Warga tampak memadati jalan-jalan Teheran, Iran, Senin (5/1/2026), ketika protes pecah menyusul anjloknya nilai mata uang. Gelombang unjuk rasa antipemerintah ini dipicu krisis ekonomi berkepanjangan yang memburuk sejak akhir Desember, diperparah tekanan eksternal berupa ancaman intervensi Amerika Serikat serta dampak serangan Israel–AS terhadap fasilitas strategis Iran pada pertengahan 2025. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
2/6Perekonomian Iran telah lama terpuruk akibat sanksi Amerika Serikat yang membatasi ekspor minyak, transaksi perbankan, dan akses ke sistem keuangan global. Kondisi tersebut semakin parah setelah serangan Israel yang didukung AS pada Juni lalu, yang memicu ketidakpastian politik dan mengguncang kepercayaan pasar. Nilai mata uang rial dilaporkan terus melemah, mendorong lonjakan harga kebutuhan pokok dan menekan daya beli masyarakat. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Protes yang bermula di Teheran dan menyebar ke sejumlah kota di wilayah barat dan selatan Iran awalnya dipicu oleh tuntutan ekonomi, termasuk kenaikan harga pangan, pengangguran, dan merosotnya standar hidup. Namun dalam waktu singkat, unjuk rasa tersebut berkembang menjadi ekspresi kemarahan politik yang lebih luas terhadap kepemimpinan Republik Islam. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
4/6Seorang pejabat Iran mengatakan kombinasi tekanan ekonomi domestik dan ancaman eksternal telah mempersempit ruang manuver pemerintah. “Kami menghadapi kemarahan publik akibat krisis ekonomi, sementara di saat yang sama harus mengelola ancaman dan tuntutan keras dari Washington,” ujarnya kepada Reuters, Selasa (6/1/2026). (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Pemerintah berupaya meredam gejolak dengan kebijakan bantuan sosial. Presiden Masoud Pezeshkian menjanjikan reformasi untuk menstabilkan sistem moneter dan perbankan serta melindungi daya beli masyarakat. Mulai 10 Januari, pemerintah akan menyalurkan tunjangan bulanan sebesar 10 juta rial per orang dalam bentuk kredit elektronik yang hanya dapat digunakan di toko bahan makanan tertentu. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
6/6Namun, para pejabat dan pengamat menilai langkah tersebut bersifat sementara dan belum menyentuh akar persoalan struktural ekonomi Iran, yang mencakup ketergantungan pada minyak, inflasi tinggi, serta dampak berkepanjangan sanksi internasional. Selama tekanan eksternal dan ketidakpastian politik terus berlangsung, tantangan ekonomi diperkirakan tetap menjadi sumber utama ketegangan sosial di Iran. (Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)


