Pengusaha Curhat Okupansi Hotel Anjlok saat Nataru, Ini Biang Keroknya

bisnis.com
1 hari lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengungkapkan adanya tren penurunan tingkat penghunian kamar alias okupansi hotel pada periode hari raya Natal 2025 dan tahun baru 2026 (Nataru) dibandingkan tahun sebelumnya.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) PHRI Maulana Yusran berujar bahwa hal ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor seperti cuaca ekstrem, daya beli masyarakat yang belum menguat, serta permasalahan harga tiket pesawat.

“Kalau kita bandingkan dengan tahun lalu, lebih sepi. Yang kita lihat agak berbeda itu libur Natal, ya. Itu puncak tertinggi baru tanggal 25, tetapi setelah itu menurun okupansinya,” kata Alan–sapaan akrabnya–kepada Bisnis melalui sambungan telepon, Selasa (6/1/2025).

Dia lantas berujar bahwa pola serupa berlanjut pada momentum malam tahun baru 2026, yang mana keterisian kamar hotel cenderung hanya memuncak pada 31 Desember 2025. Dengan demikian, PHRI mencatat kenaikan okupansi hotel secara signifikan hanya selama 2 hari kalender.

googletag.cmd.push(function() { googletag.display("div-gpt-ad-parallax"); });

Lebih lagi, pihaknya juga melihat bahwa keterisian kamar pada momentum puncak Nataru tersebut hanya berkisar 70%, lebih rendah dari periode puncak umumnya yang bisa mencapai 90%.

“Jadi, kalau kita lihatnya dari sisi sektor akomodasi itu justru menurun, walaupun pemerintah sudah memberikan inisiatif tiket pesawat dan tiket tarif tol, bahkan ada work from anywhere. Namun, dampaknya tidak signifikan kalau dilihat dari data okupansi,” ujar Alan.

Baca Juga

  • PHRI Ungkap Proyeksi Okupansi Hotel 2026, Masih Terhambat Efisiensi Pemerintah?
  • Okupansi Hotel Berbintang Masih Turun 1,07% YoY per November 2025
  • PHRI Sebut Okupansi Hotel Anjlok Sepanjang 2025, Mengapa?

Ketika ditanya perihal faktor penyebab penurunan ini, dia mengidentifikasi faktor cuaca ekstrem di berbagai daerah hingga daya beli masyarakat yang belum pulih.

Secara khusus, Alan menggarisbawahi faktor harga tiket pesawat yang mempengaruhi pergerakan wisatawan antarpulau hingga antarprovinsi. Menurutnya, perbaikan aspek tersebut akan turut mendorong peningkatan okupansi hotel ke depan.

“Bukan hanya sekedar insentif ya, tetapi untuk menurunkan harga tiket. Yang kita perhatikan sekarang juga masalah pesawat delay, cancel, dan lain sebagainya itu menjadi salah satu permasalahan besar dalam libur Nataru kali ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat penghunian kamar (TPK) alias okupansi hotel klasifikasi bintang turun 1,07% secara tahunan (YoY) menjadi 53,89% per November 2025.

Hal ini disampaikan Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini dalam Rilis Berita Resmi Statistik BPS, Senin (5/1/2025).

“TPK hotel klasifikasi bintang pada November 2025 mencapai 53,89% atau mengalami peningkatan secara bulanan sebesar 1,05% poin, tetapi mengalami penurunan secara tahunan sebesar 1,07% poin,” kata Pudji.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Sinopsis Drama China Will Love in Spring, Kisah Cinta Penuh Haru Perias Jenazah dan Gadis Difabel yang Bikin Baper
• 22 jam lalugrid.id
thumb
Basarnas Temukan Jasad Anak Pelatih Valencia di Bangkai KM Putri Sakinah
• 20 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Ketua MK: Meskipun dari Sisi Tertentu Terasa Pahit, Putusan MKMK Obat Bagi Kami
• 17 jam lalukumparan.com
thumb
Pelajar Makassar Raih Gelar Model Putri Kebudayaan Nusantara Sulsel
• 19 jam laluharianfajar
thumb
Guru Besar UNM Nilai 2026 Momentum Big Bang Reformasi Hukum
• 18 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.