Penulis: Fityan
TVRINews – Jakarta
Sektor Pertanian Catat Rekor Pertumbuhan dan Kesejahteraan Petani
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan kedaulatan pangan sebagai pilar utama kebijakan nasional, dengan ambisi mempercepat pencapaian swasembada guna menjamin kemandirian bangsa.
Sejak awal masa jabatannya, Presiden menegaskan bahwa kemampuan memproduksi pangan sendiri adalah prasyarat mutlak bagi kemerdekaan sejati.
"Tidak ada bangsa yang merdeka sesungguhnya jika tidak bisa memproduksi makanannya sendiri," ujar Presiden Prabowo Di Kegiatan Retret Jilid Dua Hambalang Selasa 6 Januari 2026.
Presiden menekankan bahwa fokus pengabdian politiknya adalah memastikan Indonesia mencapai swasembada pangan dalam waktu sesingkat mungkin.
Akselerasi Kebijakan dan Surplus Produksi
Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa dinamika target swasembada terus mengalami percepatan yang signifikan.
Menurutnya, visi Presiden yang semula direncanakan dalam empat tahun, kini dipertajam menjadi target satu tahun melalui langkah-langkah konkret di lapangan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) per November 2025 memperkuat optimisme tersebut. Produksi beras nasional tahun 2025 diproyeksikan menyentuh angka 34,71 juta ton.
Angka ini tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga menciptakan surplus yang memperkokoh fondasi ketahanan pangan nasional.
Kinerja positif ini berdampak langsung pada indikator makroekonomi. Pada triwulan I-2025, Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian melonjak 10,52%, sebuah capaian tertinggi dalam 15 tahun terakhir.
Sektor ini kembali mengukuhkan perannya sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Kesejahteraan Petani dan Stabilitas Stok
Di tingkat produsen, pemerintah memberikan dukungan nyata melalui kebijakan harga dan distribusi. Perum Bulog mencatat penyerapan gabah petani sepanjang 2025 sebagai yang terbesar dalam sejarah perusahaan, dengan harga beli Rp6.500 per kilogram melalui skema any quality.
Upaya ini berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan petani. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Desember 2025 mencapai rekor sejarah di angka 125,35%.
Tingginya angka NTP ini mencerminkan penguatan daya beli petani di tengah stabilnya biaya produksi dan harga jual hasil tani.
Untuk mendukung keberlanjutan produksi, pemerintah juga melakukan reformasi regulasi besar-besaran. Melalui Perpres Nomor 6 Tahun 2025, sebanyak 145 aturan yang menghambat dipangkas demi mempermudah akses pupuk bersubsidi.
Selain itu, penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk sebesar 20% sejak Oktober 2025 telah mendorong kenaikan penyaluran hingga 14%.
Kinerja Ekspor dan Kolaborasi Lintas Sektor
Ketangguhan sektor pertanian Indonesia juga terlihat di pasar global. Sepanjang periode Januari-Oktober 2025, ekspor produk pertanian mencapai US$38,33 miliar, menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar US$18,79 miliar.
Selain menyumbang devisa, sektor ini tetap menjadi penyerap tenaga kerja terbesar dengan total 38,2 juta orang.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi kolaboratif antar-lembaga, mulai dari kementerian terkait, TNI, Polri, hingga para penyuluh di lapangan.
"Ini bukan kerja satu orang, melainkan kerja kolektif kita semua. Namun, apresiasi utama patut diberikan kepada para petani kita yang menjadi ujung tombak di lapangan," pungkas Amran.
Dengan kepemimpinan strategis dan reformasi kebijakan yang progresif, swasembada pangan kini bergeser dari sekadar visi politik menjadi realitas ekonomi yang menopang stabilitas nasional.
Editor: Redaktur TVRINews




