JAKARTA, KOMPAS.com - Selama hampir empat dekade, ratusan warga RW 01 Klender hidup di ruang-ruang sempit yang berada beberapa meter di bawah permukaan Jalan I Gusti Ngurah Rai, Jakarta Timur.
Di tengah laju pembangunan kota yang kian masif, permukiman padat ini seolah tertinggal terperangkap di antara dinding beton jalan raya, rel kereta, dan aliran Kali Sunter.
Bagi warga RW 01 Klender, harapan mereka sebenarnya sederhana hunian yang lebih layak, lebih sehat, dan tidak jauh dari tempat tinggal sekarang.
“Kalau bisa dibangun hunian vertikal. Yang penting tempatnya jelas dulu,” kata Ketua RW 01 Klender, Rahmat Satriono (60) saat ditemui di Sekretariat RW 01, Senin (5/1/2026).
Ia berharap pemerintah hadir bukan hanya dengan rencana, tetapi langkah nyata.
“Masalah utama di sini bukan cuma posisi permukiman yang rendah, tapi pola hidup dan sanitasi yang tidak terpetakan. Lingkungan ini butuh penataan total,” tutur dia.
var endpoint = 'https://api-x.kompas.id/article/v1/kompas.com/recommender-inbody?position=rekomendasi_inbody&post-tags=Jakarta, indepth, permukiman jakarta, rumah di bawah jalan, permukiman padat klender&post-url=aHR0cHM6Ly9tZWdhcG9saXRhbi5rb21wYXMuY29tL3JlYWQvMjAyNi8wMS8wNy8wNTM2MzAwMS80LWRla2FkZS10aW5nZ2FsLWRpLWJhd2FoLWphbGFuLWJlc2FyLXdhcmdhLWtsZW5kZXItbWVuYW50aS1odW5pYW4tbGF5YWs=&q=4 Dekade Tinggal di Bawah Jalan Besar, Warga Klender Menanti Hunian Layak§ion=Megapolitan' var xhr = new XMLHttpRequest(); xhr.addEventListener("readystatechange", function() { if (this.readyState == 4 && this.status == 200) { if (this.responseText != '') { const response = JSON.parse(this.responseText); if (response.url && response.judul && response.thumbnail) { const htmlString = `Baca juga: Potret Permukiman Padat di Klender, Hidup 3 Meter di Bawah Jalan dengan Infrastruktur Minim
Terbentuk sejak awal 1980-anRahmat telah menjabat sebagai Ketua RW 01 Klender selama lebih dari dua periode.
Ia menjadi saksi hidup bagaimana kawasan permukiman di bawah jalan ini terbentuk dan bertahan hingga hari ini.
“Warga mulai menempati area ini sekitar tahun 1980 sampai 1985. Warga lama semua, warga asli sini,” kata Rahmat.
Menurut dia, posisi permukiman yang lebih rendah bukan akibat jalan yang ditinggikan belakangan.
Sejak awal, kontur Jalan I Gusti Ngurah Rai memang lebih tinggi dibandingkan lahan di sekitarnya.
“Dari dulu memang sudah begitu. Jalannya memang tinggi dari awal. Di sini banyak got utama dari simpang ada yang di sebelah rel, ada yang di sebelah jalan. Di bawahnya itu kemudian dimanfaatkan warga buat bangunan,” ujar Rahmat.
Seiring waktu, got-got besar yang dulu menjadi bagian dari sistem drainase kawasan itu kian tertutup bangunan. Fungsinya pun perlahan menurun.
“Gotnya sekarang sudah tidak berfungsi optimal. Air memang masih mengalir, tapi sanitasi sudah mati,” kata dia.
Baca juga: Permukiman Padat di Klender Hadapi Krisis Sanitasi, Got Mati hingga Limbah ke Kali
Permukiman di bawah jalanRW 01 Klender memiliki luas hampir enam hektare. Namun, sekitar 40 persen wilayahnya digunakan untuk sekolah dan perkantoran.
Permukiman yang berada di bawah permukaan jalan terkonsentrasi di RT 06, RT 07, dan RT 12.
“Itu yang paling kelihatan rendah posisinya, terutama di area belokan dekat sekolah, halte, dan jalan Gusti Ngurah Rai,” kata Rahmat.
RT 06, menurut dia, masih relatif lebih tinggi sehingga jarang tergenang air. Namun, kondisi berbeda terjadi di RT lain.
“Yang lain gotnya sudah mati,” ujarnya singkat.
Soal banjir, Rahmat menyebut wilayahnya jarang mengalami banjir besar. Namun, limpasan air kerap muncul saat hujan deras.
“Sebenarnya kalau dibilang banjir besar sih enggak. Tapi air suka keluar kalau hujan deras,” katanya.




