Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jatim, Wara Renny Sundari meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menyusul masuknya ancaman infeksi influenza A (H3N2) subclade K ke Indonesia.
Dia menyebut respons dini menjadi kunci agar dampak penularan tidak meluas, terutama di wilayah dengan mobilitas tinggi seperti Jawa Timur.
“Ini bukan isu biasa. Super flu menular cepat dan gejalanya mirip flu biasa. Kalau terlambat, dampaknya serius,” kata Wara Renny, Selasa (6/1/2026).
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan hingga akhir Desember 2025, tercatat 62 kasus tersebar di delapan provinsi. Jawa Timur menjadi wilayah dengan kasus tertinggi sebanyak 23 kasus, disusul Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
Wara Renny menyebut posisi Jawa Timur sebagai wilayah strategis dengan kepadatan penduduk dan pintu masuk transportasi yang beragam meningkatkan risiko penyebaran. Karena itu, dia mendorong Pemprov Jatim segera mengaktifkan kewaspadaan dini dan memperkuat koordinasi lintas sektor.
“Jatim ini wilayah strategis. Kalau tidak siap, efeknya bisa meluas,” ujarnya.
Dia meminta penanganan mengacu pada pengalaman pandemi Covid-19 dengan pendekatan promotif, preventif, dan kuratif yang seimbang. Edukasi publik, pemantauan gejala di tingkat komunitas, serta kesiapan fasilitas kesehatan menjadi prioritas.
“Edukasi jangan menunggu kasus meledak. Kesadaran publik adalah benteng pertama,” katanya.
Dari sisi layanan, Wara Renny menekankan kesiapan rumah sakit dan puskesmas agar respons kasus berat berjalan cepat dan terukur. Menurutnya, pengelolaan kapasitas dan alur pasien perlu disiapkan sejak awal.
“Penanganan medis harus cepat, terukur, dan tidak tumpang tindih,” tegasnya.
Sementara itu, juru bicara Kemenkes RI, Widyawati, menyampaikan mayoritas kasus ditemukan pada perempuan dan kelompok anak usia 1 hingga 10 tahun. Kondisi ini memperkuat pentingnya kewaspadaan di daerah dengan kasus tinggi serta perlindungan kelompok rentan.[asg/ted]



