EtIndonesia. Tahun 2026 dibuka dengan rangkaian peristiwa geopolitik berintensitas tinggi. Setelah operasi kilat Amerika Serikat yang berujung pada penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro pada 3 Januari 2026, perhatian Washington dengan cepat beralih ke Iran—sebuah pergeseran fokus yang langsung mengguncang Timur Tengah.
Jika operasi terhadap Maduro dikenal sebagai penangkapan mendadak dan presisi tinggi, maka langkah berikutnya terhadap Iran dipandang dunia sebagai fase eskalasi strategis. Berbagai indikator—politik, militer, hingga sosial—menunjukkan bahwa rezim teokrasi Iran berada di ambang krisis paling serius dalam beberapa dekade terakhir.
Peringatan Terbuka dari Gedung Putih
Pada 4 Januari 2026, Presiden Donald Trump kembali melontarkan peringatan keras kepada Teheran. Berbicara kepada wartawan di atas Air Force One, Trump menegaskan bahwa Amerika Serikat memantau setiap pergerakan di dalam Iran. Dia memperingatkan, setiap upaya kekerasan terhadap demonstran akan dibalas dengan serangan yang menghancurkan.
Nada peringatan itu kian tajam menyusul keberhasilan operasi Venezuela—sebuah preseden yang membuat setiap pernyataan Trump kini dibaca sebagai ancaman operasional, bukan retorika.
Video Berbahasa Persia: Pesan yang Tak Disamarkan
Masih pada 4 Januari 2026, akun resmi pemerintah AS berbahasa Persia merilis sebuah video yang segera viral.
Tokoh utamanya adalah Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, yang secara eksplisit menyebut Maduro: “Kami pernah memberi Maduro kesempatan. Ketika dia memilih keras kepala, ia kehilangan kesempatan itu.”
Pesan tersebut dibaca luas sebagai seruan langsung kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei—sebuah peringatan bahwa “kesempatan” Iran telah habis.
Israel Bergerak: Ultimatum dan Opsi Militer
Tekanan terhadap Iran tidak datang dari Washington saja. Setelah pertemuan dengan Trump pada awal Januari, Perdana Menteri Israe,l Benjamin Netanyahu mengadopsi sikap yang jauh lebih keras.
Dalam pernyataan terbuka, Israel menyampaikan dua tuntutan utama:
- Iran harus memindahkan sekitar 400 kilogram uranium yang telah diperkaya
- Seluruh fasilitas nuklir Iran wajib tunduk pada pengawasan internasional yang ketat dan substantif
Sumber keamanan Israel mengungkapkan bahwa nama sandi operasi terhadap Iran telah ditetapkan sebagai “Tinju Besi”. Netanyahu bahkan dilaporkan menggelar rapat tertutup lima jam dengan para petinggi militer untuk memfinalisasi opsi serangan. Di Yerusalem, diskusi kini bukan lagi soal “apakah”, melainkan “kapan”.
Rencana Gabungan AS–Israel: Target Kepemimpinan
Media Israel melaporkan adanya rencana gabungan AS–Israel yang mencakup operasi pemenggalan kekuasaan dan penangkapan, dengan target langsung Ali Khamenei. Jika penangkapan Maduro terjadi dalam hitungan jam, maka skenario serupa terhadap Teheran dipandang tidak lagi mustahil.
Netanyahu bahkan berbicara langsung kepada rakyat Iran, memuji potensi bangsa Persia dan menegaskan bahwa penghambat kemajuan Iran bukanlah rakyatnya, melainkan rezim ulama.
Elite Iran dalam Mode Bertahan Hidup
Di Teheran, situasi digambarkan oleh pejabat internal sebagai “mode bertahan hidup”. Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menggelar rapat darurat semalaman pada 5 Januari 2026. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian dilaporkan menerima saran ekstrem dari para penasihat ekonominya: melemparkan tanggung jawab kebijakan sepenuhnya kepada Khamenei demi menyelamatkan institusi pemerintah.
Lebih jauh, laporan intelijen yang diungkap The Times pada 5 Januari 2026 menyebutkan bahwa Khamenei telah menyiapkan rencana pelarian. Jika situasi tak terkendali—terutama bila Garda Revolusi membelot—dia disebut siap membawa puluhan orang kepercayaan, keluarga inti, serta aset hampir 100 miliar dolar, menuju Moskow.
“Indeks Pizza” dan Sinyal Perang
Sinyal lain datang dari Washington. Pasca-operasi Venezuela, pesanan pizza di sekitar Pentagon melonjak tajam—fenomena yang dikenal analis sebagai “Indeks Pizza”.
- Gerai Papa John’s dalam radius 3 km mencatat lonjakan hingga 1.250%
- Gerai lain di radius 1–2 km mencatat kenaikan ratusan persen
Lonjakan semacam ini kerap dikaitkan dengan lembur massal pejabat militer menjelang operasi besar.
Pergerakan Militer: Bukti Nyata
Dalam 4–6 Januari 2026, data intelijen sumber terbuka menunjukkan:
- C-17 Globemaster III dan KC-135 tanker bergerak dari AS ke Inggris, lalu ke Timur Tengah
- Salah satu C-17 lepas landas dari Fort Campbell, markas Resimen Penerbangan Operasi Khusus ke-160 (Night Stalkers)—unit yang juga terlibat dalam penangkapan Maduro
- Drone MQ-4C Triton melakukan misi pengintaian di Selat Hormuz dan Teluk Persia
- Divisi Lintas Udara ke-101 dan Resimen Kavaleri ke-75 berada pada status siap tempur
Pengamat menilai pola ini identik dengan transisi menuju operasi ofensif.
Pemberontakan Nasional di Dalam Negeri
Di dalam Iran, gelombang perlawanan rakyat memasuki hari kesembilan pada 6 Januari 2026. Protes telah menyebar ke 174 kota—dari Teheran, Qom, Mashhad, hingga Ilam. Bentrok berdarah, barikade jalanan, hingga milisi sipil bersenjata dilaporkan muncul di sejumlah wilayah. Serangan siber oleh kelompok peretas Iran juga melumpuhkan puluhan situs pemerintah.
Di pusat Teheran, sebuah kelompok bernama “Penjaga Kebangkitan” mengibarkan bendera era Dinasti Pahlavi, menyerukan penggulingan rezim teokrasi. Bahkan, sebagian massa menamai ulang sebuah ruas jalan menjadi “Jalan Donald Trump” sebagai simbol dukungan internasional.
Penutup: Sejarah Dipacu oleh Tekanan
Ketika tekanan eksternal AS–Israel bertemu dengan pemberontakan internal berskala nasional, Iran memasuki fase paling menentukan sejak Revolusi 1979. Bagi banyak warga Iran, suara tembakan di Teheran bukan sekadar konflik—melainkan tanda berakhirnya sebuah era.
Sejarah sedang bergerak cepat. Dan ketika rasa takut lenyap dari hati rakyat, akhir sebuah rezim tirani sering kali tinggal menunggu waktu.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/3161542/original/043729400_1593000862-Ilustrasi_Gajah.jpg)
