Pemerintah dinilai perlu melengkapi Perum Bulog dengan fasilitas usai panen agar produksi petani awal tahun dapat terserap. Hal tersebut penting lantaran curah hujan tinggi diperkirakan akan berlanjut hingga Februari 2026 yang membuat kualitas jagung rendah.
Mayoritas produksi jagung nasional diserap oleh industri pakan ternak yang membutuhkan kadar air maksimal 14%. Tingginya curah hujan pada masa panen awal tahun membuat proses setelah panen membutuhkan fasilitas pengeringan atau dryer.
"Saat ini Bulog hanya diberikan fasilitas pembelian hasil produksi, belum dilengkapi fasilitas penunjang seperti dryer yang membuat Bulog sulit menyerap semua kualitas jagung petani," kata Ketua Umum APJI Solahuddin kepada Katadata.co.id, Rabu (6/1).
Badan Pusat Statistik meramalkan produksi jagung pada Januari-Februari 2026 mencapai 3,14 juta ton atau naik 30.000 ton dari capaian periode yang sama tahun lalu. Jagung yang dimaksud berkadar air 14% atau khusus dinikmati peternak sebagai bahan baku pakan.
Berdasarkan data BPS, produksi jagung hanya berhasil menembus 2 juta ton pada Maret 2024 selama 2 tahun terakhir. Solahuddin menilai, kondisi tersebut akan terulang pada Maret 2026 lantaran curah hujan tinggi di penjuru negeri pada musim tanam akhir tahun lalu.
Selain dapat menyerap jagung pada musim hujan, Solahuddin menilai fasilitas dryer dapat menambah potensi volume ekspor jagung. Menurutnya, jagung yang masuk pasar global saat ini berasal dari kawasan yang jauh dari industri pakan ternak, seperti Nusa Tenggara Barat.
Namun, minimnya fasilitas setelah panen di NTB membuat volume jagung yang dapat diekspor tertahan. Pada 2025, terjadi surplus produksi sekitar 50.000 ton yang berpotensi kembalu terjadi dan membuka peluang ekspor jagung pada tahun ini.
"Jagung dari NTB biasanya sulit dikirim ke Pulau Jawa akibat tingginya biaya logistik. Karena itu, kami mendorong petani jagung di NTB masuk pasar global agar bisa mendapatkan harga yang baik," katanya.
Pemerintah sebelumnya mempercepat rencana pembangunan 100 Gudang Perum Bulog. Hal itu dilakukan melalui komitmen Surat Keputusan Bersama (SKB) lintas kementerian untuk memperkuat penyerapan gabah dan jagung petani di dalam negeri.
Pembangunan gudang tersebut dilakukan di seluruh Indonesia dan akan menggunakan anggaran sebesar Rp 5 triliun. Pembangunan dilakukan secara bertahap untuk memastikan percepatan penyerapan hasil panen, khususnya gabah dan jagung dari petani.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional I Gusti Ketut Astawa sebelumnya menilai ada potensi ekspor jagung sekitar 52.900 ton pada tahun ini. Sebab, stok jagung pada akhir tahun lalu mencapai 4,58 juta ton.
"Impor jagung untuk pakan, benih, dan rumah tangga dipastikan tidak ada pada 2026," ujarnya.



