan kebanjiran, dan kebakaran.

Puskoppas Jakarta juga mencatat 146 pasar masih aktif beroperasi dan 7 pasar dialihfungsikan. Jumlah pedagang mencapai 110.480 orang dan 42 persen pedagang maupun lapak dan kios sudah tutup atau tidak aktif.

Sebagai contoh, Pasar Senen Blok 6 yang sudah 8 tahun dibongkar, tetapi belum kunjung rampung sehingga pedagang bertahan di penampungan. Pasar Bendungan Hilir dan Pasar Blok A Fatmawati yang sudah 7 tahun dibongkar mengalami hal serupa.

Tempat penampungan sementara Pasar Blok A Fatmawati bahkan terbakar sehingga sulit untuk berdagang. Kebakaran yang melanda Pasar Cempaka Putih 4 tahun lalu pun belum ditindaklanjuti sehingga pedagang bertahan di penampungan.

Sama halnya dengan nasib Pasar Blok G Tanah Abang dan Pasar Lontar Kebon Melati. Tak kunjung direvitalisasi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Masih ingat Mbah Mijan? Ini kabar terbarunya, pilih ‘gantung jimat’ dan fokus pengobatan alternatif
• 12 jam lalubrilio.net
thumb
Menlu AS Bertemu Pejabat Denmark Bahas Isu Greenland
• 4 menit lalurepublika.co.id
thumb
Pernyataan tegas Manohara Odelia emoh dilabeli ‘mantan istri’, sebut pernikahan dulu bukan sukarela
• 9 jam lalubrilio.net
thumb
Kejari Luwu Turut Andil Cegah Kekerasan dalam Sekolah Melalui Sosialisasi
• 8 jam laluharianfajar
thumb
Suami Komedian Boiyen Dilaporkan atas Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi Rp300 Juta
• 21 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.