Pemerintah berencana mengekspor beras pada tahun ini seiring proyeksi produksi yang diperkirakan mencukupi. Namun, Guru Besar Institut Pertanian Bogor Dwi Andreas Santoso menilai, ekspor beras secara umum tak akan berhasil karena dua faktor, yakni kualitas dan penurunan produksi.
"Tidak mungkin pemerintah ekspor beras umum tahun ini. Bagaimana bisa kalau harga beras di pasar global Rp 6.500 per kg, sedangkan biaya produksi kualitas beras yang sama sudah lebih dari Rp 14.000 per kg," ujar Andras kepada Katadata.co.id, Selasa (6/1).
Selain itu, menurut Andreas, ekspor beras sulit dilakukan lantaran produksi beras tahun ini akan susut. Produksi beras pada tahun ini diperkirakan susut akibat ramalan El Nino yang dimulai Juni-Juli 2026.
Kondisi kemarau pada medio 2026 akan berlanjut hingga Juli 2027 yang membuat produksi beras tahun depan anjlok. Dengan kata lain, produksi beras 2026-2027 akan mengulang kondisi 2023-2024.
El Nino yang sempat terjadi pada 2023 dan berlanjut pada 2024 membuat volume impor beras Indonesia menembus 4,5 juta ton akibat anjloknya produksi di dalam negeri. Andreas meramalkan produksi beras pada tahun ini akan susut hingga 5% secara tahunan atau sekitar 1,7 juta ton tahun ini.
"Penurunan produksi beras tahun depan bisa lebih besar dari 1,7 juta ton. Itu yang perlu diantisipasi pemerintah sejak saat ini," katanya.
Pemerintah sebelumnya memutuskan akan menyetop impor dan mulai ekspor beras dan jagung pada 2026. Kebijakan tersebut diambil setelah melihat stok akhir tahun lalu dan proyeksi produksi sepanjang 2026.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa mendata cadangan beras di masyarakat pada akhir 2025 mencapai 12,52 juta ton. Angka tersebut sudah termasuk cadangan beras pemerintah sejumlah 3,24 juta ton atau setara dengan kebutuhan beras nasional lima bulan.
"Ketersediaan stok dan produksi secara nasional dipastikan telah kuat dan mampu memenuhi konsumsi masyarakat," kata Ketut dalam keterangan resmi yang dikutip Kamis (1/1).
Ketut meramalkan produksi beras pada tahun ini mencapai 34,7 juta ton yang membuat stok akhir 2026 dapat mencapai 16,18 juta ton. Alhasil, petani beras dapat melakukan ekspor setidaknya 71 ton pada tahun ini.



:strip_icc()/kly-media-production/medias/3161542/original/043729400_1593000862-Ilustrasi_Gajah.jpg)
