MerahPutih.com - Pemerintah Republik Indonesia mencatatkan tonggak sejarah baru dalam diplomasi internasional setelah resmi memiliki aset hotel dan lahan di Mekah, Arab Saudi, yang akan dikembangkan menjadi Kampung Haji Indonesia.
Keberhasilan ini merupakan hasil diplomasi Presiden Prabowo Subianto yang membuka jalan perubahan kebijakan kepemilikan aset asing di Arab Saudi.
Hal tersebut disampaikan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam jumpa pers di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (6/1). Prasetyo mengonfirmasi bahwa Indonesia telah memenangi proses lelang untuk kepemilikan hotel dan tanah di Mekah.
“Ini berkat diplomasi yang luar biasa dari Bapak Presiden sehingga untuk pertama kalinya pemerintah Arab Saudi mengubah aturan agar sebuah negara bisa memiliki aset di Arab Saudi,” ujar Prasetyo.
Ia menjelaskan, Kerajaan Arab Saudi kini telah mengesahkan regulasi baru yang memperbolehkan pihak asing memiliki tanah dan properti di wilayah mereka.
“Saya kira ini menjadi salah satu kado besar bagi bangsa Indonesia dan bagi umat Islam khususnya,” imbuhnya.
Baca juga:
Putra Mahkota Saudi Telepon Presiden Prabowo, Beri Dukungan untuk Indonesia dan Bahas Kampung Haji
Sebelumnya, CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia telah membeli hotel Novotel Thakher Makkah beserta lahan seluas sekitar 5 hektare, yang akan dikembangkan sebagai kawasan terpadu Kampung Haji Indonesia.
Hotel tersebut memiliki 1.461 kamar dengan tiga menara, serta mampu menampung 4.383 jemaah haji Indonesia. Pemerintah juga merencanakan pembangunan 13 menara tambahan, sehingga total kapasitas akan meningkat menjadi 6.025 kamar.
Dengan pengembangan tersebut, Kampung Haji Indonesia diharapkan mampu menampung ribuan jemaah haji Indonesia dengan fasilitas yang lebih terintegrasi, nyaman, dan efisien, sekaligus meningkatkan kualitas layanan haji nasional.
Baca juga:
DPR Soroti Proyek Kampung Haji Indonesia, Transparansi Danantara Jadi Kunci
Rosan menambahkan, lokasi Kampung Haji Indonesia ini sangat strategis karena berada dekat dengan Masjidil Haram, jauh lebih dekat dibandingkan akomodasi jemaah haji Indonesia selama ini yang umumnya berjarak 4,5 hingga 6 kilometer.
Dari sisi investasi, nilai pembelian hotel dan lahan tersebut mencapai sekitar USD 500 juta. Sementara itu, rencana pembangunan lanjutan berupa 13 menara tambahan serta kawasan pusat perbelanjaan diperkirakan membutuhkan investasi tambahan sekitar USD 700–800 juta. (Pon)





