Berpegang Teguh pada Aturan Hidup Sendiri

erabaru.net
2 hari lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Saya membayangkan, pasti ada orang yang akan berkata: “Bukankah hidup ini sudah cukup melelahkan dan membosankan? Mengapa masih harus membuat aturan hidup untuk diri sendiri? Bukankah itu terlalu kaku dan mengikat?”

Setiap fase usia sebenarnya memiliki kata kunci yang sangat penting:
– usia 20 tahun penuh gairah dan semangat membara,
– usia 30 tahun mulai stabil dan alami,
– usia 40 tahun tenang dan berwibawa,
– usia 50 tahun lebih realistis,
– usia 60 tahun lapang dan mantap,
– usia 70 tahun santai dan menikmati hidup.

Di setiap tahap usia, melakukan hal-hal yang “sesuai umur” sebenarnya tidak sulit. Yang sulit adalah seumur hidup tetap setia pada aturan hidup dan prinsip hidup yang kita tetapkan sendiri.

Kehidupan kota besar sejatinya jauh dari kata seindah yang terlihat. Gedung pencakar langit, mobil mewah, pria dan wanita rupawan, para profesional sukses, lampu jalan yang berkilauan, neon warna-warni, aroma kopi yang semerbak, dan arus manusia yang tiada henti—semuanya membentuk permukaan kehidupan kota, sebuah dunia tempat peluang dan cita-cita berdampingan.

Namun di balik gemerlap itu, hasrat terus bergolak, konflik tak pernah berhenti, tipu daya dan kepura-puraan merajalela, perebutan kekuasaan, pemujaan terhadap uang, hubungan antarmanusia yang rumit, serta dingin-hangatnya perasaan sesama. Semua itu lebih menyerupai medan perang tanpa asap mesiu. Di sana ada kegembiraan para pemenang, dan tentu saja air mata mereka yang kalah.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan kota, pernahkah kamu kehilangan kendali atas diri sendiri? Pernahkah kamu tersesat? Ikut hanyut mengikuti arus? Apakah kamu punya aturan hidup dan prinsip sebagai manusia?

Banyak orang mungkin akan mencibir:  “Memangnya aku anak sekolah? Harus hidup sambil menghafal aturan? Untuk apa aturan hidup segala? Aku ini orang dewasa. Aku tahu apa yang kuinginkan dan apa yang tidak kuinginkan.”

Menurut mereka, untuk sukses harus berjuang, dan perjuangan tidak mengenal akhir—terus maju tanpa ragu agar semakin dekat dengan tujuan. Untuk bahagia harus bekerja keras, dan kerja keras menuntut pengorbanan. Keringat dan air mata adalah pembuka kebahagiaan, sementara bunga dan senyum adalah kelanjutannya.

Bukankah hanya orang-orang yang ‘bermasalah’ yang butuh aturan hidup? Membatasi diri hanya akan membuat langkah ke kiri mentok garis, ke kanan terbentur bingkai. Dengan begitu banyak batasan, bagaimana mungkin bisa melakukan hal besar?

Dalam kehidupan nyata, banyak orang hidup tanpa rencana jangka panjang, tanpa target jangka pendek, apalagi aturan hidup dan prinsip. Mereka menjalani hari demi hari, asal senang, asal lewat, ikut kata orang, dan ikut arus.

Ada teman A, awalnya bertubuh ramping, tetapi karena makan dan minum tanpa kendali, dia berubah menjadi sangat gemuk. Lalu karena tubuhnya tak lagi lincah, dia mulai diet dan berolahraga mati-matian. Siklus ini terus berulang.

Ada teman B, karena menuruti hawa nafsu tanpa batas, ingin memiliki semua kecantikan dunia. Melihat satu jatuh cinta pada satu. Akhirnya “api” muncul di belakang, dan dia pun sibuk memadamkan kebakaran demi kebakaran dalam hidupnya.

Ada pula teman C, karena api keserakahan di dalam hatinya tumbuh tanpa kendali, akhirnya membakar dirinya sendiri. Tangannya selalu ingin meraih apa pun yang bisa diraih—yang bukan miliknya pun ingin diambil. Baskom penuh, mangkuk pun penuh, tetapi akhirnya dia hanya bisa duduk di balik jeruji besi, merindukan kebebasan. Seperti pepatah: rumah boleh seribu, tempat tidur malam tetap hanya selebar delapan kaki.

Sebenarnya kita semua tahu, waktu tidak akan pernah bisa diputar ulang. Daripada menipu diri sendiri dengan berbagai andaian, lebih baik sejak awal menjalani hidup sesuai dengan aturan hidup yang kita tetapkan sendiri.

Penulis Jepang Haruki Murakami menetapkan aturan hidup pribadinya sebagai berikut:
– tidak berkata melemahkan diri,
– tidak mengeluh,
– tidak mencari alasan,
– tidur lebih awal dan bangun lebih pagi,
– berlari 10 kilometer setiap hari,
– menulis 10 halaman setiap hari,
– dan hidup seperti orang bodoh.

Sekilas terlihat sangat sederhana.
Tidak berkata melemahkan diri berarti terus menyemangati diri tanpa kendur.
Tidak mengeluh berarti menjaga sikap positif dan memberi sugesti mental yang baik.
Tidak mencari alasan berarti berani menghadapi benar dan salah dengan lapang dada.
Berlari 10 kilometer setiap hari karena manusia adalah bagian dari alam—berlari di antara pepohonan dan bunga membuat tubuh tetap kuat. 

Menulis 10 halaman setiap hari adalah cara menempa diri agar terus berkembang dan tidak kehabisan inspirasi. Hidup seperti orang bodoh berarti tidak memikirkan hal-hal yang membuat tidak bahagia, tidak larut dalam masalah. Siapa tahu, apa yang tampak sebagai kerugian justru adalah keuntungan? Dengan cara itulah kita semakin dekat pada kebahagiaan.

Jika diteliti satu per satu, semuanya memang sederhana. Tetapi menjalankannya setiap hari secara konsisten sama sekali tidak mudah. Kita harus melawan sifat malas dan ceroboh dalam diri, mengatasi kondisi fisik dan kemauan subjektif, serta menghadapi berbagai godaan dan situasi dari luar. Justru karena tidak mudah itulah, hidup yang dijalani berdasarkan aturan sendiri akan tetap berada di jalur yang benar.

Lalu pertanyaannya:  kamu, apakah sudah punya aturan hidupmu sendiri?(jhn/yn)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Buruh Kembali Demo Tolak UMP 2026, Seribuan Aparat Gabungan Siaga di Kawasan Monas
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Infrastruktur Logistik Dongkrak Kinerja Saham RMKE
• 6 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Bekas Dirjen Anggaran Kemenkeu Divonis 1,5 Tahun Penjara dalam Kasus Jiwasraya
• 19 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Mudik Gratis Lebaran 2026 Kapan Dibuka? Siap-Siap Pemprov Jateng Bakal Buka Februari
• 10 jam laludisway.id
thumb
UU APBN 2026 Resmi Dipublikasikan, Pendapatan Negara Dipatok Rp3.153 Triliun
• 10 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.