Pintu kayu itu berderit saat fajar masih berupa garis tipis di ufuk. Sebelum azan Subuh berkumandang, Muhyadi atau yang akrab disapa Pak Muh (77), sudah terbangun dari ranjang sepinya. Di bawah temaram lampu Desa Batuanten, ia melangkah menuju masjid, sebuah rutinitas yang ia jaga dengan konsisten layaknya detak jantung. Bagi Pak Muh, masjid bukan hanya tempat bersujud, tapi juga persinggahan pertama sebelum ia benar-benar berhadapan dengan dunia yang kian sunyi. Usai shalat, ia tak langsung pulang. Langkah kakinya tertuju pada sebuah warung kecil di dekat masjid yang sudah mulai mengepulkan asap.
Di sana, ia merogoh saku, membeli sedikit lauk untuk sarapan dan bekal sederhana yang akan ia bawa ke sawah. Kembali ke rumah, ia menyantap nasi putih dalam sunyi, ditemani segelas air putih hangat yang ia jerang sendiri. Setelah urusan dapur tuntas, Pak Muh bersiap mengenakan seragam kebanggaannya, sebuah kaus partai berwarna merah yang sudah kusam, caping usang di kepala, dan cangkul yang ia panggul di bahu.
Satu Kilometer Melawan Dua DasawarsaKabut tebal masih menyelimuti jalanan aspal yang terlampau sepi kala Pak Muh mulai melangkah. Jarak satu kilometer berjalan kaki tak ada artinya bagi Pak Muh, jika dibandingkan dengan dua dasawarsa hidup tanpa sang istri. Baginya, satu kilometer adalah perjalanan raga, namun dua puluh tahun adalah perjalanan menahan rindu yang tak kunjung menemui muara. Ia sudah terbiasa tanpa rekan bicara, hanya ditemani suara langkah kakinya sendiri.
Sawah adalah satu-satunya tempat di mana Pak Muh merasa masih berguna. Di sana, ia tak butuh percakapan. Caping dan cangkulnya adalah teman sunyi yang paling setia, caping melindunginya dari amuk terik dan hujan, sementara cangkul menjadi kekuatan tambahan yang membuatnya tetap tegak meski usia terus menggerus tulang.
“Aku ya kepingin sante neng masa tuane, tapi ya ning baen aku bingung nekan neng ngumah langka kegiatan, sepi langka batire, anak putune adoh,” gumamnya.
Baginya, lebih baik lelah diterjang hujan sembari sesekali berhenti untuk mengambil napas di pematang, daripada harus mati perlahan karena menghirup udara kesepian di dalam rumah sendiri.
Luka di Balik Kain BatikKala ufuk jingga mulai memudar, Pak Muh baru terlihat pulang. Bahu kanannya memikul beban kayu bakar, sementara tangan kirinya menjinjing keresek hitam berisi singkong atau hasil bumi lainnya. Setibanya di rumah, ia merapikan kayu-kayu itu di tempatnya, meneguk segelas air untuk memadamkan dahaga, lalu bersiap bersih-bersih diri untuk menyambut Maghrib.
Namun, tantangan terberat bagi Pak Muh bukanlah cangkul yang berat, melainkan waktu setelah ibadah salat maghrib usai. Di bawah lampu rumah yang redup, Pak Muh yang kini sudah rapi mengenakan baju batik setelah salat, duduk menyantap makan malam dengan stok seadanya.
Di saat itulah, pertahanan batinnya sering kali runtuh. Air mata Pak Muh sering kali menetes, jatuh ke atas piringnya. Ia menangis bukan karena rasa makanannya, melainkan karena ruang rindu di hatinya kembali diketuk oleh sunyi. Sang pujaan hati yang telah sirna seolah hadir kembali lewat pintu kenangan, meninggalkan sesak yang tak sanggup ia bendung. Tak ada tisu di meja makan itu. Pak Muh hanya bisa menyeka air matanya dengan ujung lengan baju batik yang ia kenakan, kain yang ia pakai untuk menghadap Tuhan, kini ia gunakan untuk membasuh duka manusiawinya.
Bagi Pak Muh, tidur adalah obat terakhir untuk bertahan. Dalam pejamnya, ia selalu berharap bisa kembali berjumpa dengan sang istri di alam mimpi menyaksikan lagi potongan-potongan kenangan indah yang pernah mereka lalui, sebelum esok pagi ia harus kembali berjalan satu kilometer untuk membasuh sepinya dengan lumpur sawahnya.
Mungkin bagi anak-anaknya di kota, Pak Muh sedang membuang waktu dan biaya di atas lumpur. Namun bagi Pak Muh, satu kilometer perjalanan ke sawah setiap pagi adalah caranya untuk tetap waras sebab sejatinya, ia tidak sedang menanam padi, ia sedang menolak untuk mati dalam kesepian sebelum waktunya tiba.





