KOMPAS.TV - Program Dipo Investigasi menghadirkan kembali 4 peristiwa investigasi sepanjang tahun 2025.
Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia bertemu dengan Yus, seorang penyandang disabilitas yang berjuang mencari bantuan usai rumahnya rusak berat.
Dengan segala keterbatasan fisik dan harus melewati jalanan yang hancur, Yus harus berjalan sejauh 1 km untuk mencari bantuan di tengah bencana banjir yang melanda Aceh.
Yus sehari-hari berprofesi sebagai penarik becak untuk menghidupinya. Ia mendapatkan 50.000 - 100.000 rupiah setiap menarik becak.
Dipo juga menyaksikan warga Aceh Tamiang terpaksa mencuci baju menggunakan air banjir yang penuh lumpur. Warga menuturkan belum mendapat air bersih, sehingga kesulitan untuk minum.
Dipo menelusuri Aceh Tamiang, Aceh. Ia bertemu dengan salah seorang korban banjir yang bernama Najwa.
Menurut Najwa, anak-anak yang berusia lebih dewasa harus menahan lapar untuk menyelamatkan anak-anak yang usianya lebih kecil. Untuk bertahan hidup, mereka terpaksa minum air banjir yang direbus, lantaran tidak ada makanan.
Dari kesaksiannya, saat air banjir mulai meninggi, balok kayu ikut terbawa arus dan menghantam.
“Setiap hari ada orang ngomong, tolong, tolong, kami lapar, setiap hari, om. Tolong, kami lapar, tolong, ada orang sakit, kami nggak bisa tolong. Kami bertahan di situ semuanya. Pak keluarga-keluarga. Suara itu setiap hari, sampai kami teringat, om. Semua ini jadi saksi kami. Nggak bisa ngomong apa-apa kami. Kalau dibilang trauma, trauma kali. Dengan air kami trauma,” katanya.
Selengkapnya saksikan dalam Program Dipo Investigasi di KompasTV.
Penulis : Elisabeth-Widya-Suharini
Sumber : Kompas TV
- banjir
- sumatera
- aceh
- disabilitas
- bantuan



