Di Ujung Timur, Saya Belajar Pelan-pelan

kumparan.com
1 hari lalu
Cover Berita

Perjalanan pertama saya ke Indonesia bagian timur dimulai di tengah malam, saat sebagian orang masih terlelap. Tujuan saya bukan kota besar atau destinasi wisata populer, melainkan sebuah daerah plosok di Halmahera Timur, Maluku Utara yaitu Buli. Tempat yang belum pernah saya dengar sebelumnya.

Untuk pertama kalinya, saya naik maskapai Garuda Indonesia. Duduk menikmati dinginnya AC di dalam pesawat pada penerbangan tengah malam. Saya memandangi lampu kota yang perlahan menghilang dari jendela. Ada rasa bangga, gugup, dan penasaran bercampur menjadi satu. Ini bukan sekadar penerbangan, tapi langkah awal menuju pengalaman baru yang benar-benar berbeda.

Perjalanan belum selesai ketika pesawat mendarat. Saya melanjutkan perjalanan dengan kapal kecil, menyeberangi laut menuju daratan Halmahera. Angin laut yang kencang, ombak besar yang mengguncang kapal, dan suara mesin kapal yang keras menjadi teman perjalanan. Setelah itu, dilanjutkan dengan perjalanan darat selama enam jam, jalan panjang yang melelahkan, tapi justru membuat saya belajar tentang sabar dan ketahanan.

Di Buli, Halmahera Timur, saya mengalami salah satu momen “pertama kali” yang paling berkesan. Di sanalah saya bertemu dan berinteraksi dengan beberapa pendeta. Obrolan kami sederhana, tapi penuh makna tentang kehidupan di sana, tentang keberagaman, dan tentang cara menjalani hidup dengan tenang di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Pertemuan singkat itu membuka sudut pandang baru bagi saya, bahwa perjalanan bukan hanya soal tempat, tetapi juga tentang orang-orang yang kita temui di sepanjang jalan.

Perjalanan ini terasa lengkap, mulai naik pesawat, kapal kecil, dan perjalanan darat yang cukup panjang. Namun yang membuatnya istimewa bukan sekadar rutenya, melainkan semua hal yang saya alami untuk pertama kalinya. Dari perjalanan malam, laut yang luas, jalan panjang, hingga pertemuan tak terduga di Buli.

Setelah pulang dari Buli, perjalanan saya belum berakhir. Rasa penasaran membawa saya melanjutkan eksplorasi ke Ternate dan Tidore. Di sinilah kekaguman saya pada alam Indonesia khususnya daerah Timur benar-benar mencapai puncaknya. Laut yang begitu jernih, langit yang luas, dan pulau-pulau yang berdiri megah seolah menyambut siapa saja yang datang dengan rasa hormat.

Untuk pertama kalinya, saya merasakan snorkeling di laut sebening kaca. Saat menyelam dan melihat langsung kehidupan bawah laut, saya seperti masuk ke dunia lain, tenang, berwarna, dan jauh dari hiruk-pikuk daratan. Pengalaman itu sulit dijelaskan dengan kata-kata, tapi cukup untuk membuat saya jatuh cinta pada laut timur Indonesia.

Saya juga menyempatkan diri mengunjungi tempat yang selama ini hanya saya lihat di uang kertas seribu rupiah lama. Berdiri di sana, saya tersenyum sendiri. Sesuatu yang dulu hanya berupa gambar di tangan, kini benar-benar ada di depan mata. Rasanya seperti mimpi kecil yang akhirnya terwujud tanpa saya sadari.

Saat akhirnya saya benar-benar sampai dan menoleh ke belakang, saya sadar bahwa perjalanan ke Halmahera Timur, Maluku Utara bukan hanya membawa saya lebih jauh secara geografis, tetapi juga memperkaya cara saya memandang Indonesia dan diri saya sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Komisi D DPRD Kab.Madiun Temukan Rembesan Air pada Proyek Rehabilitasi SMPN 2 Nglames Senilai Rp1,8 M
• 19 jam lalurealita.co
thumb
Kolaborasi Lintas Sektor, Model Baru Pengelolaan Sampah Skema Insentif Digital Terukur
• 20 jam lalugenpi.co
thumb
Posisi Cadangan Devisa Akhir 2025 Naik 800 Juta Dolar AS Setahun
• 5 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Jaksa Minta Nadiem Tak Cari Simpati dengan Penggiringan Opini
• 1 jam laluidntimes.com
thumb
Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp53.900 per Kg, Telur Ayam Ras Rp32.750
• 5 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.