Saham PT RMK Energy Tbk (RMKE) ditutup menguat pada perdagangan Rabu (7/1/2026) di level Rp6.775 per saham. Dalam 12 bulan terakhir, harga saham RMKE melonjak lebih dari 1.000% secara year-on-year (YoY) dari kisaran Rp486–Rp500 pada awal 2025 hingga sempat menyentuh level tertinggi Rp6.800 per saham.
Penguatan saham ini ditopang oleh penguatan fundamental bisnis logistik batu bara perseroan, seiring meningkatnya peran infrastruktur hauling khusus dan kereta api menjelang larangan pengangkutan batu bara melalui jalan umum di Sumatera Selatan mulai 2026.
RMKE memperkuat ekosistem operasionalnya melalui integrasi hauling road yang menghubungkan area tambang langsung ke fasilitas angkutan utama. Infrastruktur ini menjadi semakin strategis setelah pemerintah menetapkan larangan angkutan batu bara di jalan umum, yang secara struktural meningkatkan ketergantungan pelaku usaha pada jalur hauling khusus dan moda kereta api.
Sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka menengah, RMKE telah menuntaskan pembangunan hauling road baru yang telah terhubung dengan tiga pelanggan baru, yakni PT Wiraduta Sejahtera Langgeng (WSL), PT Duta Bara Utama (DBU), dan Menambang Muara Enim (MME). Ketiga pelanggan tersebut berpotensi menambah volume baru sekitar 3 juta ton pada 2026.
Baca Juga: Ada yang Borong Saham INTA Senilai Rp22,36 Miliar
Untuk mengimbangi peningkatan volume, perseroan juga menyiapkan ekspansi kapasitas infrastruktur. RMKE berencana membangun container yard baru yang menggandakan kapasitas loading station dari 4 juta ton menjadi 8 juta ton per tahun, serta memperluas kapasitas pelabuhan dari 20 juta ton menjadi 28 juta ton per tahun.
Dari sisi kinerja keuangan, penguatan operasional tercermin pada kuartal III-2025. RMKE membukukan operating revenue sebesar Rp546,7 miliar, tumbuh 5,7% secara tahunan. Kontribusi pendapatan tercatat relatif seimbang, dengan segmen coal sales menyumbang 53,5% dan coal services sebesar 46,5%. Seiring pertumbuhan pendapatan, RMKE membukukan laba bersih usaha sebesar Rp138,2 miliar, dengan 81,2% berasal dari segmen jasa perseroan.
Memasuki 2026, RMKE memproyeksikan volume coal services meningkat dari sekitar 8 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 12 juta ton. Dengan optimalisasi aset dan belanja modal yang terukur, perseroan memperkirakan pendapatan mencapai sekitar Rp4,1 triliun dengan laba bersih sekitar Rp800 miliar pada 2026.
Perseroan juga menargetkan penambahan 2–3 pelanggan baru pada 2026, termasuk potensi kontrak berskala besar seiring rampungnya jalur hauling yang terhubung dengan tambang PT Bukit Asam Tbk (PTBA), serta pengembangan kontrak eksisting dengan tambang lainnya.
Baca Juga: Lepas Saham DEWA, Investor Ini Kantongi Cuan Rp232,4 Miliar
“Dengan posisi kas di atas Rp250 miliar dan kinerja yang terus membaik, kami menargetkan pembagian dividen dengan rasio minimum 20%. Nilai dividen tahun ini kami perkirakan dapat melampaui Rp40 miliar dan akan jauh lebih besar dibandingkan tahun lalu, sehingga memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham,” ujar Vincent Saputra, Direktur Utama RMKE.
Sejalan dengan itu, CEO Sucor Sekuritas Bernadus Wijaya menilai penguatan kinerja RMKE ditopang model bisnis yang semakin terintegrasi. “RMKE kini tidak hanya bergantung pada penjualan batu bara, tetapi sudah bertransformasi menjadi pemain logistik terintegrasi dengan infrastruktur hauling road dan pelabuhan yang solid. Ini memberikan stabilitas pendapatan sekaligus membuka ruang pertumbuhan berkelanjutan di tengah pengetatan regulasi angkutan batu bara,” ujarnya.
Untuk mendukung ekspansi, RMKE berencana menerbitkan obligasi pada Februari 2026 dengan target penghimpunan dana sekitar Rp600 miliar. Dengan penerbitan tersebut, perseroan menilai rasio utang atau debt to equity ratio (DER) masih dapat dijaga di level 0,6 kali dan tetap memenuhi ketentuan kredit yang berlaku.




