Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bireuen, Aceh, memutuskan untuk tidak membangun Hunian Sementara (Huntara) bagi korban banjir bandang. Sebagai gantinya, pemerintah setempat akan langsung membangun Hunian Tetap (Huntap) mandiri bagi ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal mereka.
Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan aspirasi masyarakat yang menginginkan hunian permanen daripada bangunan sementara yang dinilai kurang efektif. Masyarakat mengeluh jika dibangun Huntara karena bukan permanen. Dengan adanya pembangunan Huntap mandiri ini, itulah rumah masa depan bagi mereka. Hingga memasuki hari ke-40 pasca-bencana, ribuan warga masih bertahan di kamp pengungsian yang disediakan pemerintah.
Saat ini, Pemkab Bireuen tengah mempersiapkan skema pembangunan Huntap mandiri yang ditargetkan bagi 3.693 keluarga korban bencana banjir bandang dan tanah longsor. Langkah ini diambil agar warga memiliki kepastian tempat tinggal yang layak untuk jangka panjang.
Baca juga: Waspada Cuaca Ekstrem, BNPB Intensifkan Operasi Modifikasi Cuaca di Wilayah Sumatra
Kondisi di pengungsian yang semakin memprihatinkan membuat warga mendesak pemerintah untuk segera merealisasikan pembangunan rumah tersebut. Apalagi, warga mulai mengkhawatirkan kondisi anak-anak di tenda yang panas serta keterbatasan akses air bersih menjelang bulan suci Ramadhan.
"Harapannya dibuat rumah secepatnya. Apalagi sudah mau puasa, kami panas di sini, air kurang, kasihan anak-anak," ungkap salah satu warga di lokasi pengungsian.
Pihak Pemkab Bireuen menegaskan bahwa Bupati terus berupaya semaksimal mungkin untuk menindaklanjuti aspirasi masyarakat. Meski tidak mengusulkan Huntara, pemerintah fokus pada percepatan Huntap agar para korban bencana dapat segera kembali hidup normal di rumah mereka masing-masing.




